Google+ Followers

Jumat, 26 Juni 2015

Peluang (Besar) Profesi Penulis Pidato


Nama penulis pidato menjadi buah bibir, gara-gara kesalahan Presiden Jokowi ketika menyebutkan kota kelahiran Soekarno. Jokowi menjadi bulan-bulanan publik. Namun di balik itu, ternyata terdapat seorang yang paling bertanggung jawab atas kesalahan tersebut, yaitu penulis pidato presiden.

Penulis pidato presiden tentu bukan orang sembarangan. Dia bukan penulis biasa. Dari berbagai sumber, IlmuMenulis.Com mendapatkan informasi bahwa penulis pidato Presiden Jokowi saat ini salah satunya adalah Sukardi Rinakit, seorang pakar politik yang mendukung Jokowi sejak kampanye 2014 lalu. Sukardi dikenal bernas dalam mengamati perkembangan politik Indonesia. Tak heran jika sosoknya disukai sejumlah kalangan, termasuk Jokowi dan timnya.
www.yosuna.com

Penulis pidato lain yang terkenal adalah Djohan Effendi dan Yusril Ihza Mahendra. Mereka menjadi penulis pidato presiden Soeharto. Untuk menjadi penulis pidato kepala negara/pemerintahan, memang dibutuhkan orang-orang yang mumpuni dalam ilmu politik, hukum dan ketatanegaraan. Pada masa pemerintahan SBY, yang dikenal luas publik sebagai penulis pidato presiden SBY adalah Dr. Dino Patti Djalal. Lagi-lagi, doi bukan orang sembarangan. Ilmu dan wawasannya sangat luas. Cerdas sudah pasti!

Biasanya, karir para penulis pidato kinclong. Yusril Ihza misalnya. Kemudian menjadi Menteri. Demikian pula Djohan Effendi. Dino Patti, menjadi duta besar dan kemudian wakil menteri. Di level yang sedikit lebih rendah, kita bisa melihat karir Nurhayati Assegaf, politisi Demokrat, yang sempat menjadi penulis pidato ibu negara Ani Yudhoyono. Sekarang dia menjadi petinggi Demokrat dan DPR.

Lalu bagaimana sebenarnya peluang profesi penulis pidato? Kalau kita lihat dari contoh-contoh di atas, sebagian besar para penulis pidato itu tidak berprofesi sebagai penulis. Mereka adalah politisi, pakar hukum, atau pakar politik yang “nyambi” menjadi penulis pidato. Profesi utama mereka bukan penulis.

baca juga :

Hal ini berbeda dengan profesi penulis pidato di negara maju seperti  Jon Favreau, penulis utama pidato presiden Barrack Obama. Dia memang berprofesi sebagai penulis. Atau Ben Rhodes, yang juga ketua tim penulis pidato khusus kebijakan luar negeri Gedung Putih. Mereka menjadikan menulis pidato sebagai profesi utama.
Jon Favreau, penulis pidato Obama (www.ciputraentrepreneurship.com)

Setahu saya, di Indonesia belum ada orang yang mengkhususkan diri sebagai penulis pidato. Sebagian besar hanya menjadikan penulisan pidato sebagai pekerjaan sampingan, atau mungkin batu loncatan untuk karir berikutnya.

Honor/Pendapatan Penulis Pidato
Sebuah pertanyaan menggelitik tentang berapa honor atau pendapatan penulis pidato? Kalau ditanyakan kepada Jon Favreau atau Ben Rhodes sudah pasti isi jawabannya akan sangat menggiurkan. Catat ya, gaji Favreau mencapai US$172.000 per tahun. Kalau dirupiahkan setara dengan Rp 2,2 Miliar. Atau sekitar Rp 185 juta per bulan. Setara dengan gaji Deputi Gubernur Bank Indonesia atau para dirut Bank BUMN!

Bagaimana dengan di Indonesia? Belum ada data pasti tentang honor penulis naskah pidato. Tapi sebuah fakta menarik muncul pada masa awal kepemimpinan Jokowi – Ahok di DKI Jakarta. Mereka meributkan soal anggaran penulisan naskah pidato gubernur dan wagub yang mencapai Rp 1,2 miliar per tahun. Dari angka itu berarti setiap bulan penulis pidato mendapatkan Rp 100 juta. Oh, besar juga bukan? Tapi kita belum tahu, berapa banyak jumlah penulis pidatonya.  Kemungkinan lebih dari 1 orang, karena harus membuat naskah pidato buat dua orang yaitu gubernur dan wakil gubernur. Dan satu lagi… bukan rahasia jika besaran anggaran itu biasanya tidak seluruhnya sampai ke tangan yang berhak.

Apalagi jika menilik fakta lain di Provinsi Jawa Tengah. Di sana, anggaran biaya penulisan naskah pidato gubernur dalam APBD setahun mencapai Rp 450 juta. Tapi perhatikan rinciannya. Ternyata, sebagian besar bukan buat honor penulisnya.
  1. Panitia pelaksana kegiatan Rp 258.912.000.
  2. Uang lembur PNS Rp 49.950.000.
  3. Belanja alat tulis kantor Rp 31.370.000,
  4. Belanja paket pengiriman Rp 7.350.000.
  5. Belanja cetak dan. penggandaan Rp. 75.418.000,
  6. Belanja makan dan minum Rp 4.800.000
  7. Belanja perjalanan dinas dalam daerah Rp 22.200.000.

Dugaan kuat, biaya penulis termasuk ke dalam panitia pelaksana kegiatan, yang menyedot sekitar 50% anggaran. Jangan-jangan di DKI Jakarta pun demikian.

Artinya, honor penulis pidato di Indonesia belum begitu menjanjikan. Apalagi masih banyak orang yang menganggap sepele naskah pidato. “Masak buat naskah pidato saja harus semahal itu?” demikian bunyi pendapat terbanyak. Tapi, ketika isi pidato presiden keliru atau tidak menarik, maka sudah pasti yang menjadi sasaran tembak adalah penulis pidatonya!

baca juga :
Jangan Lakukan 10 Kesalahan Sepele Ini Saat Anda Menulis Judul
Tips membaca cepat 

Bagaimana tertarik menjadi penulis naskah pidato? Awali dengan naskah pidato kepala desa, lalu camat, terus bupati, kemudian gubernur atau para menteri, anggota DPR, DPD, pemimpin perusahaan besar dan puncaknya menjadi penulis pidato presiden.
Dodi Mawardi
Pemred IlmuMenulis.Com
Pendiri Sekolah Menulis Kreatif Indonesia
Penulis lebih dari 50 judul buku

Sumber : http://ilmumenulis.com/?p=255

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI