Google+ Followers

Selasa, 07 Juli 2015

Pada Akhirnya Cinta Itu Sederhana

Telah meninggal dunia karena kecelakaan lalulintas.... 

Syuuut, aku bangun terduduk dengan keringat mengucur. Kulihat jam dinding, subuh masih satu jam lagi. Sayang sekali aku sedang berhalangan. Aku butuh curhat, mimpi barusan membuatku tak tenang. Kau mengalami kecelakaan mobil, namamu muncul menjadi berita utama lengkap dengan fotomu besar-besar di sebuah koran. Astaghfirullah....aku tidak bisa membedakan yang mana firasat, yang mana luapan rindu dan khawatir yang berlebihan. Semoga saja, ini hanya karena aku sempat membaca statusmu, bahwa kau besok siang mudik ke desa dengan menyetir mobil sendiri.

Saat mimpi tentangmu begitu mengerikan, aku teringat sempat berfikir, barangkali kehilangan kehilangan dengan cara lain tidak akan sesakit ini. Barangkali jika dipisahkan maut, segalanya lebih ringan. Bukan, bukan berarti aku punya pikiran membunuhmu seperti yang dilakukan ABG-ABG labil terhadap mantannya belakangan ini. Tidak sejauh itu. Aku hanya membayangkan, barangkali jika hubungan kita baik-baik saja dan Tuhan mengambilmu dengan cara lain, aku tidak sesedih ini.

Aku salah, ternyata tidak seringan itu. Bahkan baru memimpikannya saja keringatku mengucur deras, jantngku berdetak cepat. Aku mengucap istighfar berkali-kali. Ini mimpi, semoga ini hanya mimpi. Bukan firasat, bukan pertanda, bukan hukuman atas pikiran anehku. Maafkan aku Abang, aku bukan mendoakanmu cepat mati. Bukan itu mauku.


Lalu urusan cintaku mendadak sederhana. Aku berdo'a sepanjang waktu, semoga kau baik-baik saja, semoga kau sehat-sehat saja. Urusan menjadi istrimu, urusan menjadi madumu, urusan bertemu, urusan rindu, urusan lain menjadi kalah penting dibanding keselamatanmu. Aku bukan takut akan merasa bersalah ketika kau celaka, aku lebih takut kau celaka daripada rasa bersalah itu sendiri. Aku ingin kau baik-baik saja. Aku mohon baik-baik saja lah kau di sana. 


Itulah yang membuatku kebingungan mencarimu kesana kemari. Aku ingin tahu kabarmu. Aku ingin memberi pesan agar kau berhati-hati, orang bilang firasat buruk akan batal terjadi bila kita sampaikan. Aku tak pernah percaya mitos, tapi aku melakukannya. Setidaknya bukan mitos yang kupercayai, tapi mengingatkanu berhati-hati barangkali cukup berguna agar kau mengecek kembali semua persiapan perjalananmu.


Dan syukurlah. Terimakasih kau baik-baik saja. Alhamdulillah kau sehat-sehat di sana.


Aku jadi memahami, apa yang dirasakan seseorang laki-laki yang begitu mengkhawatirkanku, laki-laki yang mencintaiku dengan sisa usianya tapi tak lagi mendapat tempat di hatiku. Aku selama ini menganggapnya mengada-ada dengan pesan-pesannya, bahwa dia memimpikanku kecelakaan, bahwa dia punya firasat buruk tentangku. Maaf, selama ini aku mencibir membaca pesanmu wahai teman lama. Kali ini aku mengalaminya untuk si Elang.

1 komentar:

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI