Google+ Followers

Jumat, 09 Maret 2018

Mengenal Lebih Dekat Perihal Sastra Indonesia Angkatan 45





Selamat pagi, semangat pagi, dan salam literasi!

Sudah lama tak berjumpa, rasanya laksana seorang jomblo merindukan mantan, eh lho? ‘-‘

Baiklah daripada kita membahas perihal mantan dan jomblo yang tiada gunanya, lebih baik kita bahas tentang Sastra Angkatan 45, yuk!


Kalau diakui, pada periodesasi sastra angkatan 45 Min Tan belum lahir, namun tidak ada salahnya berbagi perihal sastra yang begitu amat dicinta bagi pecandu sastra di seluruh nusantara, ya nggak gaes?


Pada sastra Angkatan 45, Indonesia sedang digempur segala carut marut kepenjajahan Jepang. Yakni 76 tahun yang lalu: tahun 1942. Bayangkan saja, para sastrawan memperjuangkan sastra Indonesia sekaligus memperjuangkan Tanah Air, sang ibu pertiwi.


Corak sastra yang timbul pada angkatan 45 yaitu coraknya lebih realis ketimbang karya sastra Angkatan Pujangga Baru. Melihat corak pada Angakatan 45 ini mengingatkan Min Tan Pada novel karya Tere Liye dan Andrea Hirata. Kenapa demikian? Karena sepengamatan Min Tan dari kedua karya sastrawan tersebut persis dengan corak yang lahir pada Angkatan 45. Coraknya diwarnai dengan unsur pengalaman hidup, gejolak sosial, politik, dan budaya yang terjadi di Tanah Air.


Asal muasal corak ini timbul karena adanya reaksi terhadap sastra yang menghamba pada pemerintahan Jepang di Indonesia. “Kacung Jepang” itulah sebutan untuk beberapa sastrawan yang bergabung dalam Keimin Bunka Shidosho.


Apa itu Keimin Bunka Shidosho?


Keimin Bunka Shidoso adalah sentral kebudayaan yang didirikan secara resmi oleh pemerintah Jepang pada tahun 1943. Keimin Bunka Shidoso terdiri dari berbagai aliran seni seperti sastra, musik, tari, drama, film, dan seni murni.

Kalau dilihat dari gaya sastra, ceileh … sastra juga punya gaya, Min? Iya dong harus punya :p karena hidup ini penuh gaya ‘-‘ kata temen,”nggak gaya, nggak keren.” [WARNING] Jangan tiru adegan ini. Lebih baik sedikit gaya, tetapi segudang karya. Ya nggak gaes? :D


Oke,

ikan hiyu,

ikan cucut,

yuk!

Lanjut!


Kalau dilihat dari gaya sastra, Angkatan 45 ini lebih bersifat wajar selayaknya kehidupan yang sebenarnya, lebih menonjolkan analisis kejiwaan ketimbang analisis fisik mealui percakapan antar toko, ekspresif, revolusioner, dan nasionalis. “Tidak berteriak tetapi melaksanakan” itulah kira-kira kalimat popular yang menggambarkan sastrawan pada  Angkatan 45. Beberapa sastrawan angkatan 45 antara lain: Chairil Anwar, Asrul Sani, RivaiApin, Idrus, Achdiat Karta Miharja, Trisno Sumardjo, dan Utuy Tatang Sontani.


Sekian kiranya artikel dari Min Tan kali ini. sampai ketemu di lain kesempatan, papay!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI