Google+ Followers

Sabtu, 27 Juni 2015

Benarkah Seluruh Toko Buku Akan Tutup pada 2020?

Perkembangan internet mengubah gaya hidup masyarakat. Internet memengaruhi semua aspek kehidupan, sehingga berbagai hal berubah begitu drastis. Awal 2000-an lalu, banyak perusahaan media cetak di AS gulung tikar, salah satunya akibat wabah internet. Termasuk media yang sangat terkemuka – Majalah Times. Orang zaman sekarang lebih suka membuka smartphone, membaca secara online, dibanding membaca lewat media konvonsional seperti koran, majalah atau buku.


Fakta-fakta tersebut tentu sangat mengkhawatirkan buat sebagian kalangan, terutama para pengusaha dan praktisi di bidang terkait. Industri buku tidak terkecuali. Sejak awal 2000-an itulah, electronic book (e-book) mulai mengganti peran buku konvensional. Sejumlah data menunjukkan bahwa grafik penjualan e-book terus meningkat dari waktu ke waktu. Sedangkan grafik penjualan buku biasa, cenderung stagnan bahkan turun. Hal ini terjadi terutama di negara-negara maju seperti di kawasan Eropa dan Amerika Utara.
Siapa sajakah yang akan terpengaruh?

Baca juga :
  1. Penerbit buku.
Penerbit buku zaman sekarang tidak hanya fokus pada penjualan buku konvensional. Mereka juga harus memikirkan penjualan lewat internet (baik menjual buku konvensional maupun e-book). Penerbit juga mulai meminta hak edar dalam bentuk e-book kepada penulis. Gramedia dan sejumlah penerbit besar, dalam kontrak dengan penulis sudah mencantumkan klausul tersebut. Bahkan mereka juga sudah punya toko buku online yang menjual e-book.
  1. Distributor buku
Pada saatnya nanti, distributor sudah tidak dibutuhkan lagi. Apa yang mau didistribusikan jika sebagian besar buku berbentuk e-book? Di negara maju, perkiraan hal itu terjadi dalam waktu tidak terlalu lama lagi. Sedangkan di negara berkembang, mungkin masih akan berlangsung lebih lama.
  1. Toko buku
Toko buku konvensional seperti Gramedia, Gunung Agung, Kharisma, Togamas dan lain sebagainya, harus bersiap-siap menghadapi perubahan gaya hidup masyarakat. Buku konvesional makin tidak dilirik lagi, karena akses internet yang kian terbuka. E-book akan menjadi primadona, dan masyarakat pasti bakal meninggalkan toko buku. Perkiaraan dari sejumlah praktisi di Eropa dan Amerika, toko buku konvensional di sana akan berguguran secara drastis pada 2020. Perkiraan itu didukung sejumlah fakta, bahwa jumlah toko buku di sejumlah negara maju seperti Inggris, terus menerus berkurang karena kekurangan pembeli. Bagaimana dengan di Indonesia? Mungkin terlalu cepat jika menyebut tahun 2020. Tapi biasanya apa yang menjadi tren di luar negeri, akan juga merambat imbasnya di Indonesia.

  1. Penulis buku
Penulis buku juga terpengaruh. Tetapi pengaruhnya lebih ringan dibanding para pelaku bisnis di penerbitan, distributor dan toko buku. Penulis hanya tinggal mengubah bentuk bukunya saja, tanpa harus mengubah terlalu banyak cara kerja penulisannya. Bagi penulis, tidak masalah hasil karyanya dijual dalam bentuk buku konvensional atau buku elektronik (e-book).

Sesungguhnya perubahan apapun selalu membawa berkah. Hidup ini memang selalu berubah. Tak ada yang abadi. Seperti cicak yang lebih hebat dalam beradaptasi dibanding dinosaurus. Begitupun para pelaku bisnis dan praktsi di industri perbukuan harus pandai-pandai beradaptasi dengan perubahan.

Selamat beradaptasi!

Baca juga :

Dodi Mawardi
Penulis Profesional & Praktisi Perbukuan

Sumber : http://ilmumenulis.com/?p=244

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI