Google+ Followers

Kamis, 09 Juli 2015

Arah Yang Tak Ada di Mata Angin

Hujan di Surabaya 1 Jan 15
Seketika air ditumpahkan Tuhan dari langit. Deras dan semakin deras.
Rupanya memang hujan belum mau bersahabat dengan kita, karena hingga kini belum sekali pun hujan kulalui bersamamu.
Lalu semua buram. Jarak pandangku memendek. Jalanan di depan tak terlalu jelas terlihat.
Seperti ketika kita berjalan bersama menuju arah yang tidak ada di mata angin. Aku bertanya, akan ke mana kita? Hanya canda dan gelengan yang kudapat. Aku bertanya lagi, ke mana kita? Dan kedua kalinya gelenganmu meretas temali harap. Aku lalu mengerti kamu ingin berjalan sendiri. Sendiri? Entahlah. Setidaknya bukan denganku.
Jalanan berputar. Takdir mempertemukan kita kembali. Atau barangkali kakiku lah yang memang selalu menujumu? Entah. Setahuku aku sengaja menghindarimu agar kita tak saling menghalangi. Tapi ternyata kita bertemu. Kita duduk bersama dan bercanda lagi. Lalu kau mulai berjalan. Aku? Ikut atau berhenti?
Karena tak mungkin kau bermain-main setelah tahu seberapa sakit yang kurasakan akibat perpisahan. Kita berjalan cepat. Aku merasakannya. Cepat bagiku...meski amat lambat bagi orang lain. Aku bertanya, ke mana kita kali ini? Tapi pertanyaan itu hanya terucap di hati.

Kita terus berjalan. Menuju arah yang tidak ada di mata angin.


#reinhaart
#misszafriana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI