Memeluk Luka Batin
Setiap orang akan mengalami titik terendah di mana terjadi puncak luka. Pada titik itu,
rasanya ingin lari sejauh-jauhnya, berteriak di puncak gunung atau menenggelamkan diri
ke dasar lautan. Rasanya, tak ada manusia paling menyedihkan di muka bumi ini kecuali
diri kita. Air mata membanjir, meratapi nasib yang begitu malang, menyakitkan, dan memilukan.
Kesedihan pun terus berlarut seolah air mata tak mungkin terhenti.
Memang, melupakan secara total luka batin tidaklah mungkin karena momen buruk akan
tersimpan rapi di dalam amigdala. Sebaliknya, kita justru perlu memeluk luka batin, mengakui
sebagai bagian dari perjalanan hidup, mengikhlaskan, serta mengambil hikmah di balik peristiwa
yang menyakitkan. Memang tidak mudah, dan membutuhkan proses panjang. Tapi, dengan
keyakinan bahwa akan ada momen manis setelah momen pahit, semua bisa berlalu.
Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk segera pulih dari luka batin. Bayangan buruk
akan masa depan kerap menghantui. Ada kalanya seseorang pesimis untuk pulih karena merasa
tidak ada dukungan dari orang sekitar. Akan tetapi, sebesar apapun dukungan pihak luar, jika dalam
diri sendiri tak berupaya pulih, maka luka itu akan tetap bersarang dalam batin. Dari sini, self healing
atau proses penyembuhan luka batin dengan pelibatan diri sendiri sangatlah penting.
KETERANGAN BUKU:
Judul: Memeluk Luka Batin
Penulis: Ikhtiyatoh
Jumlah Halaman: 118 halaman
Ukuran: 14x20 cm
