Google+ Followers

Hai-hai, sesuai janji walau agak telat beberapa menit--heheh diamuk massa karena kelamaan mengumumkan nih.

Akhirnya dapat juga satu pemenang yang berhak memilih satu di antara 4 judul di bawah ini ...

Dan inilah yang berhak mendapatkannya kak Wafa Ulfa

Wafa UlfaBuku yang pernah dan pertama kali saya baca adalah buku mengenal abjad untuk taman kanak-kanak.
Disana memang tidak disebutkan bahwa buku itu mengandung manfaat yang amat hebat bagi kelangsungan hidup manusia. Memangnya bagaimana bisa seorang manusia s
ukses dimasa depan dengan tanpa mengenal huruf, mengenal angka, dan membaca.
Sebuah cerita tidak akan menjadi cerita tanpa rentetan huruf yang penuh makna.

Ada 2 kata sukses dan 2 kata kesuksesan
   Yuk, yang disebut namanya, kirim alamat lengkap juga nomor teleponnya ya. 

 
Setelah membaca beberapa komentar terkait postingan Luka tak Selamanya Sakit
LovRinz sempat kebingungan karena beberapa jawaban bagus dan sangat mengena di hati.
Namun dengan riang gembira, akhirnya setelah diundi di belakang layar inilah yang terpilih ...

Mohammad Ikhsan

Silakan memilih 1 dari keempat buku di bawah ini untuk dikirimkan ke alamat kamu.

LovRinz tunggu ya ...:)

Ikutin giveaway berhadiah buku lainnya di kesempatan yang akan datang
Siapa pun tahu, buku adalah jendela dunia.

Bisakah kita sukses dari membaca buku?

Dari berbagai sumber yang saya baca tentang manfaat membaca buku, dapat saya simpulkan, kita bisa sukses membangun karier dengan membaca. Mau tahu bagaimana kehebatan sebuah buku bekerja dalam karier kita?

* Buku adalah gudangnya ilmu. Sadarilah itu!
   Di zaman kemajuan teknologi terutama di dunia maya ini, tak dimungkiri berbagai informasi dapat kita lahap sekejap mata. Tapi bisa dipastikan kebanyakan informasi itu, berawal dari sebuah buku. Buku adalah catatan sejarah dan kisah yang ditulis dengan banyak referensi. Tidak sedikit orang-orang besar yang dikenal melalui buku yang ditulisnya. Secara tidak langsung mereka menjadi sejarah yang mempengaruhi dunia atas pandangan dan tulisan mereka yang dibukukan.

  Bila sudah menanamkan kesadaran di pikiran kita bahwa membaca buku itu penting, maka mulailah rutin membaca satu buku setiap hari minimal setengah jam. Minimal, kita sudah memberikan 'asupan gizi' untuk otak dan pikiran kita dengan bacaan yang baik terutama bila buku yang kita baca berkaitan dengan pengembangan karier kita.

* Tanamkan rasa, bahwa membaca dapat mempertajam pikiran dan mempercepat proses pembelajaran.
   Dalam buku 7 Habits, Steven Covey menuliskan bahwa salah satu kebiasaan manusia yang paling efektif untuk meningkatkan kesuksesan adalah membaca. Ini berlaku untuk semua buku. Membaca dapat mempertajam otak dengan merangsang kita berpikir. Bahkan komik anak-anak juga bisa membuat kita melakukan inovasi-inovasi baru, misalnya ... komik Doraemon, sadarkah bila Doraemon menginspirasi penemuan-penemuan unik di dunia? Alangkah lebih baik bila kita mampu memilah dan memilih bacaan yang bermanfaat untuk membangun karier dan masa depan kita.

* Memilah dan memilih bacaan yang tepat
   Sekarang bentuk bacaan sudah beragam kita temui. Ada yang berbentuk audio book, ebook,  video book dan tentu saja hadirnya buku konvensional yang gampang kita temui di mana-mana. Dari sekian banyak format, pilihlah yang paling nyaman cara kita menyerap ilmu. Pastikan kita mendapat tambahan informasi dan pengetahuan dari bacaan tersebut. Tak perlu buku yang berat-berat kepenuhan teori, jika memang kita lebih nyaman membaca yang ringan-ringan namun sarat informasi. Sepanjang ktia merasa dapat mengambil ilmu dan menikmati kala membacanya, kita pasti punya nilai tambah yang kelak bisa kita manfaatkan di masa depan.

* Buku sebagai ajang bersosialisasi
   Tak  jarang kita temui orang yang memiliki ketertarikan sama pada satu hal.Termasuk, membaca bacaan yang sama. Ini bisa kita manfaatkan untuk memperluas jaringan pertemanan kita, yang tentu saja bukan mustahil membuka peluang baru peningkatan karier yang lebih cemerlang.

* Menjalankan nilai-nilai positif dari buku yang kita baca
   Semua teori tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa kita jalankan. Nah, oleh karena itu, setiap pengetahuan atau informasi yang kita dapatkan dari buku, alangkah lebih baiknya bila kita praktekkan. Janganlah kita hanya berhenti sampai di teori saja. Ada banyak hal positif yang kita serap dari bacaan kita yang bisa kita lakukan demi kesuksesan dalam berkarier.


Sudah berapa buku yang kamu baca di hari kedua puluh dua di bulan Mei ini?
Sumber: Andriewongso
Apa benar ada luka yang tak membuat kita sakit?
Saya rasa melukai diri sendiri sekali pun akan terasa sakitnya, apalagi yang dilakukan oleh orang lain?
Diputuskan?
Dikhianati?
Dibohongi?
Terjatuh?
Terpeleset?
Tergores?
Semua itu sakit bukan?????
Namun bagi orang yang berpikir positif, semua rasa sakit itu bisa dengan mudah diatasi, bagaimana caranya?
Ingin tahu caranya?
Hal pertama yang harus kita lakukan adalah berlatih untuk berpikir positif.
Bingung kan?
Pertanyaaan selanjutnya adalah bagaimana melatih pikiran positif?
Ada banyak cara melatih pikiran positif, salah satunya adalah dengan melakukan afirmasi.
Afirmasi adalah mengulang-ulang kata positif dengan bersuara.
Saya Sukses
Saya Sehat
Saya Kaya
Saya Bahagia
Dan sebagainya
Dengan pengulangan kata-kata itu secara terus menerus, tanpa sadar alam bawah sadar kita akan mencari cara menuju kata yang kita ucapkan. Dan hebatnya lagi alam bawah sadar kita akan menolak segala hal yang berlawanan dengan afirmasi tersebut.
Gak Percaya?
Cara lainnya adalah membuang rasa tidak percaya itu!
Mulai sekarang percaya aja dulu,--maksa-- jika afirmasi positif akan membawa kepada hasil yang positif.
Buang pikiran negatif dalam diri kita, kembali ke titik NOL. Miliki keyakinan bahwa semua kesakitan kita, luka kita pasti ada sisi positifnya.
Saya teringat kisah beberapa orang yang tertinggal saat naik pesawat, mereka marah karena semua jadwal jadi berantakan. Namun beberapa jam kemudian mereka malah bersyukur, lah? Kenapa? Karena pesawat yang batal ia tumpangi mengalami kecelakaan.
Ada juga cerita seorang teman yang telah berumah tangga lebih dari 8 tahun namun belum dikaruniai putra. Mereka terus berusaha, berdoa, meminta. Hingga suatu saat Allah memberi mereka anak dan sang istri meninggal saat melahirkan.
Bagi yang belum memiliki putra tetaplah berusaha, dan dalam masa menunggu itu tetaplah berpikir positif. Allah tahu yang terbaik bagi kita.
Ada juga pengalaman seorang teman yang terserempet sepeda motor saat perjalanan menuju tempat wisata. Seperti manusia pada umumnya, ia menangis karena terluka dan lebih lagi karena ia tak bisa menuju tempat wisata bersama teman-teman. Esok harinya ia mendapat kabar jika bus yang ditumpangi teman-teman mengalami kecelakaan dan beberapa orang meninggal dunia.
Allah terkadang memberi hadiah terbungkus dengan luka.
Namun DIA tahu yang terbaik. Bisa jadi DIA sedang menyelamatkan kita.
Bagi yang baru saja ditinggalkan atau pun dikhianati oleh pacarnya, maka tersenyumlah. Bersyukurlah karena mereka tidak menyakiti atau pun pergi setelah menikahi kita.
Masih banyak lagi luka yang seharusnya membuat kita tersenyum. Temukan hikmah dari setiap luka.


Read online/Download English Version The Great Gatsby
Tulisan ini sengaja dibikin di siang hari yang panas dan segelas es kelapa muda belum cukup untuk menyegarkan dahaga. Hehhe.

Beberapa hari lalu ada sebuah pertanyaan dari seorang sahabat maya.

"Apakah penulis itu susah dapat jodoh?"

Aku bingung kudu jawab gimana. Agaknya dia salah orang buat bertanya.

"Maksud saya, apakah orang yang tidak suka menulis bisa nyambung dengan orang yang suka menulis?"

Aku tambah bingung menjawabnya. Bukankah sebuah komunikasi dapat berlangsung dua arah dan nyambung bila yang diobrolin juga enak tanpa memandang apakah si A suka nulis atau tidak seperti si B.

Rupa-rupanya si penanya itu sedang galau. Hobi menulisnya menjadi tersendat karena komunikasi dengan teman dekatnya jadi berantakan. Apalagi sejak ia menghabiskan lebih banyak waktu di kamar dengan layar monitor laptopnya atau hape untuk sekadar menuliskan beberapa kisah atau puisi. Sahabatnya marah. Karena merasa diabaikan. Sahabat sejak kecilnya itu cemburu, karena ia tak lagi diajak bermain, walau hanya sekadar jalan-jalan santai di mall, makan bakso di kantin sekolah, atau hal-hal kecil lainnya yang dulu sering mereka lakukan.

Wah-wah ... sepertinya ini bukan masalah hobi deh. Cuma bagaimana ia mengatur waktunya dengan hobi menulisnya.

"Saya harus berhenti menulis, sebelum sahabat saya meninggalkan saya begitu saja."

Akhirnya ia mengeluarkan kata-kata itu. Duh sedih banget deh. Kenapa tidak menulis sambil terus bersilaturahmi dengan sahabat yang sejak kecil tumbuh dan berkembang bersama itu.

Aku ingat beberapa tahun lalu. Saat asyik-asyiknya 'jatuh cinta' dengan menulis, bahkan kerjaan utama saja jadi terbengkalai karena terlalu mabuk kepayang dengan dunia menulis. *nyatanya sampe sekarang menulis cuma jadi hobby saja hahah*. Hubungan sosial dengan sekitar jadi berkurang. Duniaku hanya kamar, ruang kerja, layar komputer, layar hape. Waktu istirahat di kantor pun habisnya di ruang komunitas menulis dunia maya. Sempat dikira autis, dan sombong, karena tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Akhirnya lama-lama juga sadar sendiri. Menulis juga perlu interaksi dengan dunia nyata. Banyak hal yang bisa didapat dari hubungan sosial langsung. Dengan sahabar, orang tua, tetangga, rekan kerja, dan siapa pun yang bisa diajak interaksi dua arah tatap muka.

Sediakan waktu dari sekian jam milikmu di depan layar, untuk berhadapan langsung dengan teman-teman. Bukan berarti menghentikan kebiasaan menulis yang sudah jadi bagian hidup. Teruslah menulis selagi tetap berinteraksi dengan kehidupan yang sebenarnya.

Kita boleh menciptakan dunia kita sendiri dalam setiap tulisan kita. Tapi ingat, kita masih punya dunia yang sesungguhnya untuk dijalani.

Penulis susah dapat jodoh? Ah, siapa bilang? Coba keluar kamar, kali aja di tetangga sebelah ada yang sedang mengamatimu. Setelah itu, lanjutlah menulis lagi hehehe.
from pesantrenpenulisdotcom


Ebook English Version The Five People You Meet in Heaven

Novel kedua dwilogi Padang Bulan, Cinta Dalam Gelas


Novel pertama Dwilogi Padang Bulan
If I Stay ==> reading online/unduh





Pemenang Award Edgar untuk novel Young Adult Mystery ini memang oke untuk dinikmati.

Langsung saja dibaca versi indonesianya di sini Never Trust a Dead Man


Novel yang akan membuatmu .... :D

silakan disimpan The Body in The Closet
Siapa yang tidak tahu Brili Agung? Founder Rumah Inspirasi Academy, Consultant and Trainer, Co-Writer and GhostWriter juga Direktur Inpro Training ini termasuk penulis muda berbakat dan hebat.

Hehehe. *terus terang saya baru lihat fotonya. Ganteng looh ... *semoga yayank gak baca ini, bisa cemburu dia nanti heheh.

Kali ini saya ingin berbagi ebook keren hadiah dari seorang teman yang mendapat hadiah juga dari Brili. Ebook luar biasa yang mengungkap rahasia penulis.

Penasaran seperti apa isinya?

Yukk dibaca saja 3 Rahasia Penulis




Zaman sekarang banyak kisah Child abuse- Penyiksaan Anak. Buku ini mengajak kita lebih dalam merasakan betapa gelapnya dunia anak-anak yang mengalami penyiksaan teramat dalam.

Dengan membaca buku ini, setidaknya kita bisa ikut menyelami perjuangan seorang anak yang bertahan hidup meraih kemenangan dari setiap siksaan yang dideritanya.

Baca saja di sini

Part 1
Part 2

Dan inilah part terakhir dari Trilogi Fifty Shades.

Yuk diklik aja di sini

Part 1

Inilah bagian kedua dari seri Trilogi Fifty Shades.

Capcus aja yuk di sini

Walau agak terlambat untuk berbagi trilogi ini, tak ada salahnya jadi koleksi.
Beberapa sahabat request trilogi yang dijadikan film ini.

Yuk langsung saja ...

Fifty Shade of Grey





Satu lagi karya John Green yang menjadi best seller.

Capcus aja yang mau baca, di sini


Buku yang dirilis September 2006 lalu ini adalah novel remaja dewasa yang ditulis oleh John Green. Dan mendapat Runner up untuk  Michael L. Printz Award dan menjadi salah satu novel young adult terbaik di American Library Association's.

Yang mau baca, silakan nikmati ebook English Version ini

Kisah Karen dituturkan dengan apik oleh Psikiater yang merawatnya.
Kisah seorang wanita yang tenggelam dalam kegelapan dan untuk bertahan hidup ia menciptakan 17 sisi lain dalam dirinya.

Bagaimana kisah 17 versi dirinya yang berlainan karakter bisa survive?

Yuk klik saja di sini




Novel misteri keren ini dipublish Mei 2003 lalu. Mendapat award Costa Book of the Year, Guardian Children's Fiction Prize, Waverton Good Read Award. 

English Version here
Just clik here

Novel keren tentang seorang William Stanley Milligan yang memiliki 24 kepribadian dalam dirinya.
Kisah yang juga telah diadaptasi ke dalam layar lebar ini cukup oke buat dibaca.
Yuk diunduh :)

Lagi iseng nih ... :D

Yang mau Ebook Thalita by Stephanie Zen silakan. 


Di sini






Sabtu pagi tadi, saya diajak suami berkeliling desa bersama si kecil, Bianca. Sambil bercengkrama di atas motor tiba-tiba suami sedikit memperlambat laju kendaraan. Lagi, seperti biasa ketika ia melihat ada bongkahan batu di jalan yang kami lalui, ia pasti berusaha menyingkirkannya. Sudah bukan hal yang aneh. Begitulah yang ia lakukan, entah saat naik kendaraan atau berjalan kaki.

Ada satu yang terus saya ingat, bila kita sedang dirundung sedih atau berduka karena hati gundah, berbuat baiklah, cepat atau lambat kita akan mendapatkan kemudahan kemudian hari. Bicara soal batu di tengah jalan, suami juga kerap mengingatkan pada dua buah hati kami. Kalau lihat batu, besar atau kecil, di jalan, ambil dan pinggirkan ke tempat yang sekiranya tidak menghalangi jalan orang lain. Bayangkan bila ada yang buru-buru, lalu kesandung, malah jadi celaka.

Hal seperti itu tanpa kita sadari, bisa jadi penolong di masa depan. Ya, bukan berarti kita membuang batu lantas berharap dapat segepok uang. Bukan, bukan seperti itu. Melapangkan jalan orang lain, insyaAllah jalan kita akan dilapangkan. Rasanya kalimat ini sudah tidak dapat disangkal lagi. Banyak peristiwa yang tak disangka-sangka membantu kita karena kita membantu orang lain tanpa sengaja.

Saya yakin, bukan hanya saya yang pernah punya pengalaman seperti ini. :)
Semoga hidup kita semakin dimudahkan.


Saat terbaring di tempat tidur, saya mendapat PR khusus dari suami.
Apa-apaan ini? Sudah sakit malah dapat tugas yang enggak-enggak, batin saya kesal.
Tapi, suami malah tersenyum. Katanya, ini tugas paling mudah daripada diberi pekerjaan tambahan semisal menjemur burung-burung setiap pagi dan mengangkatnya menjelang terik di atas kepala.
PR-nya adalah membaca sebuah buku yang dulu "ngotot" ingin saya miliki tapi begitu sudah dibelikan hanya duduk manis di rak buku. La Tahzan.

Sebuah senyum malu-malu saya berikan untuknya. Suami saya yang baik hati dan selalu sabar menghadapi tingkah laku saya apalagi saat sakit itu mengambilkan buku tebal dari rak lalu duduk di samping tempat tidur.

"Ini, bacalah. Jangan melakukan hal lain selain baca dan resapi setiap lembarnya. Bila membaca Al-Quran bunda masih susah, baca ini juga tak apa."

"Tapi ..."

"Jangan banyak alasan. Sakitmu bukan sakit mata. Masih bisa membaca. Pelan-pelan, tak usah dipaksa habis. Ayah ingin, bunda memahami, bahwa sakit diberikan bukan sebagai hukuman atas dosa-dosa masa lalu yang pernah kita lakukan. Jangan menyalahi diri sendiri. Sakit harusnya membuat kita lebih bersyukur. Atas napas kehidupan yang masih bisa kita nikmati."

Kata-kata seperti itu bukan baru pertama saya mendengar dari bibirnya. Sudah berulang kali suami tercinta mengucapkannya setiap saya merasakan sakit teramat sangat. Dan saya selalu saja merasa sakit ini karena terlalu banyak dosa yang telah saya perbuat jauh sebelum ini.

"Jangan bersedih, Bunda. Hidup ini begitu banyak masalah pasti datang menghampiri. Tidak usah terlalu risau dipikirkan. Lakukan yang mampu kita lakukan, tinggalkan yang tak sanggup kita selesaikan. Sakit itu dimulai dari pikiran. Bahkan dokter yang mengobati Bunda pun berkata begitu. Bebaskan pikiranmu. Jangan biarkan ia menampung beban yang tak seharusnya ada. Obat-obat yang ada di depanmu ini takkan bisa menyembuhkan jika pikiran Bunda bekerja tak seharusnya. Santai. Yang lebih penting, bila mendengar yang negatif-negatif, Bunda sendiri harus bisa menolaknya. Harus katakan tidak, setiap hati dan pikiran mulai mengajak untuk bersedih, menyalahkan diri dan sejenisnya. Pikiran yang sehat, akan membuat tubuh juga sehat."

"Tapi ..."

"Nah ini, tapi-tapi melulu. Sudah baca saja. Banyak yang bisa membuat pola pikir Bunda menjadi lebih baik setelah membacanya. Setelah itu, berbenah diri. Bangkit dari tempat tidur. Kerjakan hal terbaik yang bisa Bunda lakukan. Untuk rumah, untuk sekeliling, untuk semua."

Dan ... saya sudah membaca beberapa lembar buku  yang ditulis Dr 'Aidh al-Qarni ini hampir setengah tebal bukunya.

Banyak yang harus saya benahi. Terutama diri sendiri. Hati dan pikiran. Semoga setelah ini saya selalu sehat jiwa dan raga. Aamiin.


La Tahzan
Buku yang menemani saat sakitku
Minggu-minggu terakhir adalah masa terberat saya. Ah, sedih harus mengatakan ini. Sebelum-sebelumnya, saya selalu bisa menyemangati orang lain, tapi diri sendiri ternyata masih saja bisa rapuh. Hahahah *ini ketawa sedih.

Ceritanya saya sedang lagi musuhan sama sariawan di bibir. Sariawan yang tak sengaja saya dapat saat di Commuter Line. Bianca lagi main enjot-enjotan di pangkuan saya. Saking semangatnya bibir terantuk kepala kecilnya. Jadilah sariawan di kemudian hari.

Hubungannya sama satu halaman cerpen, apaan?

Sabar dulu dong, saya kan belum selesai bercurhat heheh. Nah, mari kita lanjutkan. Seharian ini, saya kedatangan mood untuk menulis sebuah cerita pendek. Idenya biasa saja. Tentang seorang anak yang kangen sama ibunya. Oh iya, si anak ini sudah lama berpisah dengan si ibu sebab perceraian orang tuanya di masa lalu. Namun, begitu si anak ingin bertemu si ibu, si ibu malah memilih hangout di hari libur panjang ini.

Tapi saya tak ingin bercerita tentang isi cerpen itu. Ada yang lebih menarik dari kisah si anak dan ibunya itu.

Ya, Sariawan ini sesungguhnya lebih menarik hingga membuat perhatian saya tertuju padanya alih-alih mengisi satu halaman word yang baru kuawali dengan, "An ..."

Ya, hanya itu di satu halaman word di layar 32" (he, pasti kalian anggap saya bercanda, tapi tidak, ini beneran kok, layar monitor saya adalah layar tipi yang tidak dipakai. **suooombonge puoool** heheheh

Sariawan ini benar-benar bikin badmood tiba-tiba. Setiap saya mau menggerakkan jemari, ia nyut-nyutan sendiri. Memaksa saya untuk mengambil cermin bedak, membukanya dan melihat sariawan lebar di ujung bibir bawah sebelah kanan.

Alih-alih meneruskan menulis cerpen tadi, saya gugling deh. Apa sih obat sariawan paling ampuh?

Macem-macem sih ketemunya ... Eh tiba-tiba teringat, beberapa waktu lalu dibelikan obat sariawan sama suami. Eh tapi dicari-cari gak ketemu. Begini ini kalo ternyata sampe saat ini di rumah saya belum ada kotak P3K *padahal kapan lalu bikin tulisan pentingnya sedia kotak P3K di rumah. Hahah

Karena tambah nyut-nyut, pergilah saya ke dapur. Dan mengambil sedikit garam dengan ujung cotton bud. Dan tarraaaa, sariawan tambah nyutnyut, walau hanya sebentar dan lenyaplah kesakitannya untuk sementara waktu.

Saya kembali ke depan layar dan siap menulis.

Byar Pet!!! Lampu matiiiii, Sodara-sodara! Hilanglah mood saya. Satu halaman cerpen pun tak jadi hari ini.

Buku masih segelan :D
Hai-hai, ketemu lagi di akhir pekan yang panjang ini.

Liburan pada ngapain? Di rumah aja seperti aku? Heheh Yuk yang lagi gak ada kerjaan, ikutan giveaway suka-suka ini.

Gak harus punya blog untuk ikutan ini. Cukup posting aja di media sosial milikmu, misalnya akun FB kamu. Hanya, jangan lupa cantumin link postingan ini di akhir tulisanmu. 

Yang punya blog, silakan posting seperti biasa, dan tetap backlinknya jangan lupa ya.

Caranya? Nulis apaan kali ini?

Yuk, disimak...

Sharing pengalamanmu tentang tingkah laku sahabat atau teman, atau pasanganmu (cowok) yang paling bikin kamu sensi dan ilfil, atau apa saja kebiasaan mereka yang bikin kamu pengen ngulek kepala eh cabe di ulekan :D

Suka-suka aja jawabnya, gak usah terlalu serius. Namanya juga GiveAway suka-suka. Tulisan paling "Wow" akan mendapat 1 buah buku di gambar. 

DL-nya sampai Minggu, 17 Mei 2015 pukul delapan malam. 

Share ini ke teman-teman kamu ya ...

Selamat menulis suka-suka.

Bukan rahasia lagi, wanita-wanita moderen zaman sekarang kebanyakan aktif di luar rumah.

Tadi pagi, seorang tetangga sedang kebingungan. Asisten yang biasa merawat balitanya sedang sakit dan pulang kampung. Sambil menggendong anaknya yang rewel, ia curhat. Betapa lelahnya semalaman menggendong si kecil yang tak mau berhenti menangis.

Aku tersenyum mendengar curhatannya. Ya bagaimana bisa tenang, si anak memang lebih dekat dengan pengasuhnya. Wajar bila ia merasa kehilangan.

Si ibu makin galau ketika ia bilang sudah 3 hari cuti kerja. Wah, beban sekali ia memikirkan pekerjaan di kantor. Dengan malu-malu ia bertanya, apa bisa aku mencarikan seorang pengasuh untuk anaknya? Kalau kalau si pengasuh tak juga kembali. Waduuuw, ini yang susah. Mau mencari ke mana aku? Hehehhe

Teringat beberapa tahun lalu, saat tiba-tiba seorang ibu menyerahkan kedua anaknya yang masih kecil-kecil untuk kuasuh. Alih-alih merawat, si ibu lebih memilih mengisi pundi-pundi uangnya. Huff. Saat itu aku juga lagi mencari pekerjaan baru. Tapi ternyata mendapat pekerjaan luar biasa. Mengasuh dan merawat anak. Akhirnya sejak itu hingga sekarang, aku diam di rumah.

Nah, ajaibnya, selama diam di rumah, ada saja rezeki yang masuk. Sebab aku tidak betah hanya duduk, berdiri, sambil gendong anak heheh. Apalagi saat anak-anak tidur, pasti deh nganggur kalau tidak punya kesibukan lain.

Bekerja di rumah tak melulu kecil pendapatan dibanding kerja kantoran. Berani berkreatif dan mencoba hal-hal baru, tentu menjadi salah satu kunci sukses bekerja di rumah. Waktu yang fleksibel juga sangat menguntungkan kita. Mengatur waktu sendiri, mau bekerja sambil bermain atau bermain sambil bekerja, suka-suka kita kan ... hehhe.

Kembali ke dilemanya emak-emak ... kebanyakan masih berpikiran seragam. Kalau mau punya uang jajan lebih, bekerjalah. Dan kebanyakan pula memilih kerja di kantoran. Padahal, pilihan bukan hanya itu. Kenapa gak mencoba bikin kantor sendiri? 3x3 meter alias sekamar saja cukup kok. Mulailah dari kamar sendiri hahaha.

Zaman sekarang, manfaatkan internet semaksimal mungkin. Berdayakan akun media sosial kita ... insyaAllah bila digunakan lebih dari sekadar hahahihi, rezeki bakal mengalir dari jejaring sosial.

Kemarin aku baru mendengar berita seorang sahabat yang akan resign dari kantornya. Usaha di rumah tentu saja menjadi pilihannya. Semoga impiannya tercapai. Dekat dengan keluarga adalah alasan utama, dan berkarya di rumah adalah alasan utama lainnya untuk membahagiakan keluarga.

Aku? Ini tahun kelima kutanggalkan predikat karyawan kantor. Sekarang? Ya, inilah aku ... tak dilema lagi. Hehhehe

Sahabat LovRinz yang berbahagia ... Sudah menulis apa hari ini?

Apakah sahabat semua kebanyakan bingung mau menulis tentang apa? Risau karena si edi eh ide tak kunjung datang padahal sudah mengambil waktu khusus sambil duduk di bawah pohon cabe dan memegang hape sambil pencet-pencet tombolnya? Ah, mengapa mesti galau, sodara-sodara ...

Kenapa tidak mencoba menuliskan pengalaman-pengalamanmu di masa lampau menjadi sebuah tulisan keren? Susah? Ah, excuse! Menulis pengalaman sendiri adalah hal paling mudah, loh. Ihhh, dibilangin malah geleng-geleng. 

Ingat saat kamu telat masuk sekolah karena semalaman suntuk ngobrol sama gebetan sampe lupa bobok? Atau, inget waktu disuruh papa beli bahan bakar kendaraan tapi kamu malah bablas maen ke rumah temen karena ada tetangga baru yang aduhai? Atau masih banyak pengalaman lain yang konyol dan memalukan atau menyedihkan atau ah apa sajalah yang pernah kau alami? Hei ... bila usiamu 20 tahun sekarang, berarti ada 365 hari kali dua puluh pengalamanmu yang bisa kau ceritakan pada dunia. 

Masih bingung soal ide? Ckckck. Takut idenya sama dengan pengalaman orang lain? Ah, kita masih hidup di satu bumi yang sama. Wajarlah kalau ide di kepala kita ini sama dengan yang lainnya. Tapi ... tentu ada pembedanya. Caramu menuliskannya, menyampaikannya dan usahamu agar apa yang tertulis menjadi ciri khasmu sendiri. Mungkin bagian ini yang bisa dibilang tak mudah. 

Untuk bagian yang tak mudah itu, tentu saja kau harus banyak berlatih. Tak ada penulis yang instan, my bro. :D Eh bisa jadi ada dink, kalau kau pakai jasa ghost writer mungkin saja heheh. 

Agar bisa menuliskan pengalamanmu dengan baik, jangan pernah berhenti belajar. Dalam menulis, sebenarnya tak ada istilah junior, senior. *eh siapa gue berani ngomong begini?!? Siap-siap dilempar bakiak sama yang katanya senior hahah. Bagi mereka yang sudah lebih dulu terjun ke dunia tulis menulis *ya kalau begini memang namanya senior sih* tetap saja mereka terus belajar, tak pernah berhenti untuk belajar menulis yang baik. Saat proses mereka belajar, tentu sama seperti yang baru belajar *ha, ini bolehlah disebut pemula*. Yang membedakan hanya, jam terbang mereka sudah panjang. Namun, kalau mereka berhenti belajar dan terus menggali potensi diri, ya bisa-bisa kebalap sama yang disebut pemula tadi. Maka jangan pernah berhenti belajar. 

Pengalaman adalah bahan latihan yang baik menurutku. Coba saja, minimal sehari menuliskan satu pengalamanmu menjadi sebuah karya yang ajib. Pengalaman patah hati, boleh ... cobalah bereksperimen menuliskan sedih hatimu karena putus cinta dengan bahasa yang nyastra hehehe. Namanya juga latihan, sah-sah saja kan bila coba menggunakan diksi dan metafora. Terus berlatih sampai lihai. 

Gimana, masih mau terus berlatih kan?

Aku? Tenang, aku bukan penulis kok, hanya orang yang suka menulis demi menyenangkan diri sendiri dan semoga saja orang lain juga ikutan senang. Dan ... jangan khawatir, tulisan ini masih jelek, tapi aku tetap berlatih. Namanya juga usaha. HEhehhe.

Selamat menulis!


Sejak menggeluti dunia penerbitan dan percetakan buku, saya jadi gagal fokus untuk urusan menulis cerita, puisi atau bahkan menulis apa saja, kecuali menulis keluhan dan curahan hati, itu rasanya kayak keran air yang dibuka otomatis. Hahaha.

Apakah saya mengalami yang namanya kebuntuan dalam menulis? Rasanya kok tidak, ya? Sebab ketika satu dua orang mengirim pesan dan meminta ide untuk tulisannya, ya keluar kayak air keran tadi. Lantas masalahnya apa dong ini?


Ha, setelah riset ke sana-kemari ketemulah penyebabnya.

1. Malas
    Nah, malas inilah alasan paling utama kenapa tulisan saya tidak pernah menemukan takdirnya jadi ending. HAHAHAH. Ini rajanya alasan. Padahal, malas itu bisa disiasati dengan nimbrung di kumpulan pecinta tulis menulis. Sebab gairahnya mereka sedikit banyak akan nular juga.

2. Malas
    Lah, bukannya tadi sudah. Kok, diulang lagi? .... Ya, yang ini bukan malas menulis, tapi malas membaca. Saya pernah ngintip quote sapa gitu di mana gitu, intinya, ide bisa muncul ketika satu dua lembar kau baca tulisan orang lain. Benar juga rupanya itu. Malas membaca akan membuatmu juga malas menulis. Bagaimana bisa punya wawasan luas, kosakata banyak, dan diksi serta metafora melimpah kalau kita malas baca. Menulis tanpa membaca sama aja boong. Hihihi

3. Malas
    Malas lagi??? Ya ... beginilah, kalau sudah malas, apa saja tidak akan pernah terwujud. Menulis dan membaca itu butuh hasrat yang besar. Bukan hanya kau bisa menulis maka kau akan jadi penulis hebat. Tak cukup, tak cukup, Kawan ... hehehhe Buanglah Malas, Malas dan Malas mulai detik ini.

4. ... Jangan lagi bilang Malas!!!

Ah sudahlah, saya sendiri harus mengalahkan kemalasan terbesar dalam pikiran saya.

Mari kita basmi kemalasan dalam menulis dan membaca. Semoga tulisan saya setelah ini bisa menemukan takdir bahagia. Paling tidak dilirik sapa gitu buat diterbitkan.

Hei, helllo, bukankah saya penerbit???
Ahahah sepertinya saya sudah mulai tidak waras.

Bahagia itu ...

Wanita mana yang tak suka dengan kejutan? Saya juga suka, tentu saja. Namun, hati suka sedih tiap ada kejutan kecil masuk pintu rumah. Nah loh, kok malah sedih?

Begini kisahnya ...

Bukan rahasia lagi, bila suami saya adalah lelaki yang sungguh romantis. Bila pergi ke mana saja, ia selalu pulang membawa bingkisan kecil untuk membuat saya tersenyum. Beberapa waktu lalu, ia pamit hendak membeli kaos. Sebab miliknya sudah jelek, bahkan sobek--ini kebanyakan kaos suami saya yang pakai, alih-alih meredam kangen kalau suami ngelembur di percetakan hingga dini hari. Sampai kucel hehhehe.
 
Nah ketika suami pulang, ia mengeluarkan bungkusan lalu memanggil saya yang sudah terlelap di kamar.

"Bun, ini coba lihat dan pakailah ..."

Sontak saja senyum merekah di bibirku. Sebuah gamis sederhana dan jilbab hitam panjang. Tentu saja langsung pakai. Tak saya rasakan nyeri di kaki kiri yang masih cedera. Suami melihat saya dengan mata berbinar.

"MasyaAllah, Bunda cantik banget pakai itu. Oh iya, ini juga ..."

Sebuah bungkusan agak besar. Sebuah handbag keren. Alhamdulillah.
Suami saya memang suka banget memilih barang untuk saya kenakan. Ia betah berlama-lama di toko untuk mencari yang cocok buat saya. Kalau saya, aduh, jangan harap betah di mall lewat dari sejam. Pegel.

Semalam, saya menghabiskan waktu untuk menyeterika baju. Awal-awal masih biasa saja. Lambat laun hati saya sesak. Bagaimana tidak, menyeterika baju suami yang rasanya kok baju itu pantasnya cuma buat di rumah saja.  Duh ke mana saya selama ini? Sampai tak menyadari semua ini.
Dengan perasaan sedih saya mengirim pesan buat suami, sudah waktunya membeli baju.

Tahukah apa jawaban darinya?

"Ya, sebenarnya waktu itu keluar pengen beli baju, celana, biar kalau bertemu customer tidak malu-maluin. Tapi ... Ayah inget Bunda. Secara naluri mengantarkan ke tempat jilbab dan gamis. Rasanya pengen beliin semua buat Bunda. Buat Ayah, gampang. Yang penting Bunda tetap meratiin Ayah juga."

Sedih ... malu rasanya. Suami memang selalu peduli hal terkecil apapun buat saya. Sampo yang saya kenakan, pakaian yang saya pakai, jilbab, sendal, sepatu, makanan yang saya makan duh semuaaaa dipedulikan. Tapi saya? Celana dalam sobek saja cuek. Ya Allah, ampuni hamba.

Sehatkan saya selalu, agar bisa terus memperbaiki diri menjadi istri yang sholehah buat suami.
Aamiin.
Sungguh saya ingin menuliskan ini sejak berhari-hari lalu. Rasanya begitu banyak yang ingin saya tuang dari sepenggal pengalaman hidup yang belum ada apa-apanya ini.

Pernah satu waktu yang lalu, ketika saya tertimpa musibah, seorang teman berkata, "Kamu bisa begini karena kurang bersedekah."

Musibah yang saya alami tidak bisa dibilang musibah berat, namun perkataan teman saya itu membuat dada terasa sesak. Saya memang kerdil dalam pengetahuan tentang keislaman. Tapi bukan berarti saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sedekah. 

Setelah perkataan teman saya yang menohok hati itu, saya merenung. Seberapa besar sedekah itu hingga bisa dikatakan cukup? Atau seberapa batasannya hingga dibilang kurang?

Dalam sebuah obrolan santai bersama suami, ia katakan, bahwasannya sedekah tak melulu diukur dengan nominal uang. Ketika bangun pagi hari, senyum merekah saat memandang suami dan anak-anak, itu sedekah. Membuat orang lain bahagia itu juga sedekah. Ya, suami memang menjelaskan pada saya makna sedekah dengan bahasa yang mudah saya pahami. Lalu ia berujar kembali. Tak perlulah orang lain tahu apa yang sudah kamu sedekahkan. Jangankan orang lain, tangan kirimu saja tidak boleh tahu apa yang sudah diberikan tangan kananmu.

Musibah datang bukan karena kurang sedekah. Musibah bukanlah sebuah bencana. Ia memang diperbolehkan hadir dalam hidup manusia untuk menguji, seberapa besar kesabaran dan keteguhanmu berjalan di jalan Allah. Kuatkan menghadapi segala cobaan?

Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya (QS.Asy.Syura:19)
Allah takkan meninggalkan kita sendiri dalam keresahan dan ketakutan atas musibah yang kita alami. Hanya dengan datang pada-Nya, hati akan tenang, jiwa penuh kedamaian. Serahkanlah semua pada Allah, pasrah pada-Nya dalam meminta segala permohonan. Niscaya Allah akan membuat ketenangan hati yang lebih saat kita menghadapi musibah.

Selama hampir lima tahun ini, saya begitu banyak mengalami peristiwa yang semakin terus mengubah hidup saya. Ketika memutuskan memeluk Islam dan menikah, saya memulai kehidupan benar-benar dari bawah.

Tinggal di rumah kontrakan (sebenarnya bukan kontrakan karena betapa beruntungnya saya dan keluarga karena diberi kesempatan berlindung di dalam rumah tanpa bayar) di tempat terpencil, di ujung desa. Kondisi rumah yang sebenarnya kurang layak untuk ditempati apalagi ada baby yang belum ada 1 tahun, membuat saya belajar bersyukur lebih. Masih banyak orang di luar sana yang tak terlindung dari panas matahari dan hujan serta dinginnya malam. Awal-awal hidup di rumah itu, sesungguhnya hati merasa tidak terima. Biasa hidup nyaman membuat saya sempat mengeluh. Perkataan orang-orang terdekat, yang menyesalkan keputusan saya untuk hijrah, sempat membuat saya jatuh. Namun, suami yang begitu sabar terus mengingatkan diri saya. Menunda kesenangan untuk kebahagiaan masa depan, itu perlu. Dengan begini, makna hidup yang sebenarnya akan kita alami.

Pelan tapi pasti, Allah mengganti semua menjadi lebih baik. Pindah ke rumah yang cukup nyaman dan aman buat anak-anak. Kehidupan pun menjadi lebih menyenangkan. Tidak berlebihan, namun cukup. Pekerjaan suami pun lebih menjanjikan. Dan saya kembali memiliki waktu untuk mengembangkan hobby menulis yang tertunda. 

Allah benar-benar luar biasa. Allah memberi lebih dari apa yang saya pinta. Menulis bukan lagi menjadi sekadar hobby. Walau rintangan ada saja yang hadir, Allah membuat saya kuat dengan janji-Nya. Saya tahu, Allah tidak akan pernah meninggalkan saya, sedikit pun. 

Ketika saya memutuskan untuk berhijab, lagi-lagi Allah memberi rezeki yang membuat saya semakin yakin dan teguh, bahwa bersama Allah tidak ada yang sia-sia. Saya tak perlu keluar rumah untuk mencari makan. Allah memberikan rezeki lewat jemari ini. Bahkan di saat saya harus terbaring lemah karena tidak bisa berjalan, Allah terus mendampingi saya lewat suami yang penuh kesabaran menjaga dan mendukung penuh apa yang saya lakukan lewat tulisan. 

Hidup dalam Islam, mengajarkan saya untuk berbagi tanpa memilih. Apa yang sudah saya dapatkan selama hampir lima tahun ini, bukanlah milik saya seorang. Dan Allah memberi kesempatan kepada saya untuk membaginya pada siapa saja. Allah memberikan saya "rumah" yang isinya sahabat-sahabat hebat. Dari "rumah" ini saya belajar, bahwa rezeki tidak bisa datang dengan sendirinya. Rezeki harus dijemput. Kita takkan bisa mendapatkan makanan enak sekejap mata, bila sebelumnya kita tak berbagi makanan. Ya itu yang saya simpulkan. Allah memang menyediakan semuanya. Namun, bila kita tidak berusaha, Allah juga tidak akan memberikannya. Diam di dalam kamar, atau duduk termangu di ruang tamu, tanpa melakukan apa-apa, sama saja menunggu hujan emas di siang hari. 

Islam juga mengajarkan saya untuk terus bersabar dalam menghadapi apapun. Akhir-akhir ini, saya merasa berat sekali kaki melangkah. Kehilangan, kesedihan, dan keputusasaan berkali-kali menghampiri tanpa diduga. Saya sempat patah. Sisi manusiawi saya memberontak. Mengapa ini bisa terjadi? Apa saya melakukan kesalahan besar sehingga Allah menghukum saya? Rasanya beberapa waktu terakhir ini saya berusaha hidup dengan benar. Mengapa semua musibah ini bisa datang?

Lagi-lagi di saat seperti ini, saya mengucap syukur tiada henti pada Allah, sebab memberikan saya seorang pendamping yang hebat, lelaki yang luar biasa. Di saat hati benar-benar tak bisa menerima dan selalu menyalahkan dir, suami saya kembali mengingatkan bahwasannya musibah terjadi sebagai cobaan dan ujian untuk naik kelas. Kita bukanlah satu-satunya yang merasakan penderitaan karena cobaan. Masih banyak orang  di luar sana juga jatuh air mata di pipi, sesak di dada karena menahan tangis. Namun, hanya orang-orang yang sabarlah yang mampu menghadapinya. Bersabar dan tetap mendekatkan diri pada Allah, niscaya semua cobaan akan mampu dilewati.

Semakin hari saya semakin menyadari, bahwa beginilah hidup. Kita tak melulu dihadapkan pada suasana riang gembira. Isak tangis juga diizinkan hadir untuk membentuk diri kita. Hanya orang-orang yang beriman teguh, berhati lapang, ikhlas dan penuh syukur atas segala yang diberikan Allah yang benar-benar bisa merasakan hidup.  Orang-orang yang selalu diberikan cobaan dan ujian agar naik kelas. Yang pasti, Allah tidak akan memberikan sesuatu di luar batas kemampuan kita. 

Saya tahu, selagi napas masih dikandung badan, musibah akan silih berganti hadir. Semoga membuat saya tetap teguh beriman kepada Allah SWT. Saya yakin, ada hal besar yang Allah siapkan untuk saya di depan sana. I'm a proud to be moeslim. Allahu Akbar.
indahnyaa Pic:Koleksi Maya Madu
Reporter : Maya Madu

Bukan hanya Bali dan Raja Ampat saja yang memiliki pantai dengan hamparan pasir putih yang alami. Dengan warna air laut yang berlapis-lapis. Di daerah Malang Selatan tepatnya di Desa Sitiarjo-Sumber Manjing terdapat tiga pantai sekaligus. Pantai Clungup, Pantai Gatra dan Pantai tiga warna.

Arah untuk sampai ke sana sejalan dengan arah ke Pantai Goa China, namun dari arah Malang kota, melewati Gadang hingga sampai ke daerah Sumber Manjing. Ada papan nama yang menjelaskan letak beberapa pantai. Tanda kiri TPI, tanda lurus Tamban dan tanda kanan Pantai Goa China. Setelah sampai tanda tersebut beloklah ke arah kiri--TPI. Masuk beberapa meter , pelan-pelan saja, selanjutnya ada petunjuk nama 'HUTAN MANGROVE' di sinilah tempatnya. Menjorok ke daerah perkampungan kecil, (akses mobil berhenti pada parkiran penginapan wisma), jika menggunakan sepeda motor dapat lanjut hingga sebuah tanjakan 80 derajat sampailah pada rumah penduduk yang menyediakan lahan parkir (dengan tarif Rp. 3000,-). Setelah sampai pada tempat parkir Anda akan melewati jalan bersemen lurus dengan pemandangan kayu mahoni yang menjulang tinggi, serta beberapa tumbuh-tumbuhan yang berjajar rapi di sekitar kanan-kiri Anda. Kurang lebih 2 km pada pos penjagaan.

YANG WAJIB DILAKUKAN.

Sebelum Anda terdampar di pantai ini alangkah baiknya google terlebih dahulu, apa saja yang perlu dilakukan. Karena saya dan rombongan touring sudah mempersiapkan semuanya maka kedudukan saya aman.

1. Reservasi masuk ke pantai 3 warna (jika melalui online pastikan nama yang menerima telepon siapa? Dan yakinkan Anda sampai di jam yang telah disepakati. Sebab kuota pantai 3 warna hanya 100 pengunjung di dalamnya. (BISA ANDA BAYANGKAN BERASA DI PULAU PRIBADI, PANTAI LUAS SEBEGITU LEBARNYA HANYA DIHUNI 100 PENGUNJUNG)

2. Ikuti tata tertib, apa sajakah tata tertibnya. Tanggung jawab terhadap sampah yang Anda bawa, sebab petugas akan mencatat sampah apa saja yang masuk dan dipastikan keluar juga, jika Anda melanggar denda untuk 1 jenis sampah senilai Rp. 50.000,- (ini tidak main2)

3. Membayar tiket masuk senilai 1 pohon bakau yaitu Rp. 10.000,- (Lumayan kan? Berarti kita ikut berpartisipasi menanam 1 pohon.)

4. Barang yang tidak dipakai sebaiknya tidak usah dibawa, cukup apa yang penting. Air mineral adalah barang wajib yang kudu kalian bawa, sebab tidak ada penjual di dalam pantai. (Bener-bener perawan deh)

5. Tidak ada tempat untuk bilas (kalaupun ada, menunggu kemarau yang sebelumnya hujan, sebab tandon selalu keruh jika timing tak tepat, jadi mandinya selepas keluar dari kawasan pantai)

6. Saya sarankan menggunakan sepatu sandal gunung atau sandal gunung, apalagi saat selesai hujan, jalan berliku dan licin.

7. Anda akan dipandu oleh tour gaet yang sudah dipesankan oleh petugas di pos penjagaan. (Masuk dan keluarnya di pandu) Waktu di dalam pantai hanya 2 jam/rombongan. Satu rombongan minimal 10 orang, dan maksimal 20 kurang lebihnya, (tapi rombongan saya 24 orangg hehehe curang yee)

ADA 3 PANTAI DI DALAMNYA.

Bahkan banyak warga yang tidak mengetahui keberadaan pantai tiga warna. Sebab tempatnya sangat amat jauh dari 2 pantai sebelumnya. Selepas dari pos penjagaan utama, kalian akan berjalan di tanah alami yang di kanan dan kiri kalian terdapat banyak tumbuhan. Melewati hutan-hutan kecil dan beberapa jurang yang tak seberapa curam, lantas di tengah perjalanan Anda akan disuguhi hutan bakau (Hutan Mangrove) yang masih jarang-jarang tumbuhnya. Viewnya bagus untuk pengambilan foto, jika masih pagi airnya masih banyak dan bisa dilewati namun saat siang airnya habis termakan sengat matahari. Ini menandakan Anda akan dekat dengan Pantai Clungup, dan bagi Anda yang ingin berkemah bisa di sini, ada camp area tersendiri, dan tanpa reservasi alias bebas kalau hendak ke Pantai Clungup.

Melanjutkan perjalanan yang tak kalah jauh dari Pantai Clungup, sama juga melewati bukit-bukit dan jalan yang meliuk-liuk serta hutan-hutan alami dengan berbagai suara-suara binatang hutan, beberapa jenis burung dan serangga hutan ramai jika sudah memasuki hutan kecil. Sampai pada Pantai Gatra, sebuah pantai yang tak kalah cantik dengan Pantai Clungup. Para rombongan bisa beristiraha sejenak di pantai ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Pantai Tiga Warna.

Melanjutkan perjalanan yang dipandu oleh gaet penduduk setempat (jangan coba-coba berjalan sendiri dengan rombongan Anda, karena pasti Anda akan tersesat, sebab banyak jalan yang sama) sehingga untuk sampai ke Pantai tiga warna dibutuhkan tour gaet yang memandu. Perjalanan tak kalah panjang dari satu pantai ke pantai berikutnya. Hingga sampailah ke sebuah rumah bercat biru--tempat berganti baju (jika buka, biasanya tutup karena kehabisan tandon air). Dipastikan Anda akan segera sampai. Dan benar saja saya dibuat takjub dengan pemandangan Pantai Tiga Warna, biru tua, kehijauan dan hamparan kecokelatan pasir laut.

Benar-benar sujud syukur saat sampai di tempat itu, sebab kelelahan perjalanan panjang saya terobati dengan keexotikan pantai dan kecantikan yang masih perawan.

BISA SNOKLING DAN ADA LUMBA-LUMBA

Untuk kalian yang tidak bisa berenang tenang saja, saya juga tidak bisa berenang namun di sana disediakan penyewaan pelampung dan kacamata renang lengkap dengan selang pernapasan (lupa namanya, males googling). Anda hanya cukup membayar Rp. 15.000,- dengan kurang lebih 2 jam (sangat puas waktu segitu). Bisa berenang hingga ke tengah laut, sangat savety sekali sebab tamparan ombak hanya kisaran di pinggir laut.

Dan sayangnya saya tidak dapat sunset sebab waktu saya habis, kata warga daerah sana kisaran pukul 17:00 sore hari, jika ada sekelompok burung bangau yang terbang melintasi laut tandanya ada ikan lumba-lumba yang berenang di sekitar pantai. Biasanya konon katanya berasal dari Pulau Sempu. Sebab di sebelah kiri pantai jika ditelusuri menghubungkan Pantai Sedang Biru, dan sebelah kanan Pantai Goa China.

Saatnya pulang, dengan lega karena rasa penasaran terobati dengan mandi dan snokling di pantai, maka saat di pos penjagaan data sampah akan dipertanyakan. Karena saya dan rombongan telah sadar lingkungan sehingga sampah kita aman dan lolos hingga pulang.

Semoga informasi dari saya dapat menjadikan reverensi liburan keluarga.

Tambahan jangan takut kehilangan sinyal, sebab provider Xl dan Simpati masih berjaya di sana, masih bisa online tongue emoticon




Special Thanks to Maya Madu yang sudah mengizinkan dipublishnya tulisan ini di LovRinz.



Pic: Koleksi Maya Madu

Koleksi Maya Madu

Koleksi Maya Madu





Siapa pun yang pernah bertemu dengannya, pasti ikut menundukkan kepala. Faity si Burung Juara yang baru saja kubagi kisahnya di sini beberapa hari lalu *duh masih segar di ingatan, saat aku mencandainya sambil memasukan sedotan ke dalam kurungan dan dia mematut-matut sambil ngoceh* tiba-tiba meninggalkanku dan seisi rumah ini. 

Minggu pagi, seperti biasa, tangan dingin suami tercinta mulai merawatnya. Siang hari, Faity dijadwalkan ikut kontes burung berkicau. Suami sudah tidak sabar ingin menunjukkan perubahan besar pada Faity si chepot yang sudah tampil cantik dengan bulu-bulunya. Tak gundul lagi. 

Ketika berangkat, aku dan anak-anak tentu saja ikut mendoakan Faity. Semoga kali ini ia jadi juara lagi, mengingat sudah lama ia tidak turun berlomba.

Saat sore hari, suami pulang sambil membawa piagam penghargaan. Ya, Faity lagi-lagi juara. Ia layak menjadi juara teratas, namun, karena bulu yang belum sempurna dianggap nilai minus. Banyak yang menyesalkan keputusan juri. Bahkan beberapa peserta ikutan sebal melihat juri yang tampaknya berat sebelah. Ini kontes burung berkicau kan? Bukan kontes bulu burung???

Faity si Cepot dan Piagam Terakhirnya T.T
Suami tetap berbesar hati, walau Faity meraih juara 4 dan 5, Faity tetaplah juara di hatinya, hatiku dan hati anak-anak. Faity sudah berusaha keras sejauh ini. Bagi burung yang gundul, untuk bersuara lantang dan jernih itu sebenarnya cukup menyakitkan, tapi, Faity pantang menyerah. Ia ingin kami bangga padanya.

***

Minggu sore menjelang magrib, Cirebon diguyur hujan deras, gluduk bertalu-talu dan lampu mati pula. Suami sudah meluncur ke percetakan. Melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

Karena hujan deras dan gelap yang makin gulita, aku bersama anak-anak memutuskan diam di dalam kamar. Malam semakin larut. Lampu nyala, aku meminum beberapa obat untuk pereda sakit yang kualami. 

Tertidurlah aku dalam selimut bersama anak-anak.

Malam hari aku dikejutkan dengan suara yang memanggilku. Suami pulang. Serta merta aku meloncat dari kasur. Suaranya begitu mengkhawatirkan.

Pintu terbuka.

"Bunda ... kenapa Cepot gak dibawa masuk?"

"Astafirullah ..." Aku lemas. Terlupa akan kurungan Faity di teras rumah.

"Mati!"

"Ha?"

Dengan tak percaya aku berjalan tertatih ke pintu. Aliran darah yang mengalir ke luka di kaki kiriku terasa semakin membuat kakiku berat. Aku terduduk lemas ketika melihat kurungan penuh bulu dan ... kepala Faity di dalamnya.

Ya Allah ... 

Aku tak mampu berkata apa-apa. Suamiku melangkah ke kamar. Dengan lembut ia memintaku menutup pintu lalu masuk ke kamar. 

Sesak rasanya dadaku. Ini semua salahku. Ya Allah, sungguh berdosa aku pada Faity. Membiarkannya di luar sendirian. Dalam dingin dan dipenuhi kucing-kucing yang bertampang lugu itu. 

Aku tak bisa menahan tangis. Suamiku tentu lebih perih hatinya. Faity bak anak bungsunya. Yang setiap hari dimanja. Hanya suamiku yang paling mengerti apa keinginannya. Alih-alih bersedih, suami menarikku dalam pelukannya. 

"Sudah, jangan menangis. Cepot sudah gak ada. Dia tak mungkin bisa kembali karena tangis bunda."

"Tapi, maafkan bunda. Ini salah bunda."

"Sudah ... Ayah yang salah karena lupa mengingatkan bunda. Ya, semua sudah ketetapan Allah. Kita hanya kurang hati-hati menjaganya. Ini belum rezeki kita."

"Mengapa rasanya musibah tak pernah mau berlalu. Belum yang satu datang lagi yang lain."

"Bisa jadi, ini sebagai pengganti yang lebih besar. Allah tidak akan mencoba kita dengan cobaan yang di luar kemampuan kita. Ambil hikmahnya saja. Bila tidak sekarang, mungkin besok atau lusa. Ikhlaskan."

"Maafkan Bunda ya, Ayah ... karena bunda, burung Ayah ..."

"Burung kita, bukan burung Ayah saja. Sudah, berhentilah menangis. tidurlah. Yang penting Bunda sehat."

Sungguh, aku tahu kepedihan hati suamiku ditinggal Faity. Setahun bersamanya, banyak hal yang kami pelajari.

Faity bukan burung biasa. Ia memang tak seperti burung lainnya yang memiliki bulu normal, mulut normal dan tingkah yang normal pula. Faity, burung ajaib. Dalam ketidaksempurnaannya, ia berusaha jadi yang terbaik. Memberikan terbaik dari apa yang ia punya. Suaranya yang gemilang, sikapnya yang penurut dan mental juaranya yang sungguh membuatku belajar banyak hal.

Kekurangan bukan untuk disembunyikan. Jadilah diri sendiri dengan segala kekuranganmu. Sebab di balik kekurangan, ada kelebihan yang bisa diberikan untuk semua.

Faity mengawali langkahku sejak mulai mendirikan LovRinz. Di tengah cibiran orang atas anggapan ketidakmampuanku di dunia literasi, aku belajar darinya untuk tetap berdiri tangguh dan terus berjuang memberikan yang terbaik. Saat aku lemah, suami mengingatkanku akan sosok Faity yang tak pernah berputus asa.

Jangan pedulikan anggapan negatif orang lain, bila kau yakin bisa memberikan sesuatu yang positif buat orang banyak, lakukan. 

Terima kasih, Faity. Kau meninggalkan kesan teramat baik di mata dan hati orang-orang yang pernah melihatmu, mendengar suaramu, menyaksikan sendiri perjuanganmu dari waktu ke waktu. Maafkan kekhilafanku yang sudah membuatmu menderita meregang nyawa sendirian di malam gelap. Maafkan ketulianku yang tak mendengar teriakanmu. Maafkan ... maafkan aku.

Terima kasih ... pernah hidup menjadi bagian dari keluargaku. Terima kasih atas hari-hari penuh sukacita atas nyanyianmu setiap saat. Terima kasih sudah berbagi hikmah dalam perjalanan hidupmu yang singkat. 

Akankah kelak aku pergi meninggalkan kesan baik di mata orang-orang yang kutinggalkan?

Selamat Jalan, Faity si Cepot. 
Selamat Jalan.
Mulai ikut-ikutan ngeblog sejak 2013. Waktu itu masih pakai gratisan. Mulanya karena tertarik dengan cerita beberapa teman yang aduhai senang banget hidupnya dibiayai dari hasil ngeblog. Siapa yang gak mupeng coba?

Mau motor, dapat dari ngeblog, mau lahiran dapat juga dari ngeblog buat perlengkapan bayinya. Mau susu ibu hamil ya juga dapat gratisan. Mau makan enak di resto, juga dapat vouchernya. Mau liburan, gak usah repot nyari penginapan, sebab ada hotel yang menyediakan kamar gratis untuknya, dan masih banyak lagi.

Ckckck, gimana gak pengen banget tuh.

Akhirnya dicobalah ngeblog walau isinya gak keruan campur aduk tak tenturudu arah. Hahahha. Lalu setelah berhasrat ingin punya domain berbayar, mulailah dikit-dikit nerima job review di web. Lumayan, buat ngisi pulsa internet sebulanan atau buat beli mainan anak-anak.

Beberapa waktu belakangan, malah bayarannya lebih tinggi dari pertama menerima job review. Seneng tentu saja. sempat ngebayangin juga kalau tiap hari kali sejumlah itu, wahhh bisa penuh tabungan. Hahah.

Apalagi sebentar lagi anak-anak sudah masuk sekolah. Bisa dialokasikan buat tabungan pendidikan. Sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit gitu, asal sabar dan telaten.

Mau ikutan dapat duit dari ngeblog?
Yuk, kita Go Blog :D

*satu yang belum bisa saya lakukan adalah .... belum bisa fokus menulis artikel yang berkualitas agar dilirik calon pemberi job review hahahha.

Eh tapi tapi, kalau rupa-rupa warnanya isi blog ini kan berarti bisa menerima job review dari mana saja tohhhhh ... *ajaran sesat :D

Yuk ah, sapa yang mau direview produknya, silakan hubungi 085933115757 ya ... Harga terjangkau pokoknya mah ...

Beberapa waktu lalu, perasaan saya rasanya enggak banget. Mulai dari bangun tidur karena semalam bermimpi sangat tidak enak. Lalu ketika selesai berberes rumah, dan mulai bekerja di depan layar komputer, hati tak menentu. Tempo-tempo jantung rasanya berdetak lebih cepat. Bolak-balik saya bangun dari kursi dan masuk ke kamar tidur sambil bengong, lantas keluar lagi dan duduk kembali memulai pekerjaan.

Ketika siang menjelang, saya kepikiran dengan tumpukan paket yang belum diambil kurir. Tampaknya saya harus berangkat sendiri. Tapi lagi-lagi, kaki berat buat melangkah. Ketika pamit pada suami, kebetulan si kecil sedang tidur jadi bisa agak leluasa, rasanya kok maleees banget. Tadinya si Kahpi ingin diajak. Tapi entah kenapa tumben-tumbenan dia menolak. Ingin di rumah saja.

Meluncurlah saya dengan motor matic dan tumpukan paket di bawah kaki. Keluar dari kompleks, jalanan sepi banget. Dalam hati saya berpikir, ini orang-orang pada istirahat karena Cirebon panas banget. Motor laju perlahan. Tapi hati rasanya tertinggal di rumah. Ketika sampai di pertigaan, seharusnya saya langsung belok kanan, tapi entah kenapa saya kok ambil lurus lalu berbelok perlahan.

Tepat di depan kantor pos, tiba-tiba saja motor yang saya kendarai terpeleset, barangkali tanah berpasir yang menyebabkan bannya agak kaget dibawa belok. Tanpa bisa dicegah, saya bersama paketan segitu banyaknya jatuh, dan motor menindih tubuh saya terutama kaki bagian kiri yang cedera.

Ya, masih beruntung, sebab jatuhnya bukan di tengah jalan raya yang kebetulan di depan kantor pos itu lebih ramai ketimbang keluar kompleks perumahan. Dan dengan sangat merintih dalam hati, saya tinggalkan motor lalu pulang diantar ojeg. Sampai rumah, tentu saja, saya menangis sejadi-jadinya. *mumpung ada suami, kapan lagi bermanja. Dan emang kebetulan sakitnya bukan main.

Bicara soal firasat, tentu bukan hanya kali ini saja saya berfirasat aneh kemudian beberapa waktu ke depan terjadi hal yang tidak diinginkan. Dan tentu juga, banyak di antara kita yang pernah mengalami hal yang sama. Banyak peristiwa terjadi dalam kehidupan saya dan sering diawali dengan firasat-firasat.

Kadangkala saya menganggap itu sebagai sebuah kebetulan belaka. Namun tak memungkiri juga, kadang firasat datang sebagai pertanda. Seperti firasat yang saya rasakan beberapa hari lalu, seandainya saya lebih berhati-hati tentu tidak terjadi hal yang tidak saya inginkan. Tapi kembali lagi, saya menganggap firasat itu sebagai petunjuk Allah atas cobaan atau ujian yang harus saya lewati. Sebab segala sesuatu sudah ada ketetapannya, bukan.

Hanya saja, bila kita berfirasat tidak baik janganlah firasat itu lantas membelenggu kita dan membuat diri menjadi terlampau khawatir karena terlalu memikirkannya. Ya bisa jadi kejadian beberapa hari lalu karena saya terlalu lebai atas firasat yang saya alami sendiri. Hehehe
from pengusahamuslimdotcom



JAKARTA -- Profesor Ilmu Komputer, yang
juga mantan Ketua Indonesia Security Incident Response
Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), Richardus Eko
Indrajit mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan
mengunggah hasil swa-foto atau selfie .
Alasannya karena selfie ternyata bisa disalahgunakan karena
berpotensi mengancam keamanan identitas sang pemilik foto.
" Selfie memiliki kerentanan. Vulnerability-nya adalah saat
Anda memotret wajah dari dekat maka secara tidak langsung
Anda memotret retina mata Anda. Dari gambar selfie , retina
mata Anda terlihat jelas. Apalagi jika menggunakan kamera
resolusi tinggi. Jika dipindai, semua selesai," kata Eko dalam
seminar Virtus Security Day 2015 yang berlangsung di Jakarta
Selatan, Kamis (30/4).
Seperti diketahui, saat ini banyak sistem keamanan yang
menggunakan pemindai biometrik atau alat pindai yang
memanfaatkan metode komputerisasi yang menggunakan
aspek-aspek biologi terutama karakteristik unik yang dimiliki
oleh manusia seperti retina mata.
Selain itu, selfie juga bisa digunakan untuk memanipulasi
aplikasi yang mensyaratkan pengenalan wajah.
"Sekarang berapa jenis aplikasi yang dilihat mukanya, face
recognition? Kalau mukanya diganti foto sama seperti finger
print? Bekas gelas bisa diambil, kelihatan sidik jarinya, bisa
saya pakai masuk ke komputer. Kalau selfie kan mata kita
bikin high definition lama-lama bisa detail tuh, nah selesai
sudah," katanya.
Eko yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi
Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer itu juga
mengingatkan dengan memposting selfie di media sosial juga
bisa berakibat pada tindak kriminal lain mengingat lokasi
pengambilan foto bisa langsung diketahui.
"Kalau dulu jadwal pejabat rahasia, sekarang kalau
presidennya ke sini selfie, presidennya ke sana selfie, kan jadi
tahu ada di mana dan berhubungan dengan siapa dan
sebagainya," katanya.

Sumber : Republika.co.id

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI