Google+ Followers

Jumat, 18 Maret 2016

Bidadari Para Pejuang

Bidadari Para Pejuang

Oleh : Irsun Anwar Bardun
ISBN : 978-602-6921-26-0 






Asma Putri Abu Bakar Asshiddiq. Beliau di tampar keras. Anting-anting lepas. Mulut berdarah deras, tapi ia tetap tegar.
Ketika anaknya Abdullah bin Zubair meminta pendapatnya untuk memerangi Hajjaj bin Yusuf Assaqafi, maka hanya ada kata, "maju terus! kematianmu lebih aku sukai atau menang dan menjadi penyejuk mata."

"Jika kalian melihat peperangan tengah bergejolak, bergelutlah dengan debu-debu peperangan, niscaya kalian akan memperoleh keberuntungan dan kemuliaan di Negeri yang abadi nan kekal." Nasehat Al-Khansa kepada empat anaknya pada perang Qadisiah. Apakah kamu kira kata-kata ini keluar dari mulut seorang pecundang? Tidak! kata-kata ini keluar dari ciri seorang bidadari para pejuang.

Rumaesho binti Milhan atau biasa dikenal dengan Ummu Sulaem, rela menjadikan anaknya pembantu selama sepuluh tahun untuk Rasulullah, dan lagi-lagi sikap ini bukan sikap wanita pecundang dan matrealistis, tapi sikap ini muncrat dari typical seorang bidadari.

Ada juga Asma bin Umais. Rela mendampingi suaminya walau dalam keadaan sesulit apapun. Tersenyum ketika suaminya izin berperang melawan 200.000 pasukan. Mau tahu suaminya? Suaminya bernama Ja'far bin Abi Tholib. Ia berperang dari atas kudanya laksana tipuan angin kencang yang menghantam segala sesuatu yang berada di permukaan. Putus lengan kanannya, ganti lengan kirinya memegang panji. Putus lengan kirinya, ganti ia mendekap panji. Akhirnya Syahid di medan perang Mu-tah.

Tanya dirimu, kenapa setangguh itu Ja'far? Karena di dalam rumahnya ada seorang bidadari yang selalu memotivasi suaminya untuk hidup mulia atau syahid.

Sekarang kamu, tidakkah kamu ingin mengambil bagian untuk menjadi bidadari para pejuang? Bidadari yang selalu tegar menemani suaminya dalam kebaikan. Bidadari yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh percaya diri dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama karena hanya satu asa, 'bisa berkumpul di surga kelak' karena kematian bukanlah perpisahan. Tapi perpisahan adalah satu di antara kita di surga dan satu di neraka.

Kini, bakar semangatmu untuk menjadi bidadari para pejuang dengan buku sederhana ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI