Google+ Followers

Minggu, 05 Juli 2015

Cemburulah Kemarin [2]

18 Juni 2015

Sky tak menyangka berani menginjakkan kaki di kota ini lagi. Kota yang sempat membuatnya merasa nyaman, lalu terasa kosong, hanya karena seseorang, Elang-begitu Sky menuliskan namanya di dalam hati.

Berbekal apa yang telah disematkan oleh Ibu, Sky berangkat ke Surabaya dengan kereta Subuh. Selepas sholat subuh di dalam gerbong yang hanya berisi tiga orang itu, Sky memandang keluar jendela. Yang ada hanya gelap, dan pantulan wajahnya yang membalas senyum ragunya.

Sama sekali tak sepenuhnya berani. Hanya keyakinan bahwa Allah mempercayainya merasakan semua ini, keyakinan bahwa Allah tak mungkin salah hitung pada kemampuan hatinya, yang membuat Sky mengambil resiko.

Hari pertama di Surabaya, Sky tak mampu bertahan lama. Hatinya kosong dan takut. Lagipula ponselnya tertinggal di rumah. Maka malam itu juga dia kembali pulang, melewatkan tarawih malam kedua.

Jalan yang dilaluinya, jalan yang sama dengan yang pernah dilewatinya bersama Elang, hanya beberapa ratus meter dari rumah Elang. Entah takut, atau justru ingin bertemu tak sengaja, Sky mengendara motor sambil berusaha melihat mobil-mobil sampai pejalan kaki dengan teliti.

Di sini aku belajar hidup lagi. Menjadi manusia baru.
-
Setelah pulang di hari pertama, Sky bertahan selama seminggu di Surabaya. Kesibukan kantor, target-target di bulan ramadhan dan tugas dari Ibu cukup menyita pikirannya. Hidup serasa normal. Ngabuburit sepulang kerja, tarawih, kemudian hunting buka puasa menjelang larut malam, membuatnya bersemangat.

Suatu hari bahkan Via sahabatnya mengajak jadi PPT (Para Pencari Takjil) di kampusnya. Membaur dengan mahasiswi-mahasiswi menikmati takjil sederhana di masjid kampus. Kampus Via, kampus yang sama dengan kampus tempat Elang belajar. Elang, selalu Elang...

Pertama kali mengantar Via ke kampus, Sky merasakan hatinya haru. Apalagi melewati almamater Elang. Sky melambatkan motor, merasakan hawa di sana. Barangkali ini udara yang sama yang Elang hirup beberapa tahun lalu, yang membentuknya seistimewa sekarang.

Di sinilah Elang menempa diri, membentuk karakter seperti yang kukenal. Jiwa yang kuat, semangat dan tekad yang keras, keimanan yang mendasari setiap langkah, sosok yang benar-benar istimewa. Sky membenak.

26 Juni 2015

Seminggu terlewati Sky memutuskan pulang sejenak. Memberi vitamin hatinya di rumah, kemudian kembali ke dunia nyata di hari Jumat pagi.

Ya, hari itu jumat. Sky keluar dari kantor jam lima tepat. Migrain menyerangnya mendadak. Mengendara motor perlahan. Kemudian matanya tertuju pada mobil di tepi jalan. Mobil cokelat muda, warna yang sama dengan mobil Elang. Sky selalu awas pada mobil berwarna senada, berbentuk sedan, entah apapun merknya. Selalu saja menduga-duga apakah itu Elang? Berlebihan mungkin. Dari sekian banyak mobil sedan berwarna sama di Surabaya, berapalah kemungkinannya untuk ditempatkan pada koordinat yang sama dengannya di suatu dimensi waktu yang sama pula.

Tapi, mata Sky menangkap sebuah deretan angka yang amat dihafalnya, bentuk lampu belakang yang juga dikenalnya. Kali ini, di antara ratusan kali bertemu mobil sejenis, Allah menentukan Sky melihatnya.

Semakin dekat, semakin keras detak jantungnya. Antara kecewa kenapa harus bertemu, dan kerinduan yang tiba-tiba mengembang ingin bertemu. Sky melambatkan motor, melewati sebelah kanan, menoleh ingin sekedar memastikan.

Tiba-tiba tangannya memutuskan lain. Gas ditarik mengencang, melaju pulang. Sky tidak menduga reaksinya justru begitu. Sempat ingin putar balik, ingin melihat. Perang batin mebuat tangannya sedingin es di dalam sarung tangan kulit di panasnya Surabaya sore hari.

Hafs  : Mungkin reflek menghindar itu sebab memang lebih banyak alasan untuk tidak bertemu daripada sebaliknya.
Hafs  : Terkadang pertemuan-pertemuan itu juga hadir sebagai ujian tentang rasa. Yang akan memberi gelar lulus ketika di hadapannya kita tak merasakan apa-apa.
Sky   : Dan aku belum lulus?
Hafs  : Belum lulus, itu salah satu hikmahnya. Mungkin nunggu tugas Ibu kelar J
Hafs  : Sambil memperhitungkan kembalihal-hal yang mungkin bisa dilakukan bila kebetulan dipertemukan lagi. Ketakutan itu ada dan hilang untuk dihadapi.

Jangan hindari? Lalu aku harus menampakkan diri di hadapannya? Muncul di depannya yang sedang bersama komunitasnya dan mungkin juga gadis itu?

Sky sangsi dia bisa melakukan itu. Dia tahu tabiatnya sendiri. Ada sisi dirinya yang mencibir.
Tapi dia merasa, dalam Ramadhan ini pasti akan ada lagi setidaknya satu pertemuan lagi, entah di mana atau seperti apa. Mungkin juga hanya bertemu mobilnya seperti tadi.

[bersambung]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI