Google+ Followers

Kamis, 10 Maret 2016

Lenguh tanpa Kepak

Lenguh tanpa Kepak





Begitulah cara ibu tirinya merawatnya. Laras semakin meringkuk lalu menangis berderai-derai. Ia mengambil buku tulis dari dalam tasnya dan sebuah pulpen. Dengan tangan mengepal ia menekan pulpen keras-keras dan menulis. "Aku ingin bumi ini kiamat saja." (Doa Laras-Damar Hening Sunyiaji)

Tangannya terulur hendak membuka pintu. Resah nampak di wajah. Ragu-ragu didekatkan telingan ke daun pintu. Matanya menyipit, mencoba mendengar sesuatu. Napas panjang ditarik dalam. Dengan kekuatan penuh, tangannya mendorong pintu tersebut. Dia terbeliak.
(HER-Reema Mifta)

Pada subuh yang dingin peluh Tuan Si Empunya berjibun di kening, menempatkaknu pada tumpukan jerami kering. Tangan itu lincah, seulas senyum mengajakku belajar berdiri.
(Lenguh Tanpa Kepak-Sri Shasmita)

Ia ingin menghirup udara, ingin berlari, ingin melompat tinggi-tinggi, ingin bisa menyentuh dan juga ingin menikmati lelaki tertampan yang pernah Nara perkenalkan di hadapannya. Ia ingin benar-benar hidup!(sebuah awal yang indah-Ajeng Maharani)

Dia bangkit mengambil boneka lusuh itu. Kemudian berlalu tanpa menghiraukanku lagi. Langkahnya gontai. Aku mengikutinya, pelan. Lalu tiba-tiba, dia menghilang di bangunan itu.
(Seminggu Bersamamu-Zahraa Senja)

Terdengar suara sedikit gaduh. Seekor kucing hitam berbadan besar menerobos pintu melewati kaki Adan, memasuki ruang dapur belakang. Dalam kegelapan, kucing itu berubah pelan-pelan.
(Tidur yang tenang-Maya Madu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI