Google+ Followers

Kamis, 16 Maret 2017

Sepasang Rasa yang Utuh

Sepasang Rasa yang Utuh

Aris Ramayuda

"Kau tahu pula, Nak? Betapa tentramnya kita yang terhindar dari terik matahari saat kita sedang berdiri di bawah rimbunan dedauan pohon Ginkgo ini. Ia memberikan keteduhan. Juga memberi kesegaran.
Namun berbilang waktu, dedauan yang kemarin rimbun kini satu persatu menguning sebelum akhirnya jatuh ke bumi. Ia tidak membenci keadaan. Tidak pula membenci kenapa musim gugur itu harus terjadi. Tugasnya hanya menikmati fase hidupnya. Menerima hukum alam yang menerpanya. Begitu pula sejatinya manusia. Ada fase dimana ia bahagia dan merasa memiliki. Namun adakala ia harus rela dengan melepaskan semua yang ia dapati.
Semuanya akan sirna, Nak. Jika manusia berbilang waktu, ia akan mati. Jika berbicara rasa, berbilang waktu ia akan menghilang. Tugasmu bukan menunggu kapan rasa itu mnghilang dan pergi. Tapi tugasmu seperti aliran air, ataupun pohon Ginkgo yang indah ini. Tugas kita satu, menikmati dan bersyukur meski seberat apa pun fase yang harus kita lalui. Tenang, dan ikhlas. Dengan begitu kita tak akan pernah tahu apa itu kebahagiaan, kesenangan, kegembiraan. Tanpa ada kata sedih atau kehilangan.
Semoga kita memahami. Hingga tiada lagi terdengar kesedihan dan kutukan terhadap takdir. Karena sejatinya hidup adalah serangkaian rasa yang saling melengkapi tersusun menjadi sebuah cerita yang sangat berguna sebagai bekal pemahaman bagi anak cucu kita. Atau kepada siapa saja, siapa saja orang yang kita sayangi. Dan terlebih yang kita cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI