Religiusitas Wayang Potel DAKWAH DAN PEMBELAJARAN ALTERNATIF PADA MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Keterangan:
Penulis : Dr. KH. IBROHIM NAWAWI, S.Ag, M.Pd.I
Judul : Religiusitas Wayang Potel DAKWAH DAN PEMBELAJARAN ALTERNATIF PADA MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Halaman : 276 halaman
Ukuran : 14x20cm
Wayang Potel adalah salah satu wayang kreasi yang digunakan untuk berdakwah. Wayang ini merupakan transformasi dari wayang kulit purwa ke dalam wayang golek. Jika wayang golek itu terdiri dari golek purwa, golek menak, golek panji dan golek cepak maka wayang potel ini adalah pengembangan dari wayang golek purwa. Namun memiliki beberapa perbedaan. Pertama, bahan dasarnya tidak sebagaimana wayang golek pada umumnya yang terbuat dari kayu. Bahan untuk membuat wayang ini terbuat dari limbah kertas lalu direndam, dibubur, dicampur dengan lem kemudian dibentuk wayang sesuai yang dikehendaki.
Kedua, tokoh-tokoh wayang potel ini didominasi oleh punawakan gagrak Indramayu dan Cirebon yaitu ada Sembilan punawakan. Punakawan tersebut adalah Semar, Cungkring, Gareng, Bagong, Curis, Bitarota, Ceblok, Dawala, dan Bagalbuntung.
Ketiga, lakon yang disampaikan lebih banyak lakon carangan daripada lakon pakem, lakon sempalan ataupun lakon banjaran.
Keempat, durasi dan setting pertunjukan tidak seperti wayang biasanya. Wayang Potel hanya memerlukan waktu pertunjukan sekitar 2 sampai 3 jam tidak semalam suntuk. Tempat pertunjukan tidak melulu di pemakaman pada acara tradisi semata namun sudah biasa pada lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti masjid, mushola, perguruan tinggi dan pondok pesantren.
Acaranya tidak hanya seni-tradisi dan hajatan keluarga semisal, sedekah bumi, mapag sri, ngunjung, nadran, pernikahan, khitanan dan rasulan namun juga pada acara-acara PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) seperti Maulid Nabi, Isro' Mi'roj, Nuzulul Qur'an, Imithan, Halal Bi Halal. Pada pertunjukannya tidak harus menggunakan panggung, lesehan atau langsung bersentuhan dengan tanah pun bisa dilaksanakan.
