Google+ Followers

Jumat, 04 Desember 2015

Contoh Plot Novel dan Setting Tempat

Contoh Plot Novel dan Setting Tempat

By Rina Rinz 
Beberapa cerita, mengangkat tempat tertentu sebagai latar. Bagaimana membangun suasana tempat agar menyatu dengan isi cerita?

Banyak cara. Kubagi satu tips yang biasanya kupraktekkan dalam menulis bagian cerita dari novel yang pernah kutulis.

Meletakkan tempat sebagai latar cerita, bukan hanya sekadar menyebutkan namanya. Misal alun-alun kota Malang. Hanya menyebut apel sebagai salah satu ciri pun kurang. Karena itu hanya akan jadi tempelan. Bisa saja tempat itu ada di kota lain.

Lalu bagaimana membuatnya sejiwa dengan isi cerita?
Masukkan seting tempat itu menjadi bagian dari kisahmu. Buat kisah dan tempat saling berhubungan. Cara menguji bila tempat yang digunakan sudah menyatu dengan isi ceritamu adalah, bila tempat diganti, maka cerita pun berubah. Sudah bukan lagi di tempat itu. Bedakan dengan memakai seting pasar. Mau pasar apa juga, kalau tidak ada sesuatu yang membuatnya berbeda, maka saat ceritamu pindah ke pasar lain, tidak berpengaruh apa-apa. Kecuali, misal bikin cerita di pasar Sukowati (Bali) dan ceritamu dengan kekhasan pasar Sukowati itu, bila dipindah ke pasar lain, tentu ceritanya akan beda juga. Ini satu contoh, dari bagian novel Sang Bulan yang memakai tempat. Karena ini hanya sepenggal (buat contoh), jadi dinikmati secuil saja ya ... hehehe. Semoga bisa jadi pembelajaran.


Memasuki gerbang agro wisata, Bintang dengan semangatnya memuji udara segar yang ia hirup.

            “Wow, di Jakarta nyaris tak pernah sesejuk ini. Aku suka banget!” Bintang begitu heboh ketika aku memarkir motor di depan rumah. Aku geli sendiri melihat tingkahnya.

            “Siapa itu, Nduk?” Ibu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Aku agak kaget. Kuhampiri Bintang dan menuntun ia masuk ke rumah.

            “Ini teman Bulan, Bintang namanya. Baru datang dari Jakarta, Bu. Dia seorang penulis.” Bintang menyalami ibu dan mencium punggung tangannya. Ibu mempersilakan Bintang duduk. Aku meninggalkannya bersama ibu untuk beberapa menit. Dari dalam kudengar canda tawa lepas di ruang tamu. Bintang memang pandai mencairkan suasana.

            “Nduk, ini sudah ditunggu, katanya mau keliling?” Suara ibu terdengar agak keras. Aku bergegas ke luar.

            “Mumpung belum terlalu sore, kita jalan sekarang ya ...” Aku memegang tangan Bintang. Kali ini aku akan jadi pemandu wisata spesial untuknya.

            “Itu Kolam Cangkir. Dulu kolam ikan. Di  tengah kolam ada cangkir yang isinya tiga pucuk daun teh.” Aku menjelaskan kolam yang ada di sisi kanan saat Bintang bertanya gemericik air yang ia dengar.

            “Oh ya? Tapi tunggu ...” Bintang terdiam sesaat, “Aku merasakan sesuatu di sini.”

            “Merasakan apa?”

            “Itu, sesuatu yang tak terlihat.”

            “Bisa jadi. Dulu banget, waktu Indonesia belum merdeka, anak seorang administratur tenggelam di kolam ini. Dulu kolam ikan ini dalam, bentuknya seperti mangkuk. Anak itu tersedot sampai masuk di gorong-gorong. Kabarnya si ibu stress berat sampai akhir hayatnya dengan duduk mematung di dekat kolam.”

            Bintang mengangguk juga seakan mengerti. Ya, seorang tunanetra memang memiliki kemampuan merasakan dengan hati. Lebih peka terhadap hal-hal seperti itu.

            Aku mengajaknya lagi meneruskan perjalanan. Bintang tak henti-henti memuji kesejukan hawa yang ia rasakan.

            “Kau tahu, kalau saja memungkinkan, aku akan membeli sebuah rumah di sini. Menyenangkan ya bila ditemani istri dan anak tercinta. Damai banget rasanya.” Aku tersenyum mendengar perkataan Bintang. Indah sekali harapan masa depannya. Ah andai saja ....

            “Hei, kok malah melamun?!” Bintang menepukkan kedua tangannya di hadapanku. Untung saja Bintang tak dapat melihat ekspresi wajahku. Kalau tidak, ia tentu akan menertawakan merah pipiku.

            Aku kembali mengajaknya berkeliling. Mengenalkannya pada dua jenis daun teh utama yang sekarang tumbuh di lahan seluas lebih 800 hektar ini, tanaman teh hijau dan teh hitam. Sebenarnya masih ada satu lagi, teh putih, namun tanaman ini sudah susah ditemui dan hanya tinggal beberapa pohon saja.

            “Oh iya, Bulan, sebenarnya aku sudah tahu cukup banyak soal kebun teh ini. Ya, saking penasarannya aku akan cerita tempat tinggalmu di chat, aku mencari tahu di internet soal ini,” ujar Bintang sambil memegang dua jenis daun teh yang baru saja kupetikkan untuknya.

            “Nih, aku tahu daun ini jenis Camelia Sinensis alias teh hijau,” ujarnya sambil mengangkat daun yang lebih ramping. Aku takjub, Bintang mampu mengenalinya. “Nah, kalau yang ini Camelia Asamica alias teh hitam.” Bintang mengangkat lagi daun satunya. Lalu diremas-remaskan dengan jemari dan mencium aromanya. “Teh hijau ini baunya lebih sedap.”

            Senja hampir turun ketika aku dan Bintang kembali ke rumah. Bintang begitu menikmati perjalanan menjelajahi kebun teh. Berfoto dengan para pemetik dan ikut menyaksikan proses penimbangan hasilnya. Bintang juga kuajak melihat isi pabrik pengolahan daun teh. Ya, walau Bintang tak bisa melihat dengan kedua matanya, aku yakin Bintang dapat ikut merasakan, betapa indahnya kebun teh dan juga memahami proses secangkir teh hangat yang sedang ia nikmati senja ini.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/lovrinz-and-friend/matericontoh-plot-novel-dan-setting-tempat/293753080806337

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI