Google+ Followers

Senin, 29 Mei 2017

Suatu Pagi Di Dermaga

Suatu Pagi Di Dermaga

Khairani Pinaliang

"Nak apa ke sini, Pipit Kecil?" Randu berkata seolah suaranya adalah
angin. Setengah menyipit, mata indah Lintang yang berbulu
panjang dan lentik menatap tajam Randu.
"Masih bertanya setelah ingin meninggalkanku tanpa pamit,
maksudnya apa, hah?" sergah Lintang sengit.
Randu hanya berdiri mematung sesaat. Hanya sesaat. Sedetik
kemudian tangannya mulai terangkat meraih jari-jemari Lintang,
lalu menyelipkan sesuatu di baliknya.
"Aku tahu kau akan ke sini. Segera simpan dan buka nanti di
benteng, aku akan menyuratimu selanjutnya."
(Suatu Pagi di Dermaga)

Bagi kalian berdiri di tengah keluarga yang masih utuh,
mungkin sangat menyenangkan. Tapi kesenangan bagiku adalah
ketika aku bisa menghitung jumlah bintang saat malam sedang
cerah, meskipun mataku akan berair karenanya. Dan itu sudah
kulakukan sejak lama. Sejak aku bisa menggambar wajah kedua
orangtuaku dengan kerlip cahayanya.
Walau itu tak sebagus lukisan di kanvas.
(Bukan Cinta Biasa)

Sudah gelas kesekian, kembali kau seduh. Matamu masih
nyalang karenanya. Berpuluh puntung beracun masih saja tak
henti-hentinya kau hisap, serupa asap kereta uap yang berjalan di atas
rel yang tak putus-putus. Pikiranmu terus saja menerawang dalam
malam yang bisu. Ada sebilah rasa sakit di sana. Belum bisa kau
urai, namun keangkuhanmu mematikannya.
(Pagi Tanpa Hujan Di Musim Hujan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI