Google+ Followers

Senin, 04 Mei 2015

In Memoriam, Faity si Chepot

Siapa pun yang pernah bertemu dengannya, pasti ikut menundukkan kepala. Faity si Burung Juara yang baru saja kubagi kisahnya di sini beberapa hari lalu *duh masih segar di ingatan, saat aku mencandainya sambil memasukan sedotan ke dalam kurungan dan dia mematut-matut sambil ngoceh* tiba-tiba meninggalkanku dan seisi rumah ini. 

Minggu pagi, seperti biasa, tangan dingin suami tercinta mulai merawatnya. Siang hari, Faity dijadwalkan ikut kontes burung berkicau. Suami sudah tidak sabar ingin menunjukkan perubahan besar pada Faity si chepot yang sudah tampil cantik dengan bulu-bulunya. Tak gundul lagi. 

Ketika berangkat, aku dan anak-anak tentu saja ikut mendoakan Faity. Semoga kali ini ia jadi juara lagi, mengingat sudah lama ia tidak turun berlomba.

Saat sore hari, suami pulang sambil membawa piagam penghargaan. Ya, Faity lagi-lagi juara. Ia layak menjadi juara teratas, namun, karena bulu yang belum sempurna dianggap nilai minus. Banyak yang menyesalkan keputusan juri. Bahkan beberapa peserta ikutan sebal melihat juri yang tampaknya berat sebelah. Ini kontes burung berkicau kan? Bukan kontes bulu burung???

Faity si Cepot dan Piagam Terakhirnya T.T
Suami tetap berbesar hati, walau Faity meraih juara 4 dan 5, Faity tetaplah juara di hatinya, hatiku dan hati anak-anak. Faity sudah berusaha keras sejauh ini. Bagi burung yang gundul, untuk bersuara lantang dan jernih itu sebenarnya cukup menyakitkan, tapi, Faity pantang menyerah. Ia ingin kami bangga padanya.

***

Minggu sore menjelang magrib, Cirebon diguyur hujan deras, gluduk bertalu-talu dan lampu mati pula. Suami sudah meluncur ke percetakan. Melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

Karena hujan deras dan gelap yang makin gulita, aku bersama anak-anak memutuskan diam di dalam kamar. Malam semakin larut. Lampu nyala, aku meminum beberapa obat untuk pereda sakit yang kualami. 

Tertidurlah aku dalam selimut bersama anak-anak.

Malam hari aku dikejutkan dengan suara yang memanggilku. Suami pulang. Serta merta aku meloncat dari kasur. Suaranya begitu mengkhawatirkan.

Pintu terbuka.

"Bunda ... kenapa Cepot gak dibawa masuk?"

"Astafirullah ..." Aku lemas. Terlupa akan kurungan Faity di teras rumah.

"Mati!"

"Ha?"

Dengan tak percaya aku berjalan tertatih ke pintu. Aliran darah yang mengalir ke luka di kaki kiriku terasa semakin membuat kakiku berat. Aku terduduk lemas ketika melihat kurungan penuh bulu dan ... kepala Faity di dalamnya.

Ya Allah ... 

Aku tak mampu berkata apa-apa. Suamiku melangkah ke kamar. Dengan lembut ia memintaku menutup pintu lalu masuk ke kamar. 

Sesak rasanya dadaku. Ini semua salahku. Ya Allah, sungguh berdosa aku pada Faity. Membiarkannya di luar sendirian. Dalam dingin dan dipenuhi kucing-kucing yang bertampang lugu itu. 

Aku tak bisa menahan tangis. Suamiku tentu lebih perih hatinya. Faity bak anak bungsunya. Yang setiap hari dimanja. Hanya suamiku yang paling mengerti apa keinginannya. Alih-alih bersedih, suami menarikku dalam pelukannya. 

"Sudah, jangan menangis. Cepot sudah gak ada. Dia tak mungkin bisa kembali karena tangis bunda."

"Tapi, maafkan bunda. Ini salah bunda."

"Sudah ... Ayah yang salah karena lupa mengingatkan bunda. Ya, semua sudah ketetapan Allah. Kita hanya kurang hati-hati menjaganya. Ini belum rezeki kita."

"Mengapa rasanya musibah tak pernah mau berlalu. Belum yang satu datang lagi yang lain."

"Bisa jadi, ini sebagai pengganti yang lebih besar. Allah tidak akan mencoba kita dengan cobaan yang di luar kemampuan kita. Ambil hikmahnya saja. Bila tidak sekarang, mungkin besok atau lusa. Ikhlaskan."

"Maafkan Bunda ya, Ayah ... karena bunda, burung Ayah ..."

"Burung kita, bukan burung Ayah saja. Sudah, berhentilah menangis. tidurlah. Yang penting Bunda sehat."

Sungguh, aku tahu kepedihan hati suamiku ditinggal Faity. Setahun bersamanya, banyak hal yang kami pelajari.

Faity bukan burung biasa. Ia memang tak seperti burung lainnya yang memiliki bulu normal, mulut normal dan tingkah yang normal pula. Faity, burung ajaib. Dalam ketidaksempurnaannya, ia berusaha jadi yang terbaik. Memberikan terbaik dari apa yang ia punya. Suaranya yang gemilang, sikapnya yang penurut dan mental juaranya yang sungguh membuatku belajar banyak hal.

Kekurangan bukan untuk disembunyikan. Jadilah diri sendiri dengan segala kekuranganmu. Sebab di balik kekurangan, ada kelebihan yang bisa diberikan untuk semua.

Faity mengawali langkahku sejak mulai mendirikan LovRinz. Di tengah cibiran orang atas anggapan ketidakmampuanku di dunia literasi, aku belajar darinya untuk tetap berdiri tangguh dan terus berjuang memberikan yang terbaik. Saat aku lemah, suami mengingatkanku akan sosok Faity yang tak pernah berputus asa.

Jangan pedulikan anggapan negatif orang lain, bila kau yakin bisa memberikan sesuatu yang positif buat orang banyak, lakukan. 

Terima kasih, Faity. Kau meninggalkan kesan teramat baik di mata dan hati orang-orang yang pernah melihatmu, mendengar suaramu, menyaksikan sendiri perjuanganmu dari waktu ke waktu. Maafkan kekhilafanku yang sudah membuatmu menderita meregang nyawa sendirian di malam gelap. Maafkan ketulianku yang tak mendengar teriakanmu. Maafkan ... maafkan aku.

Terima kasih ... pernah hidup menjadi bagian dari keluargaku. Terima kasih atas hari-hari penuh sukacita atas nyanyianmu setiap saat. Terima kasih sudah berbagi hikmah dalam perjalanan hidupmu yang singkat. 

Akankah kelak aku pergi meninggalkan kesan baik di mata orang-orang yang kutinggalkan?

Selamat Jalan, Faity si Cepot. 
Selamat Jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI