Google+ Followers

Sabtu, 11 April 2015

Setia Itu Masih Ada

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan teman lama--yang sudah hampir 7 tahun kami tak bertemu.

Ia masih tetap sama, sapa hangatnya selalu membuat kagum. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Hidungnya mancung, kulit putih, tinggi sekitar 170 cm, tubuh proposional. Tak ada yang berubah. Bicaranya lembut tapi tegas, meskipun ia seorang anggota POLRI.

Yang membuat saya kaget adalah perempuan di sebelahnya, kulit putih, rambut panjang, hidung mancung, bibir pink, bulu mata sambungan, tangan putihnya penuh dengan goresan tinta berwarna-warni. Kaget karena saat bersalaman ia bilang sebagai istri dari teman saya itu.

Selama mengobrol saya selalu memperhatikan sikap mereka, tatapan penuh kasih sayang, saling memuji, tawa yang selalu diikuti oleh satu lainnya, terkadang kepala si perempuan bersandar di bahu sang lelaki.

Tadinya saya berpikir, Ah, mungkin karena masih baru jadi mereka terlihat begitu dekat.
Ternyata, mereka telah bersama lebih dari 5 tahun.

Mereka bahkan saling 'melindungi', dengan cara si perempuan memegang hp lelaki dan sebaliknya.

"Di BB-ku tak ada satu pun kontak cewe, semuanya ia hapus," ucap sahabat saya sambil tersenyum.

"Hapeku juga begitu. Jika ada fans cowo yang minta foto, ia pasti langsung delcont." 

Perempuan ini memang cukup terkenal di Cirebon. Maka wajar ada banyak fans.

Terlepas dari penampilan dan dunia mereka, saya bisa belajar satu hal. Tentang kesetiaan.
Mereka bisa memahami satu dan lainnya, saling mengerti.

Sahabat saya itu pun berkelakar, "Lurrr, sekarang tuh, kalau saya pulang rada telat dikit aja, telpon tuh udah berbunyi tang, ting, tang, tung. Awalnya saya risih. Tapi lambat laun jadi kebiasaan. Malah sebisa mungkin sebelum hape berbunyi saya sudah ada di depan pintu."

Saya tersenyum sambil cengar-cengir sendiri, teringat pula istri di rumah. Ya, kadang hal-hal seperti itu dirasa berlebihan, padahal itu sama saja sebagai pengingat diri. Bahwasannya kita, lelaki yang sudah berkeluarga, punya tanggung jawab sama yang di rumah.

"Kami sama-sama saling menjaga. Hingga terbiasa untuk pula menjaga diri sendiri demi pasangan."

Sebuah kalimat yang luar biasa keren karena keluar dari mulut sahabat saya yang notabenenya zaman dulu gemar sekali bermain sana-sini. Ternyata berkeluarga itu bisa mengubah kepribadian seseorang. Mendapatkan pasangan yang baik tentu saja bisa menjadikan diri kita pun jauh lebih baik. 
Kesetiaan
Genggamlah terus jemari pasanganmu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI