Google+ Followers


SI Cantik berkacamata yang suka sekali warna merah. Meriah euiii ...

 Siapa yang sering ngintipin FP Penerbit LovRinz pasti tahu novel bergenre romance dewasa yang berjudul Kirana. Novel keren yang dipinang oleh LovRinz Publishing ini ditulis oleh seorang author ‘koplak’ demikian wanita cantik ini menyebut dirinya. Siapa lagi kalau bukan Mbak Alies Patricia Amarilis S.

Beberapa hari ini, Mimin Pinky asyik ngerempongin beliau buat nyuri-nyuri informasi tentang kesuksesannya mempunyai novel yang diminati hingga puluhan ribu pembaca. Uwiikk!! Mimin Pinky saja gak kuat segitu. (nangis di pojokan dapur)

Baiklah ... Baiklah. Mimin Pinky mulai saja ya.


Mimin Pinky : “Assalamu’alaikum, Mbak Alies. Boleh wawancara buat progam Oh Oh Siapa Dia di LovRinz tidaaakk ... Boleh, ya ... ya ... yaaa ...” (pasang tampang imut sambil kedip-kedip)

Mbak Alies : “Wa’alaikumsalam. Boleh sajaaa, tapi siapa dakuuu?”

Mimin Pinky : “Authornya Kirana ... akhakahakahak!”

Mbak Alies : “Masih newbie, Min.” (tepok jidat)

Mimin Pinky : “Sama, Mbak. Mimin Pinky juga. Aku mulai saja ya, Mbak. Sejak kapan Mbak Alies mulai suka menulis?”

Mbak Alies : “Aku mulai nulis cerita di diary sejak SMU. Itu karena sahabatku yang jadi tempat curhatan tiap kali galau menyarankan aku untuk menulis di buku saja daripada gila. Katanya sih begitu.”

Mimin Pinky : “Sudah berapa lama jadi author di Wattpad, Mbak?”

Mbak Alies : “Sejak November 2014, Min.”

Mimin Pinky : “Wah, udah lama juga ya, Mbak.”

Mbak Alies : “Pertama hanya baca aja, Min. Lumayan, kan gretong gitu. Watty itu ada sejak tahun 2012, jaman yang pake cuman segelintir orang, Min. Hihihi. Pertama baca Watty terus terang aku terusik, karena hampir semua menulis cerita 17+. Itu membuat hatiku tergerak untuk membagikan tulisan lama. Nining the Series, Kerajaan Semu, Love Ilham, Memories, Sahabat.”

Mimin Pinky : (oowww ... nyimak sambil ngunyah donat)


Mbak Alies : “Tapi ya itu, aku hanya menulis saja, tanpa perhatikan typo dan EYD. Wakakakakak!”

(hatching! Mimin Pinky kesembur ketawanya, lebar amaatt ...)



Mbak Alies : “Menurutku tulisan ibarat makanan bagi otak. Jadi kalau Watty didominasi cerita ‘nananini’, itu akan merusak moral anak muda penerus bangsa. Mungkin karena aku merasa bertanggung jawab sebagai seorang ibu, jadi aku emncoba metode dakwah melalui tulisan, Min. Begitcuu ...”

Mimin Pinky : (melongo sambil garuk-garuk kepala) “Artinya ‘nananini’ itu apaan ya, Mbak?” (dasar nih, Mimin Pinky kudet!)

Mbak Alies : “Hahaha ... ‘Nananini’ atau ‘eroro’ itu sebutan buat cerita yang ada ‘esek-esek’-nya, Min. Anak-anak Watty nyebutnya gitu.”

Mimin Pinky : “Ooohh ... Oke, lanjut! Apa rahasianya cerita Mbak Alies sampai dibaca oleh puluhan ribu pembaca Wattpad?”

Mbak Alies : “Yang itu aku nggak tahu. Wakakakakak. Aku mah sadar diri tulisanku masih banyak kekurangan. Cuma aku juga sadar bahwa tahajud adalah rahasia untuk diangkat derajatnya, mungkin salah satunya ya itu, reader suka sama ceritaku.”

Mimin Pinky : “Kereeeeennn!” (mata keluar lophe-lophe) “Ada tidak keinginan untuk menjadi penulis profesional dan lebih serius merambah dunia sastra Indonesia?”



Mbak Alies : “Nggak ada, Miiinnnn ... Wakakakakak. Aku ikutin saja apa mau Allah. Sadar diri akan kekuranganku, sekaligus sadar akan kekuatan Allah. Gitu ajja.”

Mimin Pinky : (pasang jempol super gedhe) “Jadi bener-bener Mbak nulis karena untuk menghibur diri dan agar tidak gila, ya?”

Mbak Alies : “Bukan. Aku nulis karena cinta. Karena aku nggak bisa hidup tanpa menulis.”

Mimin Pinky : (fyuuhh ... elap keringat dulu, wawancara kali ini sungguh penuh makna hidup yang patut dipikirkan) “Boleh intip sedikit cerita tentang Kirana, Mbak? Apa yang ingin Mbak sampaikan di sana?”

Mbak Alies : “Kirana? Yang aku sampaikan di situ adalah jalan hidup manusia Cuma Allah yang tahu, untuk sampai pada jodoh yang sebenarnya, Rana harus melewati pernikahan dengan Krisna. Pernikahan itu belum tentu jodoh, tapi jika sudah jodoh sudah pasti akan ada pernikahan.”

Mimin Pinky : (uuwwaaa ... pesannya mantep banget cciinnn, Mimin Pinky sampai klepek-klepek sama kata-katanya tentang jodoh dan sebuah pernikahan. Kapan Mimin Pinky nikah dan dipertemukan jodoh yang sebenarnya, ya?) “Lanjut, Mbak. Apa motto Mbak Alies buat penyemangat diri saat down menulis?”

Mbak Alies : “Ngobrol ke para sahabat sejatiku, itu akan jadi penyemangat saat blocking writter terjadi,”

Mimin Pinky : “Oke, Mbak. Ini pertanyaan terakhir. Apa pesan buat para sahabat LovRinz?”

Mbak Alies : “Hmm, sebentar, Min. Aku makan dulu ya. Laper nih, nggak bisa mikir. Wkwkwkwk.”

Mimin Pinky : “Oke, Mbak. Mimin Pinky tunggu dengan senang hati.”

(menunggu ...)

.... krik krik krik krik ....

(tiga bulan kemudian ....)

Mimin Pinky : “Assalamu’alaikum, Mbak. Gimana, sudah makan? Bagaimana pesan buat sahabat LovRinz?”

Mbak Alies : “Ya, ampun. Lupa ... Wkwkwkwkwk. Wa’alaikumsalam. Maaf, Min. Oke, buat sahabat LovRinz, di manapun berada, terutama yang muslim, jangan pernah telat sholat, itu berbahaya buat hidup kalian. Tertibkan yang wajib, rutinkan yang sunnah. Insya Allah kemudahan hidup, Allah sendiri yang turun tangan. Ibarat kita ingin sesuatu belum sampai diucapkan sudah dikabulkan oleh Allah, itulah manisnya iman dalam dada. Tidak akan sia-sia setiap ibadah di dunia. Hanya perlu yakin, yakin, yakin pada sang Pencipta. Allah dulu, Allah lagi, Allah terruussss ...”

Mimin Pinky : “Wah, terima kasih buat pencerahannya, Mbak. Terima kasih juga buat kesempatan yang diberikan untuk belajar dari Mbak Alies. Semoga makin sukses, ya, Mbak. Aamiin. Aamiin.”

Mbak Alies : “Sama-sama, Min.”


Nah, LovRiners, itu sharing keren dari author Kirana. Jika ada yang ingin baca karya-karya beliau, silakan buka akun Wattpad-nya di : @AliesPatricia
Jangan lupa juga, beli novel Kirana ya ... HoHoHoHo!

Kirana yang akan segera hadir ke ruang baca kita semua
Sampai ketemu lagi dengan Mimin Pinky yang kepo setinggih langit, di Oh Oh Siapa Dia berikutnya. Ciaoo!

Menulis Novel dalam waktu singkat? Mungkinkah?

By Rina Rinz on 
Menulis Novel dalam waktu singkat? Mungkinkah?

Dear Friends,

Sebagai orang baru dalam dunia menulis, saya merasa kalimat di atas, memang mustahil. Namun, karena kegigihan saya (ngotot tepatnya) maka dengan senang hati saya katakan, BISA!

Awalnya ketika menulis novel, pikiran saya kacau balau, karena alur yang tak keruan, jalan cerita yang lompat-lompat, konflik yang asal jadi tanpa ada penyelesaian yang baik dan ingin segera mengakhiri cerita padahal jumlah halaman belum mencukupi untuk dikatakan sebuah novel.

Namun, itu tidak membuat saya patah semangat dan berhenti lalu duduk di pojokkan kamar sambil gigit selimut ditemani wafer sekaleng dan minuman dingin. Alih-alih putus asa, saya latihan terus. Menulis kejadian sehari-hari, mengolah kata bagaimana sebuah kisah sederhana mampu membekas di hati pembaca. Walaupun begitu, saya merasa masih juga belum berhasil. Karena toh, sampai detik ini, belum ada karya saya yang diterbitkan penerbit mayor (tertawa sedih). Tapi tenang saja, saya akan terus berusaha sekuat jemari ini menari di atas papan tombol laptop ataupun hape butut yang sangat berjasa itu.

Nah, karena itulah, saya mengajak teman-teman yang punya mimpi sama (nangkring di toko buku) untuk belajar bagaimana menulis sebuah kisah utuh yang apik dan layak untuk dibaca.

Menulis novel tidak sama seperti menulis cerpen. Cerpen biasanya hanya butuh waktu singkat dan sangat jarang berlanjut di hari-hari berikutnya. Sedangkan novel, sama saja seperti menuliskan kisah fiksi ciptaan kita sendiri dan harus dituntaskan dalam satu buku. Kecuali novel itu akan ada kelanjutannya seperti Keping Hati, bisa sekuel atau lebih.

Untuk menulis novel dalam waktu tertentu (kali ini target kita satu bulan) harus siap dengan komitmen awal. Rutin menulis beberapa lembar, setiap hari. Bila terhenti, ada beberapa orang yang susah mengembalikan motivasi dirinya dan mengakibatkan berhenti pula kegiatannya menulis novel. Untuk itu, rasanya perlu ada seseorang yang ‘memukul dan mendorong’ kita agar tetap terus berjuang. Apa tidak saying, naskah yang sudah kita awali dan telah tertuang beberapa lembar itu nganggur dan hanya jadi penghuni folder di file? Apa tidak ingin orang lain juga membaca apa yang sudah kita tulis? Layak tidak layak, ada di mata pembaca, bagaimana kita tahu tulisan kita berharga bila tidak kita bagikan pada mereka?

Coba lihat file teman-teman … apa ada tulisan yang duduk manis menanti jamahan jemari? Ayo diseret ke sini, tuliskan kembali menjadi sebuah cerita utuh. Yakinkan diri bisa, maka semua akan mudah. Bila ada hambatan, selesaikan dengan hati yang tenang. Buang keraguan. Dia, mereka dan mereka bisa, kenapa kita tidak?!

Nah, pada ingin tahu bagaimana memulainya?

Sebelum mulai menulis novel, ada baiknya kita menentukan sejak awal mau dibawa ke mana cerita ini. Amannya, buat kronologis cerita. Tentukan konflik dan penyelesaiannya. Kalau merasa ribet menulis kerangka dan adegan-adegannya, cukup pikirkan saja konfliknya. Jalan cerita akan mengikuti selama kita tahu apa konflik yang akan kita kisahkan.

Oke sebagai langkah awal … Coba tuliskan kronologis kisah bakal novelmu di sini. Buat dokumen dengan menuliskan tanggal.

Misalnya:

30 Juni 2014 Kronologis kisah Sang Bulan

Mereka memanggilku Bulan. Wanita mandiri yang menjadi guru di sebuah sekolah dasar. Beberapa waktu belakangan, aku aktif di sebuah komunitas menulis. Diam-diam ada seseorang yang menarik perhatianku. Bintang, namanya. Bintang seorang pria yang tanpa sadar mengajariku banyak hal dalam menulis. Ia bagai guru buatku. Satu hari aku jatuh hati padanya. Namun, kenyataan membuat semuanya berubah. Blab la bla sampai ending.

Nah, kalau sudah bikin kronologisnya, baru kita tentukan bagian mana yang akan ditulis sebagai pembuka kisah.
Yuk dimulai!

Sumber : https://www.facebook.com/notes/lovrinz-and-friend/menulis-novel-dalam-waktu-singkat-mungkinkah/291435537704758


Tips Editing Naskah

By Rina Rinz 
Beberapa waktu lalu, diajak seseorang untuk ikut kelas editing. Memang di dunia ini tidak ada makan gratis, hehehe, tapi bila ada yang bisa kita lakukan agar dapat makanan tanpa mengeluarkan uang banyak, tidak ada salahnya kan. Saya sendiri lebih suka memasak di rumah ketimbang membeli makanan di luar. Kecuali, emang pengen makan di luar. *laah malah curhat. Oke, kembali ke kelas editing. Sebenarnya, langkah pertama editing itu ada di tangan penulis sendiri. Editing naskah bukan tugas editor saja. Berikut ini, saya ambil beberapa tips self editing yang terangkum dari om gugel. (mumpung gratis dan bisa dimanfaatkan, tidak ada salahnya kita melakukan pembelajaran sendiri--tahap awal)
Self editing adalah mengedit atau merapikan tulisan sendiri. Self editing sering dilakukan oleh para penulis untuk memperbaiki dan memperhalus hasil tulisan mereka. Lalu, apa yang perlu diperhatikan untuk diedit?

•   Alur
Baca keseluruhan ceritamu. Apakah ceritanya sudah mengalir dan enak dibaca? Apakah kamu tidak bingung ketika membacanya? Apakah perpindahan tempat dan waktu gampang dimengerti?
•   Rasionalitas
Coba baca lagi, lalu cermati adegan per adegan. Apakah semuanya sudah masuk akal? Kadang-kadang, karena terjebak dengan imajinasi kita menulis hal-hal yang tidak masuk akal dalam sebuah cerpen. Misalnya ada anak berumur 3 tahun yang sudah pandai berbelanja sendiri ke supermarket. Kira-kira, dalam kehidupan nyata, mungkinkah itu terjadi? Tentu saja akan lain ceritanya kalau yang kita buat adalah cerita dongeng atau fantasi.
•   Panjang Naskah
Kalau kamu ingin mengirimkan cerita ke majalah atau membuatnya menjadi buku, biasanya ada ketentuan panjang naskah yang harus kamu tepati. Coba cek ceritamu, apakah panjangnya sudah sesuai dengan permintaan? Kalau memang terlalu panjang, harus kamu potong dulu.

•   Konsistensi
Ini yang sering terlewatkan. Teliti lagi naskahmu, apakah sudah sesuai bagian awal, tengah, dan akhirnya. Sering terjadi, tokoh yang sama tetapi namanya berbeda di bagian awal dan akhir cerita. Kadang-kadang, terjadi juga dengan setting tempatnya. Di depan diceritakan kejadian penculikan di apartemen mewah. Di belakang ditulis kalau kejadian itu terjadi di pasar. Beda banget, kan?
•   Efektivitas
Apakah kalimat-kalimat yang kamu buat sudah efektif? Apakah cerpenmu tidak bertele-tele dan berputar-putar?
•   Ejaan dan Tanda Baca
Terakhir, cermati lagi ejaan dan tanda baca yang kamu gunakan. Apakah kamu sudah menuliskan semua kata dengan benar? Apakah kamu sudah menempatkan tanda baca dengan tepat?
Membaca cerita untuk mengedit jangan cuma sekali, ya! Baca lagi dan baca lagi. Kalau perlu, tinggalkan dulu beberapa waktu, baru dibuka lagi, supaya kamu tidak bosan. Kamu tentu ingin memberikan tulisan terbaikmu untuk pembaca, bukan?

Bagaimana langkah-langkah mengedit naskah sendiri supaya hasilnya optimal?


Langkah 1: Tahan diri untuk membenahi naskah sampai kita selesai menulis.
 Jangan hapus kalimat yang terdengar aneh, atau menulis paragraf berulang-ulang. Biarkan saja, terus menulis dulu sampai selesai. Kalau pun keinginan untuk membenahi itu begitu besar, batasi diri hanya membenahi typo yang terlihat saat menulis.


Langkah 2: Menjauh dari tulisan yang baru kita selesaikan untuk beberapa saat.
Biarkan naskah mengendap dulu sebelum mulai mengedit. Kenapa? Karena dengan meninggalkan naskah kita beberapa saat, kita akan kembali dengan pikiran dan kondisi mata yang lebih fresh. Dengan begitu, akan lebih mudah menemukan kesalahan, inkonsistensi dan masalah-masalah pada plotting dan sebagainya.



Langkah 3: Baca naskah kita dalam format yang berbeda.
Kalau saat menulis memakai format word, coba pindahkan ke PDF. Atau ubah jenis huruf dan ukurannya, beri warna kalau perlu. Dengan begitu kita bisa menemukan kesalahan yg missed dari penglihatan kita saat naskah masih dalam format originalnya.


Langkah 4: Mulailah dengan mengedit bagian terpenting yaitu konten dan struktur cerita, bagian-bagian kecil seperti typo bisa dilakukan belakanga.


Langkah 5: Harus tega menghilangkan sebagian besar bagian cerita kalau memang tidak diperlukan dan tidak"nyambung" dengan cerita.


Langkah 6: Tidak usah terlalu terpaku membenahi typo, karena berapa kali pun dibaca, basanya selalu ada yang terlewat. Kadang itu takdir. :


Langkah 7: Baca naskahmu dengan suara keras dan tempo pelan. Penting!
Dengan melakukan ini kita akan bisa menemukan bagian-bagian yang terdengar tidak pas. Membaca dengan suara keras juga membantu kita menyadari ada beberapa pengulangan yang tidak perlu di beberapa bagian.


Langkah 8: Sudah selesai mengedit? Baca lagi! Lalu kirim ke teman/editor/proofreader untuk dikoreksi oleh mereka. They'll find mistakes you missed.


Langkah 9: Kalau sudah dapat hasil editan dari pihak ketiga tersebut, baca lagi! Ini memang melelahkan. tapi tidak ada yang mudah di dunia ini kalo mau sukses, kan? ;)


Semoga bermanfaat! ^_^

Sumber : https://www.facebook.com/notes/lovrinz-and-friend/materitips-editing-naskah/305090609672584


Majas (Gaya Bahasa)

By Rina Rinz 
Majas atau kiasan adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan kesan dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda dengan benda lain atau hal lain yang lebih umum.

Majas dapat digolongkan sebagai berikut.

  1. Majas perbandingan
  2. Majas pertentangan
  3. Majas pertautan
  4. Majas perulangan


A. Majas Perbandingan
Majas perbandingan terdiri dari 4 jenis, yaitu:

1. Majas Perumpamaan
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berkaitan dan yang sengaja dianggap sama.
Contoh:
  • Bak mencari kutu dalam ijuk. (Melakukan sesuatu yang mustahil)
  • Bagai kambing dihalau ke air. (Hal orang yang enggan disuruh atau diajak mengerjakan sesuatu)
  • Semanis madu.
  • Sedalam laut.
  • Secantik bidadari.
  • Sesegar udara pagi.

Perumpamaan secara eksplisit dinyatakan dengan kata seperti, bak, bagai, ibarat, penaka, sepantun, laksana, umpama.

2. Metafora
Metafora adalah perbandingan yang implisit. Jadi, tanpa kata pembanding di antara dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, metafora yaitu majas yang berupa kiasan persamaan antara benda yang diganti namanya dengan benda yang menggantinya.
Contoh:
  • Kapan Anda bertemu dengan lintah darat itu?
  • Siti Mutmainah adalah kembang desa di sini.
  • Kelaparan masih tetap menghantui  rakyat Etiopia.
  • Nina tangkai hati  ibu.

3. Personifikasi
Personifikasi adalah majas perbandingan yang menuliskan benda-benda mati menjadi seolah-olah hidup, dapat berbuat, atau bergerak.
Contoh:
  • Peluru mengoyak-ngoyak dada musuh.
  • Banjir besar telah menelan seluruh harta penduduk.
  • Matahari mulai merangkak  ke atas.
  • Kabut tebal menyelimuti desa kami.

4. Alegori
Alegori pada umumnya menganding sifat-sifat moral manusia.
Contoh:
  • Mendayung bahtera rumah tangga. (Perbandingan yang utuh bagi seseorang dalam rumah tangga)



B. Majas Pertentangan
Majas pertentangan terbagi menjadi 7 macam, yaitu:
  1. Hiperbola
  2. Litotes
  3. Ironi
  4. Antonomasia
  5. Oksimoron
  6. Paradoks
  7. Kontradiksio

1. Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang menyatakan sesuatu dengan berlebih-lebihan.
Contoh:
  • Keringatnya menganak sungai.
  • Suaranya menggelegar membelah angkasa.

2. Litotes
Litotes adalah majas yang menyatakan kebalikan daripada hiperbola, yaitu menyatakan sesuatu dengan memperkecil atau memperhalus keadaan. Majas litotes disebut juga hiperbola negatif.
Contoh:
  • Tapi, maaf kami tak dapat menyediakan apa-apa. Sekadar air untuk membasahi tenggorokan saja yang ada.
  • Tentu saja karangan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, semua kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati.

3. Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang berlawanan atau bertentangan, dengan maksud menyindir. Ironi disebut juga majas sindiran.
Contoh:
  • Bagus benar ucapanmu itu, sehingga menyakitkan hati.
  • Kau memang pandai, mengerjakan soal itu tak satupun ada yang betul.

4. Antonomasia
Antonomasia adalah penyebutan terhadap seseorang berdasarkan ciri khusus yang dimilikinya.
Contoh:
  • Sssssttt, lihat! Si cerewet datang. Kalian tidak perlu bertanya.
  • Macam-macam! Biar si gendut saja nanti yang menghadapinya.
  • Kemarin saya lihat si Kacamata hitam keluar bersama-sama dengan si Kribo. Benar tidak?

5. Oksimoron
Oksimoron adalah pengungkapan yang mengandung pendirian/pendapat terhadap sesuatu yang mengandung hal-hal yang bertentangan.
Contoh:
  • Memang benar musyawarah itu merupakan wadah untuk mencari kesepakatan. Namun tidak jarang menjadi wadah pertentangan para pesertanya.
  • Siaran radio dapat dipakai untuk sarana persatuan dan kesatuan, tetapi dapat juga sebagai alat untuk memecah belah suatu kelompok masyarakat atau bangsa.
  • Olahraga mendaki bukit memang menarik, tetapi juga sangat berbahaya.

6. Paradoks
Paradoks adalah pengungkapan terhadap suatu kenyataan yang seolah-olah bertentangan, tetapi mengandung kebenaran.
Contoh:
  • Memang hidupnya mewah, mempunyai mobil, rumahnya besar, tetapi mereka tidak berbahagia. Tidak tahu mengapa, mungkin karena belum mempunyai anak.
  • Walaupun ia tinggal di kota besar, kota metropolitan, hiburan ada di mana-mana, ia bercerita padaku katanya kesepian.

7. Kontradiksio
Kontradiksio adalah pengungkapan yang memperlihatkan pertentangan dengan yang sudah dikatakan lebih dulu sebagai pengecualian.
Contoh:
  • Sebenarnya semua saudaranya, yang dulu-dulu pandai, hanya dia sendiri yang bodoh. Mungkin saja karena malasnya.
  • Malam itu gelap gulita, tanpa kerlip kunang-kunang yang sebentar tampak dan sebentar hilang.



C. Majas Pertautan
Majas pertautan dibedakan menjadi:
  1. Metonimia
  2. Sinekdok, terdiri atas:
    • Pars pro toto
    • Totem pro parte
  3. Alusio
  4. Eufemisme

1. Metonimia
Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal, sesuai penggantinya.
Contoh:
  • Ayah suka mengisap gudang garam. (Maksudnya rokok)
  • Si Jangkung dipakai sebagai sebagai pengganti orang yang mempunyai ciri jangkung.

2. Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya.
Contoh:
  • Sudah seminggu ini Iwan tidak tampak batang hidungnya. (Padahal yang dimaksud bukan hanya batang hidung)
  • Indonesia berhasil memboyong kembali piala Thomas. (Padahal yang berhasil hanya satu regu bulu tangkis)
  1. Pars pro toto adalah penyebutan sebagian untuk maksud keseluruhan. Contoh:
    • Jauh-jauh telah kelihatan berpuluh-puluh layar di sekitar pelabuhan itu.
    • Selama ini kemana saja kau? Sudah lama tak nampak batang hidungmu. Nenek selalu menanyakan kau.
    • Ia harus bekerja keras sejak pagi hingga sore karena banyak mulut yang harus disuapi.
    • Kita akan mengadakan selamatan sebagai rasa syukur karena kita naik kelas semua. Untuk itu biaya kita tanggung bersama tiap kepala dikenakan iuran sebesar Rp 1.500,00
  2. Totem pro parte adalah majas penyebutan keseluruhan untuk maksud sebagian saja. Contoh:
    • Dalam musim kompetisi yang lalu, kita belum apa-apa. Tetapi dalam tahun ini,sekolah kita harus tampil sebagai juara satu.
    • Dalam pertandingan musim lalu, Indonesia dapat meraih medali emas.

3. Alusio
Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau hal dengan menggunakan peribahasa yang sudah umum ataupun mempergunakan sampiran pantun yang isinya sudah dimaklumi. Majas ini disebut juga majas kilatan.
Contoh:
  • Menggantang asap saja kerjamu sejak tadi. (Membual/beromong-omong)
  • Ah, kau ni memang tua-tua keladi. (Maksudnya makin tua makin menjadi)

4. Eufemisme
Eufemisme adalah majas kiasan halus sebagai pengganti ungkapan yang terasa kasar dan tidak menyenangkan. Eufemisme digunakan untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang dianggap tabu atau menggantikan kata lain dengan maksud bersopan santun.
Contoh:
  • Orang itu memang bertukar akal. (Pengganti gila)
  • Kalau dalam hutan jangan menyebut-nyebut nenek. (Pengganti harimau)
  • Pemerintah telah mengadakan penyesuaian harga BBM. (Pengganti menaikkan)


D. Majas Perulangan
Contoh:
Yang kaya merasa dirinya miskin, sedangkan yang miskin merasa dirinya kaya.


Sumber:
Setyana, dkk. 1999. Buku Pintar Bahasa dan Sastra Indonesia. Semarang: Aneka Ilmu.


Sumber: http://mulanovich.blogspot.com/2013/01/kumpulan-majas-gaya-bahasa-beserta.html#ixzz3ANXA7HzY


Keterampilan Menulis Paragraf

By Rina Rinz 
Sudah ada dua naskah utuh novel yang masuk ke email untuk segera dimatangkan. Baru satu naskah yang kubaca dan sudah dipusingkan dengan paragrafnya yang kadang tidak efektif.

Sebenarnya bagaimana menulis paragraf dengan baik? Apa pentingnya?
Keterampilan Menulis Paragraf. Definisi paragraf adalah bagian dari karangan berupa untaian kalimat berstruktur yang berisi gagasan dasar yang diungkapkan dalam kalimat topik dan sejumlah gagasan pengembang yang diungkapkan dalam kalimat-kalimat pengembang.

Banyak orang salah dalam mengertikan paragraf karena terkecoh oleh cara penulisan paragraf yang biasanya kalimat pertama menjorok ke dalam beberapa ketukan (space bar)dari margin kiri atau adanya spasi antara paragraf satu dengan yang lain. Cara penulisan tersebut bukanlah penanda yang hakiki sebuah paragraf.

Persyaratan yang harus dipenuhi sebuah paragraf:
  1. Pada dasarnya paragraf merupakan kesatuan atau keutuhan pikiran yang lebih luas dari kalimat. Setiap paragraf mengandung satu gagasan dasar dan satu atau sejumlah gagasan pengembang. Gagasan dasar itu dikemukakan ke dalam kalimat topik. Dengan kata lain, dalam paragraf ada kalimat topik yang berisi gagasan dasar isi paragraf. Gagasan dasar dalam sebuah paragraf hanya satu sedangkan gagasan yang lain merupakan gagasan pengembang.
  2. Kegagalan penulis dalam menyusun paragraf adalah tidak adanya kalimat topik dan kalimat pengembang. Jika melihat sebuah paragraf yang berisi satu kalimat ada dua kemungkinan yaitu pertama, paragraf tersebut sebenarnya merupakan paragraf semu karena berisi gagasan pengembang sebagai bagian dari paragraf lain. Kedua paragraf tersebut berisi gagasan dasar yang belum dijabarkan ke dalam gagasan pengembang sehingga tidak dilengkapi dengan kalimat topik.
  3. Paragraf mempunyai kepaduan (koherensi) antar kalimat. Kepaduan berarti keserasian hubungan antar gagasan dalam paragraf yang berarti juga keserasian hubungan antar kalimat dalam paragraf. Keserasian tersebut menyebabkan alur gagasan atau informasi yang terungkap dalam paragraf menjadi lancar. Kelancaran akan memudahkan pembaca untuk memahami gagasan yang diungkapkan dalam paragraf.
  4. Selain mempunyai kepaduan (koherensi) paragraf mempunyai kekompakan (kohesi) yang diwujudkan oleh adanya bentuk-bentuk kalimat atau bagian kalimat yang cocok dalam paragraf. Kekompakan paragraf dipilah dalam dua kategori yaitu pertama, kekompakan struktural yang ditandai adanya hubungan struktur kalimat yang digunakan dalam paragraf yang kompak dan serasi. Salah satunya adalah pengulangan atau repetisi kalimat dalam pengungkapan gagasan yang berbeda. Selain itu, juga ditandai dengan penggunaan alat penggabung (konjungsi) hubungan antar kalimat seperti: karena itu, dengan demikian, jadi, oleh karena itu, singkatnya dan pendeknya. Kedua, adalah kekompakan leksikal yang ditandai oleh kata-kata yang digunakan dalam paragraf untuk menandai hubungan antar kalimat atau bagian paragraf, salah satunya adalah penggunaan kata pengganti seperti: dia, Beliau, tersebut, itu,dsb.
Kesimpulan Keterampilan Menulis Paragraf
Ada empat persyaratan pembentukan paragraf, yaitu (1) persyaratan kesatuan atau keutuhan yang ditandai oleh satu gagasan dasar dan sejumlah gagasan pengembang, (2) persyaratan pengembangan yang ditandai oleh adanya kalimat topik dan sejumlah kalimat pengembang, (3) persyaratan kepaduan yang ditandai oleh hubungan yang serasi antara isi kalimat dalam paragraf, (4) persyaratan kekompakan yang ditandai oleh keserasian hubungan bentuk struktur dan leksikon. – Keterampilan Menulis Paragraf
Referensi Keterampilan Menulis Paragraf.:
  • Suparno, dkk (2007) Materi pokok keterampilan dasar menulis. Jakarta, UT.
  • Akhadiah MK,S, dkk (1986) PINA 4436: Materi Pokok Menulis. Jakarta:Karunia,UT

Semoga ke depannya, teman-teman bisa menulis paragraf yang baik dalam ceritanya.Selamat berpikir! Eh selamat menulis :)

Sumber : https://www.facebook.com/notes/lovrinz-and-friend/materiketerampilan-menulis-paragraf/302440519937593


Kata dan Makna

By Rina Rinz 
A. Macam-macam makna

Sebuah kata dapat memilki beberapa makna dalam suatu bahsa. Berikut adalah macam-macam makna:

ü  Lesikal
    Adalah makna kata berdasarkan kamus/lesikon/definisi. Contoh: makan adalah memasukkan makanan ke dalam mulut, mengunyah lalu menelan.

ü  Gramatikal
    Adalah makna kata yang terjadi karena imbuhan atau ditempatkan dalam frasa, klausa, atau diberi informasi. Contoh: ditulis, penulis, di Semarang, dll.

ü  Denotasi
    Adalah makna lugas, sesungguhnya, dan apa adanya.

ü  Konotasi
    Adalah makna kiasan, ungkapan, idiomatis, sampingan, tambahan.

B. Perubahan makna suatu kata dapat menjadi:

ü  Amelioratif : makna sekarang lebih baik daripada makna sebelumnya.
ü  Peyoratif : makna sekarang kurang baik daripada makna sebelumnya.
ü  Meluas : makna sekarang lebih luas daripada makna sebelumnya.
ü  Menyempit : makna sekarang lebih sempit daripada makna sebelumnya
ü  Asosiasi : makna yang muncul karena persamaan sifat.
ü  Sinestesia : makna yang muncul karena tangkapan 2 indera.

C. Hubungan makna dengan bentuk

v  Sinonim : kata-kata yang memiliki makna sama.
v  Antonim : kata-kata yang memliki makna berlawanan.
v  Homonim : kata yang punya lafal dan bentuk sama tapi berbeda makna.
v  Homograf : kta yang punya tulisan sama, tapi beda makna dan lafalnya.
v  Homofon : kata yang sama lafal, tapi tulisan dan maknanya berbeda.
v  Hiponim : adalah kata yang terangkum dalam makna yang lebih luas.
v  Polisemi : kata yang punya banyak makna tapi termasuk satu alur pusat.

D. Kalimat efektif

Kalimat yang pemakaian atau penulisannya sesuai dengan kaidah bahasa baku serta menyampaikan info secara tepat. Ciri-cirinya:
·         Minimal berunsur subjek dan predikat
·         Semua  kata-katanya baku
·         Hemat kata
·         Sesuai EYD
·         Hubungan fungsi-fungsi kalimat jelas
·         Logis

E. Kalimat inti dan kalimat transformasi

Kalimat inti adalah kalimat yang terdiri hanya 2 unsur kalimat yaitu subjek dan predikat. Ciri-cirinya:
·         Terdiri 2 kata
·         Susunannya subjek predikat
·         Berupa kalimat berita
·         Kalimat positif

Kalimat transformatif adalah kalimat inti yang mengalami perubahan seperti berubah urutan, intonasi, jenis kalimat, atau penambahan unsur kalimatnya.

Nah, diatas adalah materi tentang jenis-jenis kata dan maknanya. Misal jika kita ingin membuat puisi yang indah, maka gunakanlah perpaduan makna konotasi dengan salah satu hubungan makna dengan bentuk, misalnya homonim. Bisa juga memakai kata yang berakhiran sama.
Contohnya nih (kalo jelek jangan diketawain ya, hehehe)


Menepi sesosok  lembut di ujung halauanku
Indah, menentramkan asmara jiwaku terbelenggu
Lantas kusibak hijab batin dan terdengar nada mengalun syahdu
Datang mengendap, mengetuk jantung terbujuk
Dag, dig, dug, irama melontar berirama, selaras, senada
Di ruang itu, jumpaku dengannya . . .manis, tenang, menghanyutkan . . . (hoorreeee,hihi)

Sumber : https://www.facebook.com/notes/lovrinz-and-friend/materikata-dan-makna/302439856604326

Contoh Plot Novel dan Setting Tempat

By Rina Rinz 
Beberapa cerita, mengangkat tempat tertentu sebagai latar. Bagaimana membangun suasana tempat agar menyatu dengan isi cerita?

Banyak cara. Kubagi satu tips yang biasanya kupraktekkan dalam menulis bagian cerita dari novel yang pernah kutulis.

Meletakkan tempat sebagai latar cerita, bukan hanya sekadar menyebutkan namanya. Misal alun-alun kota Malang. Hanya menyebut apel sebagai salah satu ciri pun kurang. Karena itu hanya akan jadi tempelan. Bisa saja tempat itu ada di kota lain.

Lalu bagaimana membuatnya sejiwa dengan isi cerita?
Masukkan seting tempat itu menjadi bagian dari kisahmu. Buat kisah dan tempat saling berhubungan. Cara menguji bila tempat yang digunakan sudah menyatu dengan isi ceritamu adalah, bila tempat diganti, maka cerita pun berubah. Sudah bukan lagi di tempat itu. Bedakan dengan memakai seting pasar. Mau pasar apa juga, kalau tidak ada sesuatu yang membuatnya berbeda, maka saat ceritamu pindah ke pasar lain, tidak berpengaruh apa-apa. Kecuali, misal bikin cerita di pasar Sukowati (Bali) dan ceritamu dengan kekhasan pasar Sukowati itu, bila dipindah ke pasar lain, tentu ceritanya akan beda juga. Ini satu contoh, dari bagian novel Sang Bulan yang memakai tempat. Karena ini hanya sepenggal (buat contoh), jadi dinikmati secuil saja ya ... hehehe. Semoga bisa jadi pembelajaran.


Memasuki gerbang agro wisata, Bintang dengan semangatnya memuji udara segar yang ia hirup.

            “Wow, di Jakarta nyaris tak pernah sesejuk ini. Aku suka banget!” Bintang begitu heboh ketika aku memarkir motor di depan rumah. Aku geli sendiri melihat tingkahnya.

            “Siapa itu, Nduk?” Ibu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Aku agak kaget. Kuhampiri Bintang dan menuntun ia masuk ke rumah.

            “Ini teman Bulan, Bintang namanya. Baru datang dari Jakarta, Bu. Dia seorang penulis.” Bintang menyalami ibu dan mencium punggung tangannya. Ibu mempersilakan Bintang duduk. Aku meninggalkannya bersama ibu untuk beberapa menit. Dari dalam kudengar canda tawa lepas di ruang tamu. Bintang memang pandai mencairkan suasana.

            “Nduk, ini sudah ditunggu, katanya mau keliling?” Suara ibu terdengar agak keras. Aku bergegas ke luar.

            “Mumpung belum terlalu sore, kita jalan sekarang ya ...” Aku memegang tangan Bintang. Kali ini aku akan jadi pemandu wisata spesial untuknya.

            “Itu Kolam Cangkir. Dulu kolam ikan. Di  tengah kolam ada cangkir yang isinya tiga pucuk daun teh.” Aku menjelaskan kolam yang ada di sisi kanan saat Bintang bertanya gemericik air yang ia dengar.

            “Oh ya? Tapi tunggu ...” Bintang terdiam sesaat, “Aku merasakan sesuatu di sini.”

            “Merasakan apa?”

            “Itu, sesuatu yang tak terlihat.”

            “Bisa jadi. Dulu banget, waktu Indonesia belum merdeka, anak seorang administratur tenggelam di kolam ini. Dulu kolam ikan ini dalam, bentuknya seperti mangkuk. Anak itu tersedot sampai masuk di gorong-gorong. Kabarnya si ibu stress berat sampai akhir hayatnya dengan duduk mematung di dekat kolam.”

            Bintang mengangguk juga seakan mengerti. Ya, seorang tunanetra memang memiliki kemampuan merasakan dengan hati. Lebih peka terhadap hal-hal seperti itu.

            Aku mengajaknya lagi meneruskan perjalanan. Bintang tak henti-henti memuji kesejukan hawa yang ia rasakan.

            “Kau tahu, kalau saja memungkinkan, aku akan membeli sebuah rumah di sini. Menyenangkan ya bila ditemani istri dan anak tercinta. Damai banget rasanya.” Aku tersenyum mendengar perkataan Bintang. Indah sekali harapan masa depannya. Ah andai saja ....

            “Hei, kok malah melamun?!” Bintang menepukkan kedua tangannya di hadapanku. Untung saja Bintang tak dapat melihat ekspresi wajahku. Kalau tidak, ia tentu akan menertawakan merah pipiku.

            Aku kembali mengajaknya berkeliling. Mengenalkannya pada dua jenis daun teh utama yang sekarang tumbuh di lahan seluas lebih 800 hektar ini, tanaman teh hijau dan teh hitam. Sebenarnya masih ada satu lagi, teh putih, namun tanaman ini sudah susah ditemui dan hanya tinggal beberapa pohon saja.

            “Oh iya, Bulan, sebenarnya aku sudah tahu cukup banyak soal kebun teh ini. Ya, saking penasarannya aku akan cerita tempat tinggalmu di chat, aku mencari tahu di internet soal ini,” ujar Bintang sambil memegang dua jenis daun teh yang baru saja kupetikkan untuknya.

            “Nih, aku tahu daun ini jenis Camelia Sinensis alias teh hijau,” ujarnya sambil mengangkat daun yang lebih ramping. Aku takjub, Bintang mampu mengenalinya. “Nah, kalau yang ini Camelia Asamica alias teh hitam.” Bintang mengangkat lagi daun satunya. Lalu diremas-remaskan dengan jemari dan mencium aromanya. “Teh hijau ini baunya lebih sedap.”

            Senja hampir turun ketika aku dan Bintang kembali ke rumah. Bintang begitu menikmati perjalanan menjelajahi kebun teh. Berfoto dengan para pemetik dan ikut menyaksikan proses penimbangan hasilnya. Bintang juga kuajak melihat isi pabrik pengolahan daun teh. Ya, walau Bintang tak bisa melihat dengan kedua matanya, aku yakin Bintang dapat ikut merasakan, betapa indahnya kebun teh dan juga memahami proses secangkir teh hangat yang sedang ia nikmati senja ini.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/lovrinz-and-friend/matericontoh-plot-novel-dan-setting-tempat/293753080806337


PRINSIP-PRINSIP JURNALISTIK


Oleh Pak Agus Safrudinur

Berikut ini adalah prinsip-prinsip jurnalisme yang dipaparkan oleh mas Farid Gaban dalam acara diskusi “Jurnalis Kita Masih Perlu Belajar”:

1. JOURNALISM’S FIRST OBLIGATION IS TO THE TRUTH
Democracy depends on citizens having reliable, accurate facts put in a meaningful context. Journalism does not pursue truth in an absolute or philosophical sense, but it can–and must–pursue it in a practical sense. This “journalistic truth” is a process that begins with the professional discipline of assembling and verifying facts. Then journalists try to convey a fair and reliable account of their meaning, valid for now, subject to further investigation. Journalists should be as transparent as possible about sources and methods so audiences can make their own assessment of the information. Even in a world of expanding voices, accuracy is the foundation upon which everything else is built–context, interpretation, comment, criticism, analysis and debate. The truth, over time, emerges from this forum. As citizens encounter an ever greater flow of data, they have more need–not less–for identifiable sources dedicated to verifying that information and putting it in context.

Mengarah-Menuju-Meraih KebenaranWalau Jurnalistik, tentu bukanlah kebenaran yang telah melekat pada dirinya sendiri.


2. ITS FIRST LOYALTY IS TO CITIZENS
While news organizations answer to many constituencies, including advertisers and shareholders, the journalists in those organizations must maintain allegiance to citizens and the larger public interest above any other if they are to provide the news without fear or favor. This commitment to citizens first is the basis of a news organization’s credibility, the implied covenant that tells the audience the coverage is not slanted for friends or advertisers. Commitment to citizens also means journalism should present a representative picture of all constituent groups in society. Ignoring certain citizens has the effect of disenfranchising them. The theory underlying the modern news industry has been the belief that credibility builds a broad and loyal audience, and that economic success follows in turn. In that regard, the business people in a news organization also must nurture–not exploit–their allegiance to the audience ahead of other considerations.

3. ITS ESSENCE IS A DISCIPLINE OF VERIFICATION
Journalists rely on a professional discipline for verifying information. When the concept of objectivity originally evolved, it did not imply that journalists are free of bias. It called, rather, for a consistent method of testing information–a transparent approach to evidence–precisely so that personal and cultural biases would not undermine the accuracy of their work. The method is objective, not the journalist. Seeking out multiple witnesses, disclosing as much as possible about sources, or asking various sides for comment, all signal such standards. This discipline of verification is what separates journalism from other modes of communication, such as propaganda, fiction or entertainment. But the need for professional method is not always fully recognized or refined. While journalism has developed various techniques for determining facts, for instance, it has done less to develop a system for testing the reliability of journalistic interpretation.

4. ITS PRACTITIONERS MUST MAINTAIN AN INDEPENDENCE FROM THOSE THEY COVER
Independence is an underlying requirement of journalism, a cornerstone of its reliability. Independence of spirit and mind, rather than neutrality, is the principle journalists must keep in focus. While editorialists and commentators are not neutral, the source of their credibility is still their accuracy, intellectual fairness and ability to inform–not their devotion to a certain group or outcome. In our independence, however, we must avoid any tendency to stray into arrogance, elitism, isolation or nihilism.

5. IT MUST SERVE AS AN INDEPENDENT MONITOR OF POWER
Journalism has an unusual capacity to serve as watchdog over those whose power and position most affect citizens. The Founders recognized this to be a rampart against despotism when they ensured an independent press; courts have affirmed it; citizens rely on it. As journalists, we have an obligation to protect this watchdog freedom by not demeaning it in frivolous use or exploiting it for commercial gain.

* Media dan Wartawan harus memposisikan diri sebagai alat kontrol bagi kekuasaan pemerintah dan pejabat publik
* Media (pemberitaan) sebagai sarana untuk melawan kedzaliman, bukan demi keuntungan komersil. Sebab keuntungan komersil salah satunya diperoleh dari iklan, bukan dari pemberitaan



6. IT MUST PROVIDE A FORUM FOR PUBLIC CRITICISM AND COMPROMISE
The news media are the common carriers of public discussion, and this responsibility forms a basis for our special privileges. This discussion serves society best when it is informed by facts rather than prejudice and supposition. It also should strive to fairly represent the varied viewpoints and interests in society, and to place them in context rather than highlight only the conflicting fringes of debate. Accuracy and truthfulness require that as framers of the public discussion we not neglect the points of common ground where problem solving occurs.

Pers harus menyediakan forum kiritk bagi masyarakat, guna mencari solusi dan kompromi, mengoreksi kebijakan publik pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat.



7. IT MUST STRIVE TO MAKE THE SIGNIFICANT INTERESTING AND RELEVANT
Journalism is storytelling with a purpose. It should do more than gather an audience or catalogue the important. For its own survival, it must balance what readers know they want with what they cannot anticipate but need. In short, it must strive to make the significant interesting and relevant. The effectiveness of a piece of journalism is measured both by how much a work engages its audience and enlightens it. This means journalists must continually ask what information has most value to citizens and in what form. While journalism should reach beyond such topics as government and public safety, a journalism overwhelmed by trivia and false significance ultimately engenders a trivial society.

Sampai pembahasan akhir nanti, kita akan menelaah hal-hal yang berhubungan dengan watak atau karakter, sikap wartawan sehubungan dengan profesinya.
Wartawan harus bekerja, berjuang semaksimal mungkin agar dapat menyuguhkan hasil liputan yang menarik, mengemukakan nilai-nilai yang dapat membangkitkan semangat masyarakat untuk meraih cita-cita atau kepentingan bersama.
Harus membina hubungan harmonis antara media, masyarakat dengan lembaga-lembaga pemerintah, pantang "mengadu domba".


8. IT MUST KEEP THE NEWS COMPREHENSIVE AND PROPORTIONAL
Keeping news in proportion and not leaving important things out are also cornerstones of truthfulness. Journalism is a form of cartography: it creates a map for citizens to navigate society. Inflating events for sensation, neglecting others, stereotyping or being disproportionately negative all make a less reliable map. The map also should include news of all our communities, not just those with attractive demographics. This is best achieved by newsrooms with a diversity of backgrounds and perspectives. The map is only an analogy; proportion and comprehensiveness are subjective, yet their elusiveness does not lessen their significance.

Inilah azas #‎Keseimbangan dan konsep #‎Menyeluruh dari berita.Artinya, wartawan harus selalu menyajikan berita yang tidak berat sebelah, tidak memihak dan informasi dari berita itu tidak boleh setengah-setengah, agar masyarakat dapat memahami dan punya solusi untuk suatu masalah yang dihadapi.
Media diharapkan dapat menjadi "peta" penunjuk jalan, ketika masyarakat hendak meraih cita-citanya.
U


9. ITS PRACTITIONERS MUST BE ALLOWED TO EXERCISE THEIR PERSONAL CONSCIENCE
Every journalist must have a personal sense of ethics and responsibility–a moral compass. Each of us must be willing, if fairness and accuracy require, to voice differences with our colleagues, whether in the newsroom or the executive suite. News organizations do well to nurture this independence by encouraging individuals to speak their minds. This stimulates the intellectual diversity necessary to understand and accurately cover an increasingly diverse society. It is this diversity of minds and voices, not just numbers, that matters.
Nara Sumber: Farid Gaban (TEMPO)
Unlik

Para wartawan harus berlatih dan mengasah terus menerus ketajaman pikiran dan hati nurani pribadi masing-masing, orang per orang.
Maksud dan tujuan selalu memelihara kualitas diri dan kepribadian, adalah untuk senantiasa mampu menjaga dengan #‎teguh etika profesional, kejujuran, bertanggungjawab paling tidak secara moral kepada keadilan demi meraih kebenaran yang dijadikan pedoman kerjanya. Sikap-sikap batiniah/mental itu tentu harus selau dilatih dan diperbaharui, setidak-tidaknya oleh diri sendiri.
Semua yang telah saya uraiakan, tentu adalah hal-hal ideal yang memang menjadi idaman setiap jurnalis dan calon jurnalis. Walau fakta di lapangan, tentu saja bisa berlainan kondisinya.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/lovrinz-and-friend/prinsip-prinsip-jurnalistik/320973574750954

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI