Google+ Followers

Kamis, 02 Februari 2017

Toko Topeng

Pagi sekali, aku sudah ada di keramaian pasar. Menelusuri jalan becek sisa hujan semalam. Sesekali aku mengamati sekitar, mencari bahan buat tulisan, selagi aku menuju ke arah toko topeng langgananku di pojok pertigaan belakang komplek pasar.

Sebagaimana umumnya pasar yang tidak hanya ramai oleh suara yang hampir tak bisa disaring, tapi juga tempat berkumpulnya segala macam bau. Dari yang sedap sampai yang menyengat. Sampah-sampah berjejer di sudut-sudut jalan, seperti penumpang yang tengah menunggu bus di halte. Mereka pun tengah menunggu mobil sampah.

Pasar ini nampak tua, tak hanya dari bangunan, tapi juga penjualnya. Para nenek yang berjualan di badan trotoar dalam cukup mendominasi. Barangkali memang itu harapan mereka, jangan sampai anakku mengikuti jejakku. Mereka harus lebih baik. Paling tidak, jika harus berjualan, mereka harus berjualan di dalam pasar. Bebas dari hujan dan panas. Tanpa nenek-nenek itu tahu jika yang di dalam pasar tengah mengelu akibat biaya retribusi yang kembali dinaikkan. Oh kehidupan.

Dari jalan raya, ke timur, sekarang aku belok ke selatan. Toko topeng yang kutuju telah nampak. Kacanya yang kusam seperti tak pernah dibersihkan. Dari pada toko topeng, aku lebih melihatnya seperti toko alat sihir.

Jam di gawaiku masih menunjukkan pukul 9. Cukup sepi. Setelah uluk salam aku masuk seperti biasa dan langsung menuju ke dapur. Mat Rabon ... teman masa kecilku yang kini meneruskan usaha bapaknya tengah sarapan dengan lahap, tersenyum menyambutku.

Biasanya, ketika ke sini aku menghabiskan waktu untuk sekadar mengisi waktu luang, menanti dhuhur. Kadang juga sambil main catur. Tapi kali ini, aku meminta dia membuatkan topeng khusus buatku.

"Yakin? Mau pakai topeng lagi?" tanyanya menyelidik. Sebab dulu pernah, setelah mencoba memesan sebuah topeng, aku tak betah memakainya. Hanya kupakai sehari, dan berakhir sebagai pajangan dinding.

"Yakin, tapi kali ini khusus," tegasku.

"Khusus gimana?" tanyanya sebelum meneguk segelas air putih.

"Begini, kamu tahu kan kalau aku baru saja masuk ke dunia kepenulisan. Ternyata dunia itu mengerikan."

"Mengerikan bagaimana?"

"Emm ... pokoknya mengerikan. Antar teman bisa jadi musuh hanya karena beda pandangan yang tertuang dalam.tulisan. Apalagi kalau sudah saling berbalas, lebih mirip orang sedang bertengkar."

"Lalu? Apa kamu punya musuh? Lalu mau bersembunyi di balik topeng?"

"Tidak, bukan begitu. Aku malah selama ini mencoba berada di tengah. Tapi tetap saja, aku tak benar-benar di tengah. Dan ... ummm ...  dengan wajah asli ini, aku merasa terlalu berisik. Kau tahu, tiap tulisanku diapresiasi, ada semacam kegirangan di dalam hati. Mungkin memang wajar, tapi kalau terus-terusan seperti ini, aku khawatir bisa kelewat batas."

"Aku bingung." Mat menggaruk belakang kepalanya, "Intinya gimana? Yang kutahu hanyalah membuat topeng sesuai pesanan. Entah topeng itu dipakai buat apa, tak pernah kupikirkan." Dia nyengir.

"Yah sederhananya begini." Aku menarik kursi dari kolong meja makannya, duduk dan melanjutkan, "Aku ingin memakai topeng agar bisa jadi remku. Intinya itu."

"Aku masih bingung, tapi terserahlah. Toh tugasku bukan mengetahui untuk apa, tapi cuma seperti apa topeng yang kubuat. Dan untukmu, sepertinya aku akan membuatkan topeng petruk yang bijaksana dalam canda. Semoga cocok."

"Humm petruk, boleh boleh." Aku tersenyum, "Mat, mbok ya kalau sama aku, topeng senyummu itu dilepas."

Dia terkekeh, lalu mencopot topengnya. Tampaklah muka sedih yang ia sembunyikan dua tahun belakangan.

"Oalah, Mat. Sebentar lagi sudah seribu hari bapakmu. Janganlah sedih lagi, kasihan bapakmu di sana. Ikhlaskanlah. Dan sepertinya, kamu perlu segera menikah, biar ada yang bantu menata dan merawat tokomu.

"Hah, menikah. Memangnya siapa yang mau sama tukang penjual topeng, Gus?"

"Aih, kamu ingat Santi anak Pakde Ranto, penjual gorengan depan sekolah?"

"Gadis ingusan yang dulu itu?"

"Yap! Dia sekarang sudah gadis. Cantik dan bahenol," godaku.

"Terus? Apa hubungannya denganku?"

"Sewaktu kemarin aku mengantar undangan rapat karang taruna, tak sengaja aku melihat dia sedang membersihkan topeng hadiah darimu dulu. Sepertinya dia merawatnya dengan baik."

"Wah? Topeng senyum yang mirip denganku ini? Yang tak kasihkan waktu dia menangis gara-gara diejek teman-temannya?"

"Betul! Waktu melihatku, dia seperti kaget. Pas aku ngasihkan undangan, dia sempat bertanya tentangmu," Aku tersenyum.

"Ah yang bener?"

"Iya, dan dia juga menitip pesan buatmu."

"Hah?" Senyumnya tiba-tiba mengembang, jauh lebih mekar dari senyum topeng di meja makan, "Pesan apa?"

"Sabar, yang pastinya kabar baik. Tapi nanti. Setelah topengku jadi." Aku tertawa licik.

"Oh Gemblung." Wajahnya nampak gregetan. Aku tersenyum puas penuh kemenangan.

"Ya sudah, kukerjakan sekarang."

Ia bangkit dari tempat duduk. Mengambil topengnya sebelum kutahan dan berkata, "Kau tak butuh ini lagi." Lalu tersenyum bersama.

AM. Hafs
Singosari, 2-2-2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI