Google+ Followers

Rabu, 08 Juli 2015

Hikmah Berhijab

Hikmah Berhijab

By. Lila Sulis


Tiada kata selain syukur kepada Sang Pencipta karena telah memberi hidayah pada diri yang penuh dosa. Ya, betapa bahagianya jiwa ketika sebuah angan mampu terwujud dalam nyata. Bukan hal yang mewah untuk dunia. Akan tetapi, sesuatu yang mampu memberi makna begitu dalam. Apakah itu? Jawabannya adalah “Hijab”. Dulu, enam tahun silam, saat kelas dua SMA, mungkin hanya bisa memandang teman yang tertutup aurat sambil berkata dalam hati. Betapa indahnya dia saat semua tubuh tertutup, tak mengumbar apa yang semestinya ditutupi. Dia persembahkan segalanya kepada sosok yang halal tentunya. Saat itu hatiku iri, kapan aku seperti dia? Pantaskah bila diri ini bisa sepertinya? Berbagai tanya bergejolak dalam jiwa. Antara iya dan tidak, karena keberanian belum terbentuk sepenuhnya. Apakah orang tuaku mengijinkan? Apakah ada yang akan menghujat dengan perubahanku nanti? Tapi, keinginan ini begitu kuat. Sayangnya, ibuku masih menolak. Alasannya sederhana, karena biaya untuk membeli seragam baru tidak ada. Lagipula kurang setahun lagi. Akhirnya, kuurungkan niat ini. Berharap kelak bisa punya uang sendiri untuk membeli pakaian muslimah. Setahun kemudian, aku lulus SMA. Cerita sedih kembali mengusik batin. Bapak tak mengijinkan untuk sekolah lagi. Hemmm, lagi-lagi alasan ekonomi ... keempat adikku sekolah semua, hanya yang terakhir masih kecil. Menangis? Pasti iya, aku tak mampu melawan jika orang tua sudah memutuskan. Bermodal nekat, kucoba mendaftarkan diri untuk bekerja di Malaysia. Singkat cerita, dengan segala kepasrahan pada Yang Maha Kuasa, aku menguatkan diri. Dalam hati berkata ‘Ya Allah, jika Engkau memang menakdirkanku mencari rejeki di sana, pasti seleksi ini bisa lulus. Tapi jika sebaliknya, berarti ada tempat lain yang Engkau siapkan untukku’. Mengapa berdoa seperti ini? Karena saat tes kesehatan, aku sedang batuk kronis dan demam. Ternyata ini yang terjadi, aku dinyatakan ‘LULUS’. 


Baca juga tentang Hijab lainnya Hikmah Berhijab 
Hijab (bukan) Parameter Keimanan. 
Aku dan Hijab 1 
  Aku dan Hijab 2 
Katakan Ya, untuk Berhijab 
Percayalah, Hijab Membuatmu Tak Diganggu 
 
 Seminggu kemudian berangkat. Pagi itu, adalah awal niatku untuk memakai hijab, dan insya Allah untuk seterusnya. Tak ada lagi baju pendek atau rok mini yang terbawa. Sengaja, agar setiap ada rejeki dialokasikan untuk membeli baju muslimah walau hanya satu pasang. Ternyata memang ada saja ujian untuk menuju kebaikan. Di saat aku sedang berproses memperbaiki diri, ada di antara mereka yang mengejek. “Apa gunanya pakai jilbab? Halah, aku gak percaya kalau Lila bakal betah. Paling gak lama lagi dilepas, kayak yang lainnya. Mending biasa aja kayak gini,” ucapnya dengan nada sinis. Ada lagi yang menjelek-jelekkan dengan kalimat lain, pokoknya macam-macam. Tapi, niat tetap niat. Selama berada pada jalan yang benar, kan kupertahankan walau ujian terus melanda. Ini adalah tantangan, seberapa besar iman kita untuk teguh berpendirian. Toh juga sudah disebutkan dalam Al Qur’an, bahwasannya berhijab adalah kewajiban perempuan muslim. Alhamdulillah, Allah SWT selalu memberi kemudahan. Hingga aku bisa bertahan merantau di Batam selama empat tahun lebih. Ya, tentunya setelah dua tahun kontrak di Malaysia. Banyak hikmah setelah berhijab. Satu lagi, berhijab tak menghalangi kita untuk beraktivitas. Bukan pula alasan untuk bermalas-malasan. Justru kita termotivasi untuk terus memperbaiki diri. No body is perfect. Kata Pak Ustad,”Yang dinilai Allah SWT adalah prosesnya, bukan hasil akhirnya. Semakin kita mendekat pada-Nya, semakin besar pula kasih sayang Allah pada kita.”

1 komentar:

  1. Kamu sesederhana tulisanmu, Dik. Tapi penuh makna.

    Semoga menang.

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI