Google+ Followers

Jumat, 17 Juni 2016

Epilog: Event Lilin Kecil LovRinz Publishing

Sebuah Epilog:
Batu Kecil

Event Lilin Kecil Benderang dari Ujung Jemariku
LovRinz Publishing


(image from vanillaandlime.com)


Selamat kepada 20 kontributor terpilih dalam Event Lilin Kecil, sebuah lomba cerpen dengan tema “Buka mata hati untuk anak-anak Indonesia korban kekerasan seksual.” Event sederhana tetapi bukan berarti biasa saja ini dimulai pada 15 Mei 2016, dan hasilnya sudah diumumkan kemarin. Bagaimana?
Catatan ini sebagai penutup saja, mungkin sebagai pengingat juga bahwa betapa kita sering lalai mengikuti tata penulisan yang baku sesuai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) atau sebelumnya disebut Ejaan yang Disempurnakan (EyD). Saya menyebutnya lalai, bukan tidak tahu. Sebab ketika seseorang tidak tahu, sebagaimana insan yang ingin tahu (belajar), sudah barang tentu kita memberdayakan kemampuan kita untuk mencari tahu. Namun, saya menebak kebanyakan dari kita memang sering lalai atau abai dengan hal-hal sepele—seperti pada kerikil ketika berjalan.
Tidak bermaksud menganggap sepele permasalahan kelalaian dalam penulisan, di sini saya mencoba menyampaikan apa yang sering kita (penulis) abaikan dalam proses belajar menulis.

Huruf Kapital
Yang pertama adalah penggunaan huruf kapital. Dari 31 tulisan yang masuk dalam email redaksi, masih ada yang keliru dalam memahami penggunaan huruf kapital. Di sini saya tidak akan menampilkan tulisan yang mana. Saya hanya membayangkan sesuatu. Kesalahan penggunaan kapital di awal kalimat, bisa saja terjadi karena perangkat yang kita gunakan. Beberapa perangkat mungkin punya masalah atau telah di-setting sedemikian rupa sesuai keinginan penggunanya. Namun dalam hal ini, kita sebaiknya paham bahwa huruf kapital punya beberapa aturan main dalam menggunakannya. Salah satunya yakni mengawali sebuah kalimat. Sesederhana ini. Setiap kalimat tentu saja harus diawali dengan huruf kapital di kata pertama. Tidak bisa tidak. Itu sebuah aturan main dalam berbahasa Indonesia, dan bahasa lain sepertinya juga. Sebaiknya kita tidak pernah tersandung batu kecil yang ini. Lantas, pada cerpen umumnya terdapat dialog (percakapan antar tokoh). Cirinya mudah sekali diamati, yakni diawali dan diakhiri dengan tanda kutip (atau tanda petik dua). Itu juga termasuk kalimat. Jadi, sudah barang tentu harus diawali kapital.
Ada begitu banyak website atau blog yang memuat “pelajaran” tentang kapan dan di mana kita harus menggunakan huruf kapital. Cukup dengan beberapa kuota dan beberapa menit, saya yakin kita bisa memahaminya dengan baik. Ya, itu baru semangat.

Di sebagai Kata Depan dan Pembentuk Kata Kerja Pasif
Hal berikutnya adalah pemahaman dan penggunaan kata depan dan imbuhan. Kenapa saya katakan “pemahaman”, alih-alih hanya “penggunaan”? Karena selamanya kita akan bingung dan bimbang semisal kita tidak paham dengan di ini. Jangan berkecil hati. Hampir semua penulis pernah berada di fase “keliru” menulis di sebagai kata depan dan imbuhan. Bahkan, sekalipun saya.
Sebagai kata depan, di akan ditulis terpisah dengan kata setelahnya. Timbul pertanyaan: bagaimana kita tahu bahwa di yang sedang ingin kita tulis itu sebagai kata depan dan bukannya kata kerja pasif? 
Mudah saja. Sebagai kata depan, di akan merujuk suatu tempat. Di akan menunjukkan/ menyatakan tempat. Contohnya: di kamar, di sana, di situ, di sini, di langit, di Cirebon, di LovRinz Publishing, di keramaian, di pengujung kisah, di antara waktumu yang tak pernah sepi. Penulisannya harus terpisah dengan kata setelahnya.
Nah, selain sebagai kata depan, ternyata di juga merupakan awalan pembentuk kata kerja pasif. Bedanya, di sebagai pembentuk kata kerja pasif itu (awalan) akan ditulis menyambung atau serangkai dengan kata setelahnya. Tidak ada spasi pemisahnya. Ciri-cirinya mudah dikenali, bahwa kata yang akan disambung dengan di haruslah kata kerja. Contohnya: ditulis, dikerjakan, diperkenankan, diterbitkan oleh LovRinz Publishing, dll. Ini berarti, sepatutnya kita mengenali kata-kata itu berjenis apa. Tidak susah karena cuma ada 7 jenis kata untuk kita ingat, yaitu kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata ganti, kata bilangan, dan kata tugas.

Bentuk Baku sebuah Kata
Hal ini juga masih sering terjadi dari kebanyakan naskah yang masuk dalam event Lilin Kecil. Kata-kata apa yang sering keliru kita tuliskan bentuk bakunya? Beberapa yang bisa saya sertakan di sini, yakni:

Bentuk baku yang di dalam kurung.

tau (tahu)
kaos (kaus)
menelpon (menelepon)
merubah (mengubah)
nampak (tampak
meliat (melihat)
coklat (cokelat)
birahi (berahi)

Agar kita terhindar dari kesalahan seperti ini, ada baiknya kita mengecek ke situs-situs yang menyediakan layanan bahasa, seperti misalnya http://kbbi.web.id jika kita ragu dengan bentuk baku sebuah kata tertentu. Meski situs tersebut sampai saat ini masih menggunakan KBBI edisi Ketiga, saya rasa masih cukup bisa diandalkan. Ah, saya jadi teringat sebuah nasihat yang pernah saya dapatkan dari seseorang yang menyukai dunia literasi. Katanya: ketika kau ingin menjadi penulis, maka pelajarilah dengan sebaik-baiknya bahasa yang kaugunakan dalam tulisanmu.

Pengiring Dialog
Makin ke sini, tentu saja tulisan ini agak sedikit berat. Setelah kita membahas huruf kapital, kata depan dan imbuhan, kata baku, kini kita masuk ke kalimat.
 Tentunya dalam sebuah cerpen, umumnya dialog akan selalu ada. Lalu apakah itu pengiring dialog? Beberapa kita mungkin mengenalnya dengan nama lain seperti kalimat penjelas, kalimat pelengkap, atau kalimat pengiring. Apa pun istilahnya, yang lebih penting adalah artinya. Pengiring Dialog adalah kalimat atau frasa yang merupakan lanjutan dari sebuah dialog. Fungsinya adalah menjelaskan dialog yang diiringinya. Letaknya bisa di depan, di tengah, dan di belakang dialog. Yang umum kita gunakan adalah pengiring dialog yang berada di belakang. Contoh: katanya, ujarmu, seru dia, pekik Budi, sungut Paman, dsb.
Penulisannya harus selalu diawali huruf kecil. Alasannya karena Pengiring Dialog atau sebuah kalimat/frasa tidak bisa berdiri sendiri. Biar lebih jelas, saya akan hadirkan contoh di bawah ini:

“Sebaiknya kamu ikut event Lilin Kecil Lovrinz,” katanya.

Pengiring Dialog katanya tidak bisa berdiri sendiri karena ketika dialognya tidak dibaca, atau dihilangkan, maka kita akan bingung maksud pengiring dialog itu. Coba saja. Pasti bingung apa maksudnya. Saya buat lagi:

“Hore! Cerpenku terpilih!” seru Budiman girang.

Hilangkan dialognya. Hasilnya adalah seru Budiman girang membuat kita berkernyit. Apa yang ia serukan? Nah, ketika kita bingung, maka jelaslah bahwa itu adalah sebuah Pengiring Dialog. Maka tulislah ia dengan diawali huruf kecil.
Permasalahan kecil ketika menggunakan aplikasi Microsoft Word adalah Pengiring Dialog secara otomatis berawalan kapital ketika dialognya diakhiri dengan tanda titik. Makanya jangan sampai salah. Contoh:

“Aku akan berusaha menang di event LovRinz selanjutnya.” Tegas Ali.

Huruf ‘t’ pada kata “tegas” secara otomatis diubah Microsoft Word dengan diawali kapital jika kamu membuat contoh yang serupa dengan di atas. Kata apa saja juga akan berubah dengan diawali kapital jika dialog itu diakhiri dengan tanda titik. Padahal kita tahu dan ingin kata tegas, bukan Tegas. Tapi karena kita lalai dengan tanda baca, hasilnya jadi salah.


Nah, catatan ini harus saya akhiri karena saya khawatir terlalu panjang. Namun bukan berarti menulis sebuah cerita yang bagus hanya berdasarkan kemampuan teknis seperti singkatnya tulisan di atas. Ini hanya secuil dari proses panjang yang sebenarnya. Tips yang bisa saya sampaikan adalah terus membaca dan latihan menulis. Mungkin seringkali kita tidak sadar bahwa bacaan adalah objek yang paling memungkinkan untuk dipelajari. Ambil saja sebuah buku, buka, perhatikan. Setelahnya, dilengkapi maksud saya, dengan kemauan kita mencari referensi, baik dari buku-buku lain atau internet. Untuk hal-hal teknis seperti ini, memang perlu banyak pemahaman dan latihan. Sementara itu, saya selalu menyebut hal-hal teknis adalah fase awal. Begitu lolos fase ini, kita boleh naik ke level selanjutnya mengenai ide cerita, plot, karakterisasi, konflik, dsb. Bukankah lebih menarik membahas karakterisasi tokoh-tokoh ceritamu, plotnya, dilema konfliknya, sampai unsur ekstrinsik yang melibatkan pengaruh-pengaruh dari luar diri penulis? 
Akhir kata terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung event Lilin Kecil yang diadakan LovRinz Publishing, kepada kontributor terpilih, sekali lagi selamat. Buat yang belum terpilih, tidak usah berkecil hati. Masih ada kesempatan berikutnya. Jangan lupa tetap ikuti update berita di fans page Penerbit LovRinz atau di blog ini. Dan jangan ragu memilih kami untuk menerbitkan tulisan-tulisanmu.


Salam hangat,



Tim Redaksi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI