blog Details

blog

Jurnalisme Budaya: Mereka yang Terus Menyalakan Api Kebudayaan

APA itu jurnalisme budaya? Menurut Kristina Riegert, Profesor Jurnalisme dari Södertörn University Swedia, jurnalisme budaya sebagai subbidang jurnalisme yang mencakup jurnalisme seni. Meskipun jurnalisme seni identik dengan ulasan, kritik, berita, dan esai tentang seni dan budaya populer, jurnalisme budaya memiliki pandangan lebih luas mengenai budaya, termasuk isu gaya hidup, debat budaya di masyarakat, dan diskursus sastra dan budaya.
Maya Jaggi, jurnalis dan kritikus budaya asal Inggris menyebut, jurnalisme budaya sebagai genre jurnalisme yang memberikan perhatian utama pada seni dan karya kreatif, termasuk pada individu, lembaga, dan kebijakan yang mendukungnya. Ruang lingkup jurnalisme ini tidak hanya mencakup seni sastra, seni visual, musik, film, teater, tari, fotografi, arsitektur, dan desain. Tetapi juga mencakup “high culture” seperti kesenian tradisional dan kebudayaan rakyat atau folk art, kemudian melebar ke ranah seni populer dan hiburan massal dalam bentuk film populer, radio, televisi, dan permainan komputer.

Dua pendapat di atas menegaskan bahwa jurnalisme kebudaya bukan sekadar mengulas atau meliput acara seni dan budaya. Lebih dari itu, jurnalisme budaya juga menganalisis kompleksnya tradisi budaya, industri budaya, politik budaya, hingga evolusi budaya. Namun ada kekhawatiran, bahwa akhir-akhir ini jurnalisme budaya cenderung jauh dari upaya merawat kebudayaan seiring mengemukanya bentuk baru industri budaya yang memprioritaskan logika ekonomi dibanding logika seni.
Kersten & Janssen mengungkap, berbagai penelitian melaporkan bahwa jurnalisme budaya semakin kehilangan fokus pada layanan dan hiburan dibandingkan liputan seni yang serius. Pers semakin memprioritaskan budaya populer dibanding seni tradisional. Namun, pergeseran perhatian jurnalistik ini tidak serta-merta berarti penurunan standar estetika, karena bentuk budaya populer seperti film telah berkembang sejalan dengan prinsip seni tinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan, tetapi kekhawatiran jurnalisme budaya semakin meningkatakan high culture karena pop culture lebih diminati generasi kekinian. Buku kumpulan liputan/ulasan kebudayaan di buku ini terasa kompleks. Dimulai dengan mengulas tentang bahasa dan literasi sebagai akar keberlanjutan budaya, kemudian “mengangkat batang terendam” berbagai budaya high culture Riau, serta memberi ruang (baru) bagi keberagaman seni baik tradisional maupun populer: seni sastra, seni rupa, hingga film, musik, dan panggung.

Dr. M Badri
Akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau

KETERANGAN BUKU:

Judul: Jurnalisme Budaya: Mereka yang Terus Menyalakan Api Kebudayaan

Penulis: Hary B Kori'un

Jumlah Halaman: 441 halaman


Ukuran: 14x20 cm

Social Share :


Search Blog

Latest News