Google+ Followers

Rabu, 08 Juli 2015

7 Langkah Menulis Menjadi Mudah

Pernahkah ada di antara kalian, usai membaca sebuah artikel lalu bertanya ‘kok bisa ya nulis artikel seperti ini?’. Atau: artikelnya bagus banget, bikin iri deh.. Atau perasaan lainnya yang justru membuatmu semakin minder karena sejauh ini rasanya belum tampak ke permukaan tanda-tanda bakat menulis yang terpendam. Eits, tunggu dulu, menulis bukan soal bakat bro and sist! Menulis adalah ketrampilan dinamis yang kudu dilatih tiap hari, tiap waktu.

Mereka yang kamu anggap tulisannya bagus, membuat hujan turun di sudut gelap matamu (meminjam istilah Sheila On 7), termehek-mehek, atau bikin gerimis hatimu (duileh), percayalah, dulu juga seperti kamu. Mereka, para penulis kondang yang biasa memacak artikelnya via media apapun, juga terseok-seok saat memulai kariernya di dunia persilatan mengeja kata.

Yang membedakan hanyalah, mereka memiliki stok ketabahan untuk belajar menulis tandas tanpa henti. Tak usah peduli omongan orang lain, mereka terus saja menulis, menulis dan menulis. Namun, tetap saja menulis tak semudah membalikkan telapak tangan. Pula, kalau mau jujur, tak sesulit memindah gunung. Ia bisa dipelajari.

Untukmu yang sedang gelisah — entah masalah gebetan, galaknya calon mertua, ketidakpastian hidup, gagal paham kebijakan pemerintah, terlilit utang, kuliah yang tak kunjung berlabuh di ajang wisuda, atau pelbagai masalah lainnya, berikut ada 7 (tujuh) langkah menulis agar aktivitas ini menjadi mudah.

1. Gali ide sebanyak-sebanyaknya.

Ide apa ya hari ini? via http://mgi-nanospray.com

Konon menurut sebuah penelitian, tiap hari manusia dianugerahi lebih dari 1.000 ide. Dan yang dimanfaatkan tak lebih hanya 1 persen. Apa??!! Yah, hanya 10 ide yang kita wujudkan tiap hari, itu pun kalau mau. See? Sebenarnya kita masih punya kesempatan untuk mengeksplorasi ide yang datang dan pergi begitu saja.
Lalu darimana ide menulis paling ideal? Membaca. Baca apa saja: surat kabar, majalah, tabloid, siaran televisi, radio, running text, fenomena alam, perilaku politisi, aura wajah dosen, nasihat ayahmu, dan semua-muanya. Pokoknya banyak. Dari sana nanti niscaya kamu akan peroleh ide. Ide yang sayang untuk kamu lewatkan.
Prinsip pertama yang mesti kita pegang: “If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot”.
Udah, syaratnya cuma dua ini, nggak perlu pakai fotokopi KTP kok..

2. Kemana-mana bawa blocknote, ballpoint, atau apalah-apalah lainnya.

Catat berbagai ide menulis yang datang via http://anza-123.wordpress.com

Tuan-puan yang kami hormati, ide itu mahal harganya. Bisa saja pas kita antre kamar mandi (ceileh anak kos banget) mendadak kita dapat ide. Nungguin busway, jemputan pacar, atau cucian kering, kita mendapat ide yang melintas di kepala. Catat saja, jangan sampai melintas sia-sia. Garis besarnya saja.
Maka, itulah gunanya kertas yang wajib dibawa kemanapun kamu pergi. Bawa saja notes kecil. Lagipula hampir semuanya kini menenteng smartphone. Tulis saja di note, atau di pesan. Kini tak ada lagi alasan kamu lupa mencatat ide.

3. Buatlah outline tulisan yang kamu inginkan.

Outline akan mempermudah via http://maschun.blogdetik.com

Outline ini gunanya untuk mempermudah kamu mengembangkan tulisan. Setelah garis-garis besar haluan ide menulis telah kamu catat, kini saatnya memindahkan ke laptop. Tulis saja ide tadi. Lalu kamu kembangkan, kamu kaitkan hal apa sajakah yang mesti kamu tulis.

Misalnya saja kamu ingin menulis artikel kuliner khas kota A. Yaudah, kamu tinggal inventarisir saja macam-macam kulinernya. Tulis daftar kuliner tadi sebanyak-banyaknya. Nanti tinggal diseleksi, kuliner mana yang ingin kamu tunjukkan kepada dunia. Tak usah banyak-banyak, biar bisa detail dan mendalam.
Kamu paparkan mulai dari (ini hanya contoh): nama kuliner, alamat, rute dan jarak dari pusat kota, rasanya, sensasi yang didapat setelah menikmati, sejak kapan kuliner itu berdiri, jadwal buka-tutup penjaja kuliner, dan harga. Atau boleh ditambah jumlah karyawan, luas bangunan, dan SHM milik sendiri atau tidak (tiga yang disebut terakhir murni ngaco bos…hehe).

Kalau ingin menulis tentang gundah-gulananya menghadapi calon mertua? Gampang, tulis saja perasaanmu sekarang seperti apa: deg-degan, nervous, kecewa, benci, marah, atau mulai pasrah karena merasa sudah suratan takdir dan sejarah? Tulis saja.

Baca juga :

Lalu beri alasan kenapa perasaan seperti itu dominan merasuki kalbu. Kira-kira penyebabnya apa? Tulis saja. Tak berhenti di situ, kamu segera beranjak ke usaha yang kamu lakukan agar perasaan seperti itu tak muncul lagi: bisa membuka audisi calon mertua hebat, meningkatkan kualitas diri, mendekatkan kepada Ilahi, atau menangis tujuh malam-tujuh hari.
Minimal, dengan menulis kamu akan merasa terobati. Percayalah!

4. Tulislah yang paling dekat denganmu.

Jangan bingung, tulis yang paling dekat denganmu via http://cara-ririn.com

Kalau kamu suka naik gunung, tulislah tips dan trik naik gunung yang aman, selamat dan sentausa. Kalau kamu suka memasak, buat saja aneka resep masakan yang belum pernah ada di muka bumi ini. Suka patah hati? Tulis saja warna hati yang telah runyam. Tak mengapa.
Seorang guru, misalnya, tentu akan mudah menulis yang tak jauh-jauh darinya: dunia mengajar. Karena melihat tingkah polos murid adalah melihat bangsa di masa yang akan datang (wah, kayak sambutan Mendikbud nih).

Baca juga : TIPS: Asyik, Cara Cepat Ajarkan Anak Membaca! 

Bagi yang suka utak-atik barang elektronik, apalagi yang berani bongkar tak terima pasang, tulis saja beberapa langkah memperbaiki laptop atau rice cooker atau mesin pompa air, misalnya. Tak perlu menulis bidang yang tak kamu kuasai. Apa ya tega kita meminta anak teknik untuk menulis kondisi fiskal dan moneter dalam negeri setelah laju inflasi tak terkendali di saat harga kebutuhan pokok meroket tak terkendali jelang Ramadhan tahun ini? (waduh, ngomong apa ini….)

5. Tuangkan saja, sebanyaknya. Ladies, revisi itu nanti, setelah tulisan jadi.

Revisi itu beda jauh dengan menulis. Ingat! via http://gadgetteaser.com

Satu hal yang tidak boleh kamu lakukan: membuang tulisan. Atau bergegas memencet tombol CTRL+A lalu DEL di keyboard-mu saat baru memulai menulis. Salah ketik biarin aja. Terasa gak nyambung, cuek aja. Ingat ya, pekerjaan menulis berbeda dengan mengedit atawa merevisi.
Tulis dulu. Tuangkan dulu. Tumpahkan semuanya. Sejadinya. Setelah tulisan dirasa cukup, baru kita pelototi dari awal hingga akhir. Kira-kira ada nggak bagian yang mesti dipotong, atau diganti yang awal untuk akhir, atau ditambah data dan keterangan biar makin jos, atau malah diganti dengan ilustrasi tulisan, atau kalau kurang manis ya ditambah gula (duh, ini penulis dari tadi malah ngaco ya..hehe).

6. Kenalilah medan perang: mau dikirim kemana tulisanmu?

Ingat petuah Suhu Sun Tzu ya via http://geniusquotes.org

Juru taktik perang Sun Tzu memiliki petuah:
Kenalilah musuhmu, niscaya separo kemenangan sudah di tanganmu.
Oke kita praktikkan dalam menulis. Tentu saja media yang akan kita kirimi tulisan bukan musuh kita. Namun, kita harus ingat: di sana adalah palagan ‘peperangan’. Banyak penulis ingin muncul melalui media yang sama dengan kita. Strategi yang kita tempuh, gunakan bahasa sesuai media yang kita tuju. Buatlah tulisan yang senafas dengan media tadi.

Tak mungkin lah ya, kita nulis artikel via www.hipwee.com dengan tulisan ilmiah, kaku, dingin semacam skripsi? Kan sudah tertulis: redaksi hipwee bukan dosen pembimbing skripsi (lho apa hubungannya? Hehe). Yang kudu kamu ingat, banyak media merindukan tulisan-tulisan khas jurnalistik: susunan kalimat yang pendek-pendek, singkat, padat, informatif, jelas (please…jangan ditambahi rapi dan wangi ya nanti ndak jadi laundry).
Caranya mudah: sering-seringlah baca berita mass media. Nanti akan terbiasa untuk menulis singkat-singkat saja. Jangan satu paragraf satu kalimat, nanti pembaca langsung pingsan! Celakanya lagi kalau perlu nafas bantuan…

7. Tunggu apalagi, segera kirim!

Selamat, dimuat dan kamu hebat! via http://edukasi.kompasiana.com

Jangan sampai setelah tulisanmu jadi, sudah sesuai kisah haru-biru perjalanan hidupmu, sudah sesuai dengan minat-bakat-kemampuan-dan keadaanmu, sudah kamu permak dengan bahasa jurnalistik, sudah kamu pastikan tak ada satu pun huruf yang salah ketik, dan nahasnya kamu malah enggan mengirimkannya ke media.

Apa salahnya mencoba mengirim saat ini juga? Iya kalau dimuat, kalau tidak kan malu? Mungkin ini jeritan suara hatimu. Tenang, andai tidak dimuat, yang tahu hanya tiga pihak: kamu yang bikin, redaksi yang baca, dan Tuhan. Kalau dimuat? Wah, teman sekampus bisa geger.
Lebih dari itu, tulisan adalah investasi dunia-akhirat. Tulisan yang kamu buat, jika berhasil dimuat, akan dibaca orang lain.
Syukur-syukur mampu memotivasi orang lain untuk berbuat baik. Wah, pahalanya gede banget tuh… Apakah kamu ingin mencoba menulis? Kalau aku sih yes
Baca juga :
Cara mudah menjaga ide menulis tetap tersedia
Membaca, Kenapa Takut!
Peran Musik Dalam Menulis
Kenapa minat baca masyarakat indonesia rendah ?

Bramma Aji Putra
Sumber : http://www.hipwee.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI