Google+ Followers

Sabtu, 16 Mei 2015

Sakit, Sebuah Kesempatan untuk Memperbaiki Diri

Saat terbaring di tempat tidur, saya mendapat PR khusus dari suami.
Apa-apaan ini? Sudah sakit malah dapat tugas yang enggak-enggak, batin saya kesal.
Tapi, suami malah tersenyum. Katanya, ini tugas paling mudah daripada diberi pekerjaan tambahan semisal menjemur burung-burung setiap pagi dan mengangkatnya menjelang terik di atas kepala.
PR-nya adalah membaca sebuah buku yang dulu "ngotot" ingin saya miliki tapi begitu sudah dibelikan hanya duduk manis di rak buku. La Tahzan.

Sebuah senyum malu-malu saya berikan untuknya. Suami saya yang baik hati dan selalu sabar menghadapi tingkah laku saya apalagi saat sakit itu mengambilkan buku tebal dari rak lalu duduk di samping tempat tidur.

"Ini, bacalah. Jangan melakukan hal lain selain baca dan resapi setiap lembarnya. Bila membaca Al-Quran bunda masih susah, baca ini juga tak apa."

"Tapi ..."

"Jangan banyak alasan. Sakitmu bukan sakit mata. Masih bisa membaca. Pelan-pelan, tak usah dipaksa habis. Ayah ingin, bunda memahami, bahwa sakit diberikan bukan sebagai hukuman atas dosa-dosa masa lalu yang pernah kita lakukan. Jangan menyalahi diri sendiri. Sakit harusnya membuat kita lebih bersyukur. Atas napas kehidupan yang masih bisa kita nikmati."

Kata-kata seperti itu bukan baru pertama saya mendengar dari bibirnya. Sudah berulang kali suami tercinta mengucapkannya setiap saya merasakan sakit teramat sangat. Dan saya selalu saja merasa sakit ini karena terlalu banyak dosa yang telah saya perbuat jauh sebelum ini.

"Jangan bersedih, Bunda. Hidup ini begitu banyak masalah pasti datang menghampiri. Tidak usah terlalu risau dipikirkan. Lakukan yang mampu kita lakukan, tinggalkan yang tak sanggup kita selesaikan. Sakit itu dimulai dari pikiran. Bahkan dokter yang mengobati Bunda pun berkata begitu. Bebaskan pikiranmu. Jangan biarkan ia menampung beban yang tak seharusnya ada. Obat-obat yang ada di depanmu ini takkan bisa menyembuhkan jika pikiran Bunda bekerja tak seharusnya. Santai. Yang lebih penting, bila mendengar yang negatif-negatif, Bunda sendiri harus bisa menolaknya. Harus katakan tidak, setiap hati dan pikiran mulai mengajak untuk bersedih, menyalahkan diri dan sejenisnya. Pikiran yang sehat, akan membuat tubuh juga sehat."

"Tapi ..."

"Nah ini, tapi-tapi melulu. Sudah baca saja. Banyak yang bisa membuat pola pikir Bunda menjadi lebih baik setelah membacanya. Setelah itu, berbenah diri. Bangkit dari tempat tidur. Kerjakan hal terbaik yang bisa Bunda lakukan. Untuk rumah, untuk sekeliling, untuk semua."

Dan ... saya sudah membaca beberapa lembar buku  yang ditulis Dr 'Aidh al-Qarni ini hampir setengah tebal bukunya.

Banyak yang harus saya benahi. Terutama diri sendiri. Hati dan pikiran. Semoga setelah ini saya selalu sehat jiwa dan raga. Aamiin.


La Tahzan
Buku yang menemani saat sakitku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI