Google+ Followers

Rabu, 08 Juli 2015

Hijab (bukan) Parameter Keimanan

Hijab (bukan) Parameter Keimanan

By, Firdaus Ilo


Kualitas keimanan seorang muslimah tidak ditentukan dengan seberapa luas hijab yang ia kenakan. Namun, hal tersebut bisa menjadi tolak ukur seberapa besar niat muslimah tersebut mencintai kekasihnya. Allah Swt.  

Baca juga tentang Hijab lainnya Hikmah Berhijab 
Hijab (bukan) Parameter Keimanan. 
Aku dan Hijab 1 
  Aku dan Hijab 2 
Katakan Ya, untuk Berhijab 
Percayalah, Hijab Membuatmu Tak Diganggu 

Seorang wanita yang telah menyakini, melafalkan dan mengikrarkan jiwanya dengan dua kalimat syahadat wajib berhijab. Namun fakta di lapangan sangat berbeda. Lebih dominan terlihat muslimah tanpa hijab. Survei sederhana dengan mudah bisa kita lakukan, masuklah ke dalam angkutan umum. Perhatikan berapa jumlah wanita, survey berapa yang beragama Islam serta bandingkan berapa yang berhijab dan tanpa hijab. Hasilnya bisa Anda share di bagian komentar.

Menilik fenomena enggan berhijab karena alasan klasik. Belum siap sebab keimanan belum mumpuni. Padahal menilik kembali, syarat memakai hijab hanya satu yaitu muslimah. Bukan seorang ustadzah, anak ustadz ataupun seorang wanita yang bergelar Hj di depan namanya. Bukan pula diperuntukkan bagi mereka yang taraf ekonomi atas, sedang, atau bawah. Intinya, hijab bukan untuk golongan tertentu



Selain itu, banyak pula diantara yang berhijab namun tidak sesuai syariat agama. Antara lain, berhijab menggunakan kain tipis sehingga tampak berbayang, berhijab hanya sebatas leher tanpa menutupi bagian dada, dan berhijab tapi pada bagian belakang kepala sengaja dibentuk gundukan mirip punuk unta. Hal tersebut jelas bertentangan dengan yang telah diajarkan oleh  syariat agama Islam.
Rasulullah Saw bersabda :
          “Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku melihat keduanya. Kaum yang membawa cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia (maksudnya penguasa yang dzalim), dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, cenderung kepada kemaksiatan dan membuat orang lain juga cenderung kepada kemaksiatan. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang berlenggak-lenggok. Mereka tidak masuk syurga dan tidak mencium wanginya. Padahal bau wangi syurga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian waktu. “HR. Muslim dan yang lain)

                10 Kebiasaan Baik dalam Menulis

Adapula cara berhijab yang sesuai agama yaitu hijab yang menutupi aurat wanita (red : yang terlihat hanya bagian wajah dan kedua telapak tangannya hingga pergelangan). Hijab tidak membentuk lekukan tubuh dan hijab hendaknya menjulur hingga menutupi bagian dada, seperti firman Allah Swt pada surah An-Nur : 31

“…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami, ayah …,”

Sejatinya, perintah berhijab itu berasal dari Allah Swt. Ketika seorang muslimah enggan memakai hijab dengan alasan tertentu. Maka, muslimah tersebut telah menentang Dzat yang telah menciptakannya. Dzat yang telah memberinya kehidupan. Dzat yang telah memeliharanya. Dzat pemilik segalanya. Allah Swt.

1 komentar:

  1. Hidayah itu dijemput. Bukan ditunggu sambil santai-santai.

    Semoga menang

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI