Google+ Followers

Kamis, 11 Juni 2015

Begini yang Dilakukan Rasulallah Ketika Aisyah Memecahkan Piring di Depan Tamu

Bayangkan. Anda sedang menerima tamu. Tiba-tiba
istri Anda ribut dengan seseorang yang membawa
makanan ke rumah lantas memecahkan piringnya.
Apa yang Anda lakukan?
Kebanyakan orang mungkin akan memarahi istrinya
karena telah membuat malu di depan para tamu.
Atau mungkin mengumpatinya, atau bahkan
memukulnya. Setidaknya ia merasa malu,
kehormatannya sebagai tokoh masyarakat tercemar
oleh perilaku istrinya. Demikiankah?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah
mengalami hal itu. Imam Bukhari dan beberapa
imam hadits meriwayatkannya.
Hari itu, Rasulullah sedang menemui sejumlah tamu
yang tidak lain adalah para sahabat beliau. Tiba-
tiba terdengar suara piring pecah. Ternyata Aisyah
baru saja memukul piring berisi makanan yang
dibawa oleh pembantu Zainab untuk disuguhkan
kepada Rasulullah. Piring itu pecah dan
makanannya pun jatuh.
Menyaksikan insiden tersebut Rasulullah tidak
marah. Beliau tidak merasa harga dirinya turun.
Beliau tidak merasa kehormatannya dipermalukan.
Beliau tidak merasa khawatir disebut sebagai suami
yang tidak mampu mendidik istrinya untuk
mengendalikan emosi. Sama sekali tidak.
Rasulullah mendekati mereka dengan tenang, seperti
tak terjadi apa-apa. Lalu beliau memunguti
makanan dari kurma tersebut dan meletakkannya di
sisa-sisa piring, kemudian membawanya ke
majelisnya semula untuk dimakan bersama para
tamu.
“Maaf… ibu kalian sedang cemburu,” kata Rasulullah
kepada para sahabatnya. Tak lupa, beliau mengganti
piring yang sudah pecah tersebut dengan piring
yang utuh untuk dibawa kembali oleh pembantu
kepada Zainab.
Demikianlah akhlak agung Rasulullah. Khuluqun
‘adhiim. Beliau tidak mempermasalahkan masalah,
namun menyelesaikan masalah. Beliau tahu saat itu
Aisyah sedang cemburu karena di hari giliran Aisyah,
Zainab mengirimkan makanan untuk Rasulullah.
Maka Aisyah pun memecahkan piring sebagai
ekspresi kecemburuannya.
Dan Rasulullah memecahkan masalah dengan bijak.
Beliau tidak memarahi Aisyah karena memarahi istri
yang sedang marah akan menimbulkan masalah
baru. Masalah semula tidak terselesaikan, justru
suami istri terlibat pertengkaran. Rasulullah tidak
melakukan itu.
Namun memecahkan piring orang lain tetap saja
tidak dapat dibenarkan. Dan karenanya harus
diganti. Karena itulah hadits ini dibahas panjang
lebar oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fahtul Baari,
untuk mengambil istinbath jika seseorang
memecahkan barang milik orang lain, haruskah
mengganti dengan barang atau bisa dalam bentuk
uang.
Rasulullah juga kalem saja di hadapan para
sahabat. Beliau tidak menyalahkan Aisyah karena
menyalahkan istri di depan orang lain adalah
bukanlah tindakan yang baik. Orang yang
mendengar akan mengetahui bahwa keluarga
tersebut sedang bermasalah, sementara mereka
belum tentu bisa membantu menyelesaikan
masalahnya.
Sebagai suami, sanggupkah kita mengelola emosi
seperti Rasulullah ketika istri kita tiba-tiba marah
atau memecahkan piring seperti Aisyah? [Muchlisin
BK/keluargacinta.com]

1 komentar:

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI