Google+ Followers

Jumat, 26 Juni 2015

Menulis Wajib Disertai Emosi

Oleh Dodi Mawardi, Sekolah Menulis Kreatif Indonesia
Menulislah dengan emosi? Istri saya tertawa mendengar kalimat ini. Dalam bayangannya, kalau menulis dengan emosi maka menulis sambil marah-marah. Memijit tuts komputer dengan keras-keras. Merobek kertas kalau salah. Atau menulis sambil berteriak-teriak… Namanya juga emosi!

Baca juga :
Cara Cepat Mendatangkan Inspirasi
10 Langkah menciptakan kebiasaan menulis 

Awalnya saya pun melihat hal yang sama. Apalagi pada banyak kesempatan, emosi melanda banyak orang. Lihat di Jakarta, banyak orang emosi turun ke jalan dan memacetkan lalu lintas. Tengok di kota lain, mahasiswa emosi membakar fasilitas umum. Dan yang paling heboh di Kediri; suporter sepakbola yang emosi merusak semuanya. Pesepakbola pun lebih banyak menggunakan emosinya. Emosi lebih dekat dengan sisi hewani bukan manusiawi.

Tapi bukan itu yang saya maksud. Emosi di sini adalah mencurahkan segala isi hati dalam tulisan. Menjiwai apa yang ditulis. Tidak sekadar mengetik huruf demi huruf tanpa menyelami apa yang diketik. Pembaca akan mampu merasakan perbedaan tulisan yang dibubuhi emosi penulisnya dan yang tidak. Tulisan yang ada emosinya terasa lebih hangat dan mengalir.

Itulah mengapa, banyak orang yang mampu menuliskan pengalamannya dengan lebih lancar dan mengalir. Apalagi bila pengalaman yang melibatkan bathin. Wah… tulisannya akan lebih bernyawa. Contohnya novel ‘Laskar Pelangi’ yang melulu adalah pengalaman penulisnya.

Baca juga : Tips membaca buku secara efektif

Nah bila Anda ingin memulai menulis, cobalah menuangkan pengalaman yang paling menarik, yang paling melibatkan batin Anda. Libatkan emosi, hati dan jiwa. Lalu, rasakanlah dampaknya. Anda pun akan merasakan bedanya. Kalau sudah begitu, berharaplah pembaca pun akan merasakan hal yang sama.




Beberapa malam lalu setelah diskusi tentang menulis dengan emosi, tiba-tiba saya mendengar tangisan istri saya. Lho ada apa? Saya tidak melakukan apa-apa. Kok dia menangis? Apakah ada perkataan saya yang menyinggung perasaannya? Saya dekati dia…

Ternyata istri saya sedang menulis pengalaman masa kecilnya di atas selembar kertas (soalnya komputer lebih sering saya pakai). Itulah pertama kali saya melihat istri menulis, karena sebelumnya tidak pernah mau dan mampu walaupun sering saya pengaruhi. Lalu kenapa dia menangis? Katanya, mengingat masa kecil itu, jadi sedih. Banyak hal yang seharusnya tidak terjadi, malah terjadi. Banyak hal yang seharusnya terjadi, eh malah tidak terjadi. Ada saat-saat yang sangat menyentuh hatinya.
Padahal dia baru menulis sebanyak 2 halaman saja. Tapi isinya sangat menarik karena melibatkan hati, jiwa dan emosi…  Ternyata semua orang punya hal (pengalaman) yang menarik untuk disampaikan!
Selamat Menulis!

Baca juga :

Sumber : http://ilmumenulis.com/?p=158

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI