Google+ Followers

Jumat, 15 Mei 2015

Sariawan dan Satu Halaman Cerpen

Minggu-minggu terakhir adalah masa terberat saya. Ah, sedih harus mengatakan ini. Sebelum-sebelumnya, saya selalu bisa menyemangati orang lain, tapi diri sendiri ternyata masih saja bisa rapuh. Hahahah *ini ketawa sedih.

Ceritanya saya sedang lagi musuhan sama sariawan di bibir. Sariawan yang tak sengaja saya dapat saat di Commuter Line. Bianca lagi main enjot-enjotan di pangkuan saya. Saking semangatnya bibir terantuk kepala kecilnya. Jadilah sariawan di kemudian hari.

Hubungannya sama satu halaman cerpen, apaan?

Sabar dulu dong, saya kan belum selesai bercurhat heheh. Nah, mari kita lanjutkan. Seharian ini, saya kedatangan mood untuk menulis sebuah cerita pendek. Idenya biasa saja. Tentang seorang anak yang kangen sama ibunya. Oh iya, si anak ini sudah lama berpisah dengan si ibu sebab perceraian orang tuanya di masa lalu. Namun, begitu si anak ingin bertemu si ibu, si ibu malah memilih hangout di hari libur panjang ini.

Tapi saya tak ingin bercerita tentang isi cerpen itu. Ada yang lebih menarik dari kisah si anak dan ibunya itu.

Ya, Sariawan ini sesungguhnya lebih menarik hingga membuat perhatian saya tertuju padanya alih-alih mengisi satu halaman word yang baru kuawali dengan, "An ..."

Ya, hanya itu di satu halaman word di layar 32" (he, pasti kalian anggap saya bercanda, tapi tidak, ini beneran kok, layar monitor saya adalah layar tipi yang tidak dipakai. **suooombonge puoool** heheheh

Sariawan ini benar-benar bikin badmood tiba-tiba. Setiap saya mau menggerakkan jemari, ia nyut-nyutan sendiri. Memaksa saya untuk mengambil cermin bedak, membukanya dan melihat sariawan lebar di ujung bibir bawah sebelah kanan.

Alih-alih meneruskan menulis cerpen tadi, saya gugling deh. Apa sih obat sariawan paling ampuh?

Macem-macem sih ketemunya ... Eh tiba-tiba teringat, beberapa waktu lalu dibelikan obat sariawan sama suami. Eh tapi dicari-cari gak ketemu. Begini ini kalo ternyata sampe saat ini di rumah saya belum ada kotak P3K *padahal kapan lalu bikin tulisan pentingnya sedia kotak P3K di rumah. Hahah

Karena tambah nyut-nyut, pergilah saya ke dapur. Dan mengambil sedikit garam dengan ujung cotton bud. Dan tarraaaa, sariawan tambah nyutnyut, walau hanya sebentar dan lenyaplah kesakitannya untuk sementara waktu.

Saya kembali ke depan layar dan siap menulis.

Byar Pet!!! Lampu matiiiii, Sodara-sodara! Hilanglah mood saya. Satu halaman cerpen pun tak jadi hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI