Google+ Followers

Sabtu, 04 Juli 2015

Cemburulah Kemarin [1]

2 Juli 2015

Bip bip...

Hafs  : Apakah kini kau sadari, Aku cemburu dengan caramu mencintainya?

Bait demi bait masuk ke dalam ponselnya. Dialog panjang tentang dua sisi kehidupan yang bersamaan menggedor kesadarannya. Azkina menatap ponsel dengan gamang. Allah menegurnya persis seperti yang dia minta. Keras, gamblang, jelas.

16 Juni 2015
“Tidak apa, lakukan keduanya, biar dunia akhiratmu berjalan berimbang. Fiddunya khasanah wa fil akhrati khasanah,” begitu jawab yang didengarnya, menenangkan, mendamaikan.

Azkina tak ingin melepas salah satu, tapi menjalani hidup di dua kota yang berbeda juga tak mungkin. Kemudian Ibu memberinya jalan keluar terbaik.

Migrain sempat menyerangnya sebelum berangkat ke sini tadi. Bingung memikirkan berbagai pilihan yang datang pada saat bersamaan. Menuju tempat ini rasanya seperti akan berangkat ke medan perang, berat. Tak sepenuhnya salah karena ke sini adalah bermakna komitmen jangka panjang. Tapi tak sepenuhnya benar juga karena tempat ini begitu damai, jauh dari tampilan medan perang.

 Kedatangannya cukup menarik beberapa pasang mata mengamati. Bukan hanya penampilannya yang berbeda, tapi barangkali juga sikapnya.

Azkina duduk menunggu di ruang tamu yang lantainya ditinggikan selutut dari pelataran. Sudah pun ditinggikan, masih pula bersofa, bukan lesehan. Terasa makin menjulang dibanding gadis-gadis muda bersarung batik yang lalu lalang di pelataran.

Kemudian ada salah satu dari mereka yang mendekat ke arah ruang tamu, menekuk lutut ke lantai, berjalan dengan kedua lututnya. Azkina masih takjub, bingung harus bereaksi bagaimana, hanya secepatnya menurunkan kaki kanannya dari kaki kiri. Rasanya seperti diperlakukan berlebihan.

Dipun tenggo sekedhap, nggih. Ditunggu sebentar, ya. Masih ada tamu di dalam,” kata gadis itu sambil menunduk.

Inggih,” jawab Azkina.

Sekitar dua puluh menit kemudian ada dua gadis menghampirinya lagi.

Monggo nenggo wonten nglebet kemawon. Ngapunten, Panjenengan paring asmo sinten? Silakan menunggu di dalam saja. Maaf, Mbak namanya siapa?”

Azkina gugup menjawab karena dua gadis itu tak hanya mengulurkan tangan mengajak bersalaman, tapi juga mencium tangan Azkina. Sebegitu tingginya mereka menghormati tamu.

“Azkina....”

Azkina mengikuti keduanya ke ruang tamu dalam. Ruangan tamu dalam yang dimaksud sesungguhnya justru di luar, dikelilingi pelataran dalam berlantai paving dan pepohonan rindang. Ada dua set kursi tamu yang disatukan memanjang. Azkina mengambil tempat paling dalam, ingin mengamati kegiatan orang-orang di sini.

Besok 1 Ramadhan. Terlihat beberapa gadis berjongkok bertelanjang kaki menggosok paving, mempersiapkan tempat tarawih sepertinya. Ceria, dan penuh semangat. Ada lagi yang sedang membaca buku di teras. Di ujung sana ada ruangan penuh dengan jamaah sholat yang belum bubar.

Ada yang berdesir di hatinya. Azkina merasa pulang, tapi pada saat yang sama dia merasa sangat asing di tempat ini.

Saat akhirnya bertemu Ibu, dia makin tersiksa dengan perasaan itu. Apa yang salah? Rasanya Azkina sudah berusaha berbahasa Jawa terhalus yang dia bisa. Tapi rasanya belepotan.

Azkina membandingkan diri dengan gadis-gadis itu. Hatinya basah. Dia sudah jauh tertinggal. Sorot matanya tidak seteduh mereka. Bahkan Azkina bingung kapan harus menunduk atau melihat saat berbicara. Badannya tidak lagi otomatis bersikap tawaddu’, semua serba penuh perhitungan dan pemikiran, khawatir dianggap terlalu ‘berani’, tidak ada yang alami.

Hidup yang selama ini biasa baginya mendadak terasa sangat salah mengajarkan makna keberanian. Hatinya keras. Matanya terlalu nyalang. Entah sudah berapa kali dia beradu argumen dengan rekan kerja atau kawan, bahkan bila itu atasan. Azkina sebenarnya bukan orang talkative, tapi saat ditekan bisa sangat keras melawan.

Ibu, memakluminya. Begitu lembut menatap Azkina yang seperti tertatih-tatih memutuskan ke sini. Mendengar semua inginnya. Tanpa bertanya, kenapa Azkina tiba-tiba pulang.

“Kembalilah. Dia bisa menjadi teman terbaikmu di saat sendirian. Jangan lagi kau lepaskan,” begitu pesan Ibu.

Lalu buncah di hatinya seakan tak terbendung. Azkina tak tahu apa namanya. Azkina sama sekali tidak bercerita. Hanya barangkali naluri seorang ibu selalu tahu tanpa bertanya. Kalau tak malu, rasanya ingin bersimpuh memeluk kaki wanita di hadapannya.

Azkina tidak lagi merasa sendirian. Hatinya yang kering mendadak seperti basah. Matanya yang tak pernah basah oleh air mata lalu menghujan.


Aku pulang Allah. 

[bersambung]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI