Google+ Followers

Jumat, 04 Desember 2015

Mengenal Jenis Puisi


#BilikLovRinz

Assalamu'alaikum, Sahabat
Ada baiknya kita sedikit mengulas kembali macam-macam puisi yuk, sebagai dasar pengertian kita.
Cekidot ^^/


PUISI LAMA cirinya : puisi rakyat, tidak dikenal pengarangnya, disampaikan dari mulut ke mulut, dan terikat oleh baris, bait, suku kata dan rima. Macam-macam puisi lama:

 1. Mantra

Merupakan ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Biasanya digunakan dalam aktivitas ritual tertentu.
Contoh:

Mantra yang digunakan saat menyiapkan umpan untuk memancing buaya. Umpannya seekor ayam yang ditusuk dan diberi tali, sambil mengucapkan mantra, “Hei si jambu rakai, sambut pekiriman. Putri rundok di gunung Ledang. Ambacang masak sebiji bulat. Penyikat tubuh penyikat. Pengarang tujuh pengarang. Diarak dikumbang jangan. Lulur lalu ditelan.”

 2. Pantun

Yaitu puisi yang bersajak ab-ab, terdiri atas 4 baris (dua baris awal disebut lampiran, dua baris akhir adalah isi). Berdasarkan maksud dan isinya, pantun dibagi menjadi bermacam-macam jenis, misalnya: pantun agama, pantun nasehat, pantun muda-mudi, pantun jenaka, pantun adat dll.
Contoh:   

Asam gandis asam gelugur
Ketiga asam riang-riang
Menangis mayat dalam kubur
Teringat badan tidak sembayang 

3. Karmina

Yaitu pantun kilat (seperti pantun namun lebih pendek) yang biasanya digunakan untuk mengungkapkan perasaan, teka-teki, atau ejekan.
Contoh:

Ada ubi, ada talas
Ada budi, ada balas

 4. Seloka

Yaitu pantun berkait atau berbingkai, di mana kalimat ke-2 dan ke-4 pada bait pertama diulang kembali pengucapannya menjadi kalimat pertama dan ke-3 pada bait kedua. Begitu pun seterusnya, kalimat ke-2 dan ke-4 pada bait kedua akan diulang lagi pada baris pertama dan ke-3 pada bait ketiga.
Contoh:

Seganda gugur di halaman
Daun melayang masuk kulah
Dengan adinda minta berkenalan
Rindunya bukan ulah-ulah

Daun melayang masuk kulah
Batang berangan di tepi paya
Rindunya bukan ulah-ulah
Jangan tuan tidak percaya

 5. Gurindam

Yaitu puisi yang hanya terdiri dari dua baris, disebut sajak dua seuntai. Gurindam bersajak a-a, di mana kalimat pertama dan kedua adalah sebuah sebab-akibat, yang biasanya berisi pesan moral atau nasehat.
Contoh :

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat

 6. Syair

Berasal dari bahasa Arab, syu’ur, yang artinya perasaan. Cirinya terdiri atas sajak aa-aa dan berisi nasehat atau sebuah cerita.
Contoh :

Syair Perahu  

Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetuli di jalan terlalu indah
Di sanalah diikat diperbetuli sudah

Wahai muda, kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal juamu

Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli nisan

Perteguh jua alat perahumu
Hasilkan bekal air dan kayu
Dayung mengayuh taruh di situ
Supaya laju perahumu itu
  
7. Talibun

Yaitu pantun genap yang tiap bait terdiri atas 6, 8 atau 10 baris.
Contoh :

Kalau pandai berkain panjang
Lebih dari pada kain sarung
Jika pandai memakainya
Kalau pandai berinduk semang
Lebih umpama bunda kandung
Jika pandai membawakannya


PUISI BARU atau PUISI MODERN cirinya bebas, tidak terikat oleh jumlah baris, suku kata, rima dan sebagainya. Beberapa yang termasuk puisi baru adalah:

1. Balada

Puisi yang berisi sebuah kisah atau cerita, yang terkadang berisi khayalan sang penyair dengan beberapa perumpamaan-perumpamaan yang ia gunakan.
Contoh :

Balada Kristus di Medan Perang  
Oleh: Sitor Situmorang

Ia menyeret diri di dalam Lumpur
Mengutuk dan melihat langit gugur
Kuasa mutlak pemberontak segala jaman
Tapi langit ditinggalkan merah
Pedang patah di sisi berdarah
Tapi mimpi selalu menghalang

Akan sampai di ujung: Menang!
Sekeliling hanya reruntuhan
Jauh manusia serta ratapan
Dan di hati tersimpan dalam
Sekali dan dapat bals dendam

Saat bumi olehnya diadili
Dirombak dan dihanguskan
Seperti cartage; habis dihancurkan
Dibajak lalu tandus digarami

Tumpasnya kaum lama
Menjelma hokum baru
Ia, yang takkan kenal ampun
Penegak hokum seribu tahun!

2. Himne

Yaitu puisi untuk pujaan kepada Tuhan, tanah air atau pahlawan.
Contoh :

Padamu Jua
Oleh: Amir Hamzah

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulau kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar setia selalu

Sajak himne di atas berisi tentang kerinduan penyair akan Tuhan, yang diibaratkan bagaikan seseorang yang rindu untuk bertemu dengan kekasihnya.  


3. Ode

Yaitu puisi sanjungan untuk orang-orang yang telah berjasa, atau pujian terhadap sesuatu yang dianggap mulia.
Contoh :

Menara Sakti ( Kepada Arwah HOS Cokroaminoto)
Oleh: A. Hasjmy

Berkelip-kelip pelita menara
Jauh di tengah segara biru
Di pulau batu tempat berdirinya
Pemberi isyarat kapal lalu

Alangkah besarnya guna menara
Sanggup menahan pukulan zaman
Sudah berlalu waktu dan masa
Tidak berkesan panas dan hujan

Bukan menara sembarang menara
Menara ini menara sakti
Penuntun jalan nelayan jaka
Ke arah pantai ranah dicari

Sajak ode ini mengibaratkan pahlawan HOS. Cokroaminoto sebagai menara sakti, yang tak pernah goyah menahan gelombang dan badai di lautan. Menara yang sellau menjadi penerang jalan para nelayan agar tak menabrak karang. Begitulah seorang HOS. Cokroaminoto di mata sang penyair.


4. Epigram

Yaitu puisi yang berisi nilai-nilai moral, yang ditulis secara singkat. Terkadang epigram menggunakan kata sindiran atau kecaman.
Contoh :

Pemuda
Oleh : Surapati


Pemuda …
Apakah pemuda sebenar pemuda
Yang jadi semarak sejarah dunia?
Apakah dia
Muda usia
Beliau yang pandai melegak saya
Asyik berhias senantiasa?

Saya tahu banyak yang menyangka
Pemuda itu yang muda belaka
Ia merasa megah dan suka
Bila disebut engkau pemuda


5. Romance

Yaitu puisi yang berisi tentang cinta kasih dalam segala hal (orang tua, kekasih, Negara dsb)
Contoh :

Anakku
Oleh: JE. Tatengkeng

Ya, kekasihku …
Engkau dating emngintai hidup
Engkau dating menunjukkan muka
Tetapi sekejab matamu kau tutup
Melihat terang ananda tak suka

Mulut kecil tiada kau buka
Tangis teriakmu tak diperdengarkan
Alamat hidup wartawan suka
Kau diam anakku, kami kau tinggalkan


6. Elegi

Yaitu puisi yang berisikan ratap tangis dan kesedihan, sajak duka-nestapa.
Contoh :

Bertemu
Oleh: Sutan Takdir Alisyahbana


Aku berdiri di tepi makam
Surya pagi menyinari tanah
Merah muda terpandang di mata
Jiwaku mesra tunduk ke bawah
Dalam hasrat bertemu muka
Melimpah mengalirkandungan rasa

Dalam kami berhadap-hadapan
Menembus tanah yang tebal
Kuangkat muka melihat sekitar
Kuburan berjajar beratus-ratus
Tanah merah, rumput merimbun
Pualam bernyanyi, kayu berlumut

Sebagai kilat menyinar di kalbu
Sebanyak itu curahan duka
Sesering itu pilu menyanyat
Air mata cucur ke bumi
Wahai adikku berbaju putih
Dalam tanah bukan sendiri

  
7. Satire

Yaitu puisi yang berisi sindiran dan kritikan tentang ketimpangan atau ketidakadilan dalam masyarakat.
Contoh :

Marhaen
Oleh: Sanusi Pane

Kami berjalan berabad-abad
Dalam jurang yang gelap gulita
Tidak berharap, tidak berhajat
Tidak berpikir, tidak bercinta

Dewata lupa kepada kami
Kaum Marhaen anak sengsara
Kami bekerja setengah mati
Orang bersenang tertawa-tawa

Kalau engkau sesungguhnya ada
O Dewata mengapa kiranya
Kami diikat dalam penjara
Biarpun kami tak berdosa


-oOo-

Sumber : Bimbie.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI