Google+ Followers

Selasa, 05 Mei 2015

Islam Membuat Saya Memahami Makna Hidup

Sungguh saya ingin menuliskan ini sejak berhari-hari lalu. Rasanya begitu banyak yang ingin saya tuang dari sepenggal pengalaman hidup yang belum ada apa-apanya ini.

Pernah satu waktu yang lalu, ketika saya tertimpa musibah, seorang teman berkata, "Kamu bisa begini karena kurang bersedekah."

Musibah yang saya alami tidak bisa dibilang musibah berat, namun perkataan teman saya itu membuat dada terasa sesak. Saya memang kerdil dalam pengetahuan tentang keislaman. Tapi bukan berarti saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sedekah. 

Setelah perkataan teman saya yang menohok hati itu, saya merenung. Seberapa besar sedekah itu hingga bisa dikatakan cukup? Atau seberapa batasannya hingga dibilang kurang?

Dalam sebuah obrolan santai bersama suami, ia katakan, bahwasannya sedekah tak melulu diukur dengan nominal uang. Ketika bangun pagi hari, senyum merekah saat memandang suami dan anak-anak, itu sedekah. Membuat orang lain bahagia itu juga sedekah. Ya, suami memang menjelaskan pada saya makna sedekah dengan bahasa yang mudah saya pahami. Lalu ia berujar kembali. Tak perlulah orang lain tahu apa yang sudah kamu sedekahkan. Jangankan orang lain, tangan kirimu saja tidak boleh tahu apa yang sudah diberikan tangan kananmu.

Musibah datang bukan karena kurang sedekah. Musibah bukanlah sebuah bencana. Ia memang diperbolehkan hadir dalam hidup manusia untuk menguji, seberapa besar kesabaran dan keteguhanmu berjalan di jalan Allah. Kuatkan menghadapi segala cobaan?

Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya (QS.Asy.Syura:19)
Allah takkan meninggalkan kita sendiri dalam keresahan dan ketakutan atas musibah yang kita alami. Hanya dengan datang pada-Nya, hati akan tenang, jiwa penuh kedamaian. Serahkanlah semua pada Allah, pasrah pada-Nya dalam meminta segala permohonan. Niscaya Allah akan membuat ketenangan hati yang lebih saat kita menghadapi musibah.

Selama hampir lima tahun ini, saya begitu banyak mengalami peristiwa yang semakin terus mengubah hidup saya. Ketika memutuskan memeluk Islam dan menikah, saya memulai kehidupan benar-benar dari bawah.

Tinggal di rumah kontrakan (sebenarnya bukan kontrakan karena betapa beruntungnya saya dan keluarga karena diberi kesempatan berlindung di dalam rumah tanpa bayar) di tempat terpencil, di ujung desa. Kondisi rumah yang sebenarnya kurang layak untuk ditempati apalagi ada baby yang belum ada 1 tahun, membuat saya belajar bersyukur lebih. Masih banyak orang di luar sana yang tak terlindung dari panas matahari dan hujan serta dinginnya malam. Awal-awal hidup di rumah itu, sesungguhnya hati merasa tidak terima. Biasa hidup nyaman membuat saya sempat mengeluh. Perkataan orang-orang terdekat, yang menyesalkan keputusan saya untuk hijrah, sempat membuat saya jatuh. Namun, suami yang begitu sabar terus mengingatkan diri saya. Menunda kesenangan untuk kebahagiaan masa depan, itu perlu. Dengan begini, makna hidup yang sebenarnya akan kita alami.

Pelan tapi pasti, Allah mengganti semua menjadi lebih baik. Pindah ke rumah yang cukup nyaman dan aman buat anak-anak. Kehidupan pun menjadi lebih menyenangkan. Tidak berlebihan, namun cukup. Pekerjaan suami pun lebih menjanjikan. Dan saya kembali memiliki waktu untuk mengembangkan hobby menulis yang tertunda. 

Allah benar-benar luar biasa. Allah memberi lebih dari apa yang saya pinta. Menulis bukan lagi menjadi sekadar hobby. Walau rintangan ada saja yang hadir, Allah membuat saya kuat dengan janji-Nya. Saya tahu, Allah tidak akan pernah meninggalkan saya, sedikit pun. 

Ketika saya memutuskan untuk berhijab, lagi-lagi Allah memberi rezeki yang membuat saya semakin yakin dan teguh, bahwa bersama Allah tidak ada yang sia-sia. Saya tak perlu keluar rumah untuk mencari makan. Allah memberikan rezeki lewat jemari ini. Bahkan di saat saya harus terbaring lemah karena tidak bisa berjalan, Allah terus mendampingi saya lewat suami yang penuh kesabaran menjaga dan mendukung penuh apa yang saya lakukan lewat tulisan. 

Hidup dalam Islam, mengajarkan saya untuk berbagi tanpa memilih. Apa yang sudah saya dapatkan selama hampir lima tahun ini, bukanlah milik saya seorang. Dan Allah memberi kesempatan kepada saya untuk membaginya pada siapa saja. Allah memberikan saya "rumah" yang isinya sahabat-sahabat hebat. Dari "rumah" ini saya belajar, bahwa rezeki tidak bisa datang dengan sendirinya. Rezeki harus dijemput. Kita takkan bisa mendapatkan makanan enak sekejap mata, bila sebelumnya kita tak berbagi makanan. Ya itu yang saya simpulkan. Allah memang menyediakan semuanya. Namun, bila kita tidak berusaha, Allah juga tidak akan memberikannya. Diam di dalam kamar, atau duduk termangu di ruang tamu, tanpa melakukan apa-apa, sama saja menunggu hujan emas di siang hari. 

Islam juga mengajarkan saya untuk terus bersabar dalam menghadapi apapun. Akhir-akhir ini, saya merasa berat sekali kaki melangkah. Kehilangan, kesedihan, dan keputusasaan berkali-kali menghampiri tanpa diduga. Saya sempat patah. Sisi manusiawi saya memberontak. Mengapa ini bisa terjadi? Apa saya melakukan kesalahan besar sehingga Allah menghukum saya? Rasanya beberapa waktu terakhir ini saya berusaha hidup dengan benar. Mengapa semua musibah ini bisa datang?

Lagi-lagi di saat seperti ini, saya mengucap syukur tiada henti pada Allah, sebab memberikan saya seorang pendamping yang hebat, lelaki yang luar biasa. Di saat hati benar-benar tak bisa menerima dan selalu menyalahkan dir, suami saya kembali mengingatkan bahwasannya musibah terjadi sebagai cobaan dan ujian untuk naik kelas. Kita bukanlah satu-satunya yang merasakan penderitaan karena cobaan. Masih banyak orang  di luar sana juga jatuh air mata di pipi, sesak di dada karena menahan tangis. Namun, hanya orang-orang yang sabarlah yang mampu menghadapinya. Bersabar dan tetap mendekatkan diri pada Allah, niscaya semua cobaan akan mampu dilewati.

Semakin hari saya semakin menyadari, bahwa beginilah hidup. Kita tak melulu dihadapkan pada suasana riang gembira. Isak tangis juga diizinkan hadir untuk membentuk diri kita. Hanya orang-orang yang beriman teguh, berhati lapang, ikhlas dan penuh syukur atas segala yang diberikan Allah yang benar-benar bisa merasakan hidup.  Orang-orang yang selalu diberikan cobaan dan ujian agar naik kelas. Yang pasti, Allah tidak akan memberikan sesuatu di luar batas kemampuan kita. 

Saya tahu, selagi napas masih dikandung badan, musibah akan silih berganti hadir. Semoga membuat saya tetap teguh beriman kepada Allah SWT. Saya yakin, ada hal besar yang Allah siapkan untuk saya di depan sana. I'm a proud to be moeslim. Allahu Akbar.

6 komentar:

  1. Masya Allah mb, sungguh Allah teramat mencintaimu sehingga Dia tak mau kau berpaling dariNya meski dengan musibah dan ujian yang Dia berikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Ika, semakin saya mengeluh, semakin sadar bahwa Allah sangat mencintai saya. Ia menguji iman saya yang masih tak ada apa-apanya ini. Menempa saya terus, bukti bahwa Allah memang sangat mencintai diri ini.

      Hapus
  2. subhanallah....sy baru tau klo mb rina ini muallaf...
    smg selalu istiqomah ya mb...

    BalasHapus
  3. Tetap istiqomah ya Mbak Rina.. Saya juga pernah dapat perlakuan seperti itu, dan rasanya perih.. Salam kenal dari saya ya Mbak.. :) #friendlyhug

    BalasHapus
  4. Semoga Allah SWT berikan kesabaran dan kekuatan serta istiqomah ya mba, Doa saya selalu untuk mba *bighugs

    BalasHapus
  5. istiqomah dalam jalurNya itu mudah diucapkan, tapi bukan pula tidak bisa diusahakan. Doa dan dukungan selalu untuk sesama saudara. Hijrah itu berat dan penuh perjuangan. Saya yang hijrah pemikiran aja berat menghadapinya, apalagi buat suadara-saudara yang mualaf. Semangat selalu ya Mbak

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI