Google+ Followers

Rabu, 08 Juli 2015

Katakan Ya, untuk Berhijab!

Katakan Ya untuk Berhijab!
oleh Mohammad Agus Riwayanto

Di era modern ini, wanita berhijab seringkali dianggap kolot, tidak gaul, dan sok alim. Bahkan yeng lebih parah, ketika para muslimah itu memakai cadar, mereka diidentikkan dengan teroris. Padahal pandangan seperti itu merupakan pandangan dangkal. Sebab pada kenyataannya, belum ada dalam sejarah ada wanita teroris yang jadi pembantai seperti Hitler atau seperti Biksu Rohingya. Lebih miris lagi, pandangan seperti itu ditelan mentah oleh umat islam sendiri. Alasannya karena istri para tersangka teroris kebanyakan bercadar. Jika begitu, kenapa kita tak berpikir pula bahwa semua orang botak itu teroris, biar adil? Menggelikan, bukan?

Di luar semua permasalah tadi, beruntunglah kita. Sebab semakin ke sini semakin banyak bermunculan para muslimah inovatif dan tangguh. Yang mampu mengangkat nilai-nilai hijab tak hanya sebagai bentuk ketaatan, tapi juga sebagai fashion. Fashionnya pun tidak saja mempertahankan nilai syari?ah tapi juga membuat hijab terkesan anggun dan modren. Tengok nama-nama seperti Dian Pelangi, Oki Setiana Dewi, Meyda Sefira, Zaskia Adya Mecca, dan Dewi Sandra.

baca juga Cara Meningkatkan Minat Membaca
                10 Kebiasaan Baik dalam Menulis

Dilihat dari zaman merajalelanya informasi di ranah media, memang begitulah seharusnya. Muslimah harus kuat. Gempuran media harus pula dilawan media, agar masyarakat awam tak bisa disesatkan dengan mudah.

Setelah sedikit menilik dari posisi wanita, tak kalah pentingnya untuk menilik hijab dari posisi muslimin. Tak hanya yang telah beristri, yang masih lajang pun penting untuk mempelajari tentang hijab. Di samping agar mampu menuntun keluarganya juga agar bisa menjadi pemimpin yang amanah. Karena pada merekalah perbuatan istri dipertanggung jawabkan.

Patutlah kiranya bagi para muslimin yang sedari awal telah memiliki pasangan berhijab untuk bersyukur. Sebab, beban mereka pada hal tersebut menjadi terasa ringan. Namun bagi para muslimin yang beristri perempuan yang masih enggan berhijab, maka wajiblah kiranya ia untuk memberi nasehat.

Baca juga tentang Hijab lainnya Hikmah Berhijab 
Hijab (bukan) Parameter Keimanan. 
Aku dan Hijab 1 
  Aku dan Hijab 2 
Katakan Ya, untuk Berhijab 
Percayalah, Hijab Membuatmu Tak Diganggu 

Nasehat tak harus dengan perintah, tapi dengan memberi wawasan dan pemahaman yang cukup pun termasuk nasehat. Di sinilah tantangan para suami. Agar proses hijrah sang istri tak terkesan penuh paksaan, mereka dituntut untuk mampu berinovasi. Berinovasi dalam hal memberi wawasan.

Beberapa bentuk wawasan yang bisa dipakai antara lain, memperkenalkan hijab dari segi kesehatan, segi spiritual, tak lelah memotivasi dan tak lupa, ketika sang istri masih labil dalam berhijab, perlulah kiranya untuk memberi pujian tentang bagaimana ia begitu anggun keyika berhijab. Dengan begitu diharapkan sang istri bisa menjadi sebenarnya muslimah dengan proses hijrah yang baik dan lahir dari kesadaran sendiri. Tidak ada lagi rasa terpaksa.

Sedang untuk para muslimin yang masih lajang, cermat-cermatlah dalam mencari pendamping. Mengutip sebuah filosofi yang sudah terkenal di media, perempuan berhijab diibaratkan permen. Tentunya kalian para lajang tak akan mau bila disodori permen yang telah terbuka dari bungkusnya, bukan?

Memperhatikan sebuah pepatah yang mengatakan, ?Runtuhnya sebuah bangsa tergantung dari wanitanya.? Maka dari itu, kepada seluruh umat islam di berbagai sendi, mari kita katakan ?Ya? untuk berhijab. Sebab mereka, para muslimah adalah madrasah pertama generasi penerus. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

AM. Hafs
Singosari, 06 Juli 2015

2 komentar:

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI