Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Review Buku I Child Called 'IT' karya Dave Pelzer

 Review pertama setelah sekian tahun berjibaku dengan cerbung 😁 semoga tidak salah langkah.



...


Judul buku; I Child Called 'IT'

      Penulis; Dave Pelzer

    Penerbit; PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005.


...


Kisah ini sungguh terjadi, bahkan mungkin ada di sekitar yang sialnya kita tidak menyadari. A Child Called 'It' adalah gambaran, betapa kita harus peduli kepada anak-anak, pada tumbuh kembang mereka, juga tentang menjadi seseorang yang harus memutus mata rantai tersebut agar tidak ada anak seperti David lagi.


A Child Called 'It' menggunakan sudut pandang orang pertama sehingga kita seolah-olah mengalaminya sendiri. Menjadi David kecil yang disiksa ibunya, dijadikan budak, disuruh melakukan semua pekerjaan rumah, tidak diberi makan sampai sepuluh hari dan yang paling menyakitkan, dianggap tidak ada keberadaannya. Merasa sendirian.


Kisah ini diawali dengan David yang langsung dihujani tamparan oleh ibunya karena 'terlambat' dari tenggat waktu yang ditentukan saat melakukan tugas harian yaitu mencuci piring. Aku bertanya kepada diri sendiri, kenapa tokoh aku di sini harus menerima banyak siksaan hanya untuk mendapat jatah sarapan dan yang lebih menyesakkan, makanan tersebut adalah sisa dari saudara-saudaranya. Lalu, kenapa HANYA DAVID yang menerima perlakuan seperti itu? Ibu macam apa yang tega memberi 'hukuman' kejam kepada putra yang dilahirkannya? Juga pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin bisa terjawab jika aku membaca sekuel lanjutannya The Lost Boys, kemudian A Man Named Dave.


Awalnya, kukira ini sedikit dilebih-lebihkan demi meraup banyak simpati pembaca. Namun, setelah ditelusuri, ternyata A Child Called 'It' adalah kisah nyata dan berada di urutan ketiga terparah di California. Luar biasa! Kisah yang bikin merinding hingga tergugu pilu. Jika kalian berpikir, tamparan di awal sudah jahat, di bagian berikutnya akan kalian temui penyiksaan yang di otak waras sekali pun tidak akan habis pikir. Tangan dibakar di atas kompor, dijejali cairan amonia, dikurung di kamar mandi dengan gas beracun, kena tusuk, bahkan disuruh memakan kotoran adiknya. Serius, kotoran bayi. Membayangkannya saja sudah membuat perut bergejolak, bagaimana dengan David yang mengalaminya? Dan, yang membuat makin pilu, tidak ada yang menolongnya. Ayah, kakak-kakaknya, diam menyaksikan kekejaman yang dilakukan oleh sang ibu.


Ada di mana ketika aku benar-benar ikut menangis untuk seorang David yang malang, adalah ketika David kecil baru saja kena tusukan pisau dari sang ibu. Apa yang dilakukan ayahnya? Menyuruh David kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan! Apa dia tidak melihat, darah bercucuran hingga baju berubah merah? Jika kemudian kebencian tersebut berbalik kepada ayahnya, sangat diwajarkan. Terutama saat kita benar-benar berharap, tapi seseorang itu menoleh pun tidak.


Karena A Child Called 'It' menggunakan sudut pandang pertama, maka kita hanya melihat dari sudut orang pandang David kecil. Tidak diceritakan kenapa hanya David yang menerima perlakuan buruk, tidak dengan saudaranya yang lain. Atau, seperti yang kuungkap di atas, kita memang perlu membaca buku kedua dan ketiga dari Dave Pelzer. 


Ada kutipan dari buku ini yang menarik menurutku. Bunyinya begini, "Kisah ini lebih daripada sebuah kisah mempertahankan

kelangsungan hidup. Kisah ini merupakan sebuah cerita kemenangan. Bahkan dalam saat-saat yang paling kelam pun, kemauan hiduplah yang berusaha tak kunjung padam.

Perjuangan fisik mempertahankan kelangsungan hidup memang penting, tetapi yang lebih penting dan bermakna lagi adalah mempertahankan semangat agar tetap hidup."


Ya, semangat untuk hiduplah yang membuat bertahan. Seperti yang terjadi pada saat ini, sangat relevan jika kita benar-benar berjuang keras melakukan segala upaya demi bertahan hidup. Gambarannya, ada orang yang semula mengolok masker, bilangnya, "hanya mereka yang berwajah jelek yang memakainya." 


Lalu apa yang terjadi? Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir seluruh penduduk di muka bumi ini mengenakannya agar terhindar dari virus yang mematikan. Rela menjaga jarak, hingga anak-anak pun terpaksa dilarang beraktivitas di luar rumah. Belajar daring.


Kembali ke A Child Called 'It', sebenarnya, yang perlu kita lakukan adalah memastikan agar tidak ada lagi yang bernasib seperti David dengan cara mencoba peduli kepada anak-anak di lingkungan sekitar. Memastikan mereka tumbuh bahagia tanpa memiliki kecemasan-kecemasan tentang hari esok, serta tidak merasa sendirian. Karena di kisah David ini, hal paling menyakitkan itu ketika dia tidak memiliki siapa pun yang membelanya. Tidak ayahnya yang selalu dia harapkan untuk menolong, tidak juga saudaranya yang diam saja melihat perlakuan kejam sang ibu kepada dirinya.


Hasil akhir yang bisa kita dapatkan dari buku ini adalah, sekelam apapun hidup yang kita jalani, kita bisa mengambil sisi baiknya dan menjadi pemenang dengan cara mengubah tragedi menjadi kekuatan.


Izinkan aku mengungkap satu lagi bagian menarik dari buku ini sebelum mengakhirinya, yaitu ketika David kecil mengatupkan tangan di saat saudara-saudaranya yang lain memakan hamburger, sedangkan dirinya berdoa kepada Tuhan minta dibebaskan dari rumah neraka tersebut. Di bagian kini aku seolah-olah merasa keputus asaan mendalam serta permohonan tulus dari jiwa yang amat-sangat lemah, tengah berada di titik paling dasar. Hingga, cerita pun selesai ....


Eits, belum ... karena di pungkasan kisah kita akan melihat David yang telah bangkit dari masa-masa kelamnya, sekaligus mengajak kita untuk membaca sekuel selanjutnya.


Buku ini menarik meski perlu beberapa kali skip agar aku tidak muntah karena membayangkannya. Kadang, aku juga dibuat ngeri dengan gambaran penyiksaan sang ibu yang jahatnya enggak ketulungan, tapi lainnya cukup bagus. Aku beri nilai 7/10 karena hal positif yang coba diungkap penulis. Bahwa keteguhan hati sangat diperlukan dalam bertahan.


Kita bisa memetik pelajaran dari David kecil yang tidak putus asa dan menjadikan masa lalu sebagai cambuk masa depan.

Posting Komentar untuk "Review Buku I Child Called 'IT' karya Dave Pelzer"