Google+ Followers

Selasa, 14 April 2015

Say Yes! Part 2



BAB 2

            Cinta,
            mungkin aku salah
            menyimpanmu dalam diam

            Bintang tetaplah Bintang
            Bagaimanapun juga,
            Aku tak bisa meraihnya
           
~00~
            Cinta bisa datang sesuka hati. Kapan pun ia mau, tak perlu mengetuk pintu.
            Aku membuka profil Aadetya. Namun tak ada yang bisa kutemui di sana selain catatan-catatan cerita atau puisi. Kubuka album foto untuk mengenalnya lebih jauh. Tapi tetap saja aku tak bisa melihat wajahnya. Foto profilnya pun hanya menampilkan sebuah kalimat, “Thank you, but the princess is in another castle.
            Sudah seminggu lebih aku tidak bersapa dengan Aadetya. Ada yang hilang di hari-hariku. Membuka berandanya, kupikir akan bisa menemukan jawaban ke mana perginya guru tercintaku itu.
            Tercinta? What? Apa yang barusan kukatakan itu. Cinta? Impossible. Mungkin aku hanya rindu. Kangen canda yang ia lontarkan dan tawa yang pecah bersama.
            Bagaimana mungkin kerinduan ini sebuah cinta? Apalagi padanya yang bahkan tidak kuketahui asal-usulnya.
            “Alana!” Teriakan Salwa mengagetkanku. Sahabat seperjuangan sejak kecil itu memanggil dari depan pintu kamar.            
            “Hei, masuk ... Kapan datang?” Salwa teman sekolahku sedari SD. Kami bertetangga. Empat tahun belakangan, ia kuliah di Jakarta. Kabar kepulangannya sudah kudengar sejak beberapa hari lalu. Ia ingin mengabdi di desa, jadi kembali pulang.
            “Ngelamun aja sih kerjamu. Aku datang tadi pagi. Apa kabarmu? Tambah cantik saja ….” Salwa masuk dan kusambut dengan pelukan.
            “Lagi ngapain?” Salwa menuju meja  dan memainkan jemarinya di touchpad. Aku buru-buru menutup Neby.
            “Gak ngapa-ngapain. Mau tahu aja ...” Aku menarik Salwa ke tempat tidur. “Ayo cerita, ada perkembangan apa lagi tentangmu?”
            Keputusan Salwa untuk kembali karena ia baru saja berpisah dengan kekasihnya. Ini semua karena lelaki yang ia cintai menemukan wanita lain. Alih-alih larut dalam kekecewaan, Salwa memulihkan hatinya di desa. Menenangkan diri.
            “Ah, aku sedang tak ingin membicarakan itu. Kamu gimana? Masih saja setia dengan Sam dan By?”
Aku nyengir. Dua nama yang baru saja disebutkan Salwa tentu saja aku tak bisa jauh dari mereka –Samsy dan Neby, kesetiaan yang tak dapat tergantikan
            “Idih, malah senyum-senyum gak jelas. Kamu sudah punya calon pendamping ya? Kudengar dari ibumu, sedang mempersiapkan pernikahan? Jahat banget sih, kok aku gak tahu ....
            Keningku berkernyit, “Ibu cerita apa aja? Terus kamu percaya aku benar akan menikah?”
            Salwa mengamati perubahan raut wajahku. Senyum lalu tersungging di bibirnya. “Nah, makanya aku ingin mendengar sendiri ceritamu. Gak mungkin kamu menutupi sesuatu dariku, kan. Aku hanya heran, kenapa kabar rencana pernikahan kamu rahasiakan dariku. Hei, aku ini masih sahabatmu, kan?”
            Aku bangun dari kasur dan berjalan ke jendela. Anak-anak sedang bermain di depan rumah. Seperti sore yang sudah-sudah, halaman rumahku yang cukup luas menjadi tempat berkumpul anak-anak bermain sepeda atau layangan.
            “Hem ..., membaca gelagatmu ini, pasti kamu gak mau nikah toh?” Salwa mengikutiku dan memandang jauh ke luar. Aku menoleh dan tersenyum malas.
            “Ya itulah, kupikir kita belum terlalu tua untuk melajang, kan?” Nadaku seolah menyindir kenyataan bahwa kami berdua sudah pantas untuk menikah. Salwa tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdecak.
            “Itu bukan jawaban yang ingin kudengar. Jadi, siapa lelaki yang akan menikahimu itu?” Salwa melihatku seperti seorang penyelidik handal, melotot cari tahu.
            “Gak ada pernikahan! Aku bahkan tak mengenalnya. Gak niat buat kenalan.”
            Tawa Salwa pecah. Gak berubah, cewek feminin dengan rambut sebahu itu ngalah-ngalahin ketawanya tante Kunti.
            “Ah, aku tahu ... Kamu pasti sudah punya pilihan sendiri, kan ... Si itu ya ...?” Salwa mencolek pipiku.    
            “Si itu siapa?”
            “Guru menulismu yang misterius itu kan ....” Salwa tertawa pelan kali ini.
            Aku menatapnya sambil tersenyum. Salwa bisa menebak, tentu saja. Beberapa waktu lalu aku pernah bercerita tentang Aadetya padanya.  
            “Gak ada siapa-siapa. Dia hanya teman.”
            Teman? Aku senyum-senyum sendiri dengan kata teman yang baru saja terlontar dari bibirku. Ya, mungkin benar Aadetya hanya teman. Teman yang istimewa. Aadetya selalu hadir setiap aku membuka layar fesbukku. Kalau saja aku tidak muncul saat jam biasanya, ia pasti menelepon atau meninggalkan pesan masuk di Samsy.
            “Malam kelam tanpa cahaya Bulan. Sibuk ya sampai gak muncul?”
            Kalau sudah begitu pasti kujawab, “Kan masih ada Bintang. Bulan lagi diselimuti awan.”
            Aadetya teman yang mengasyikkan. Kalau sudah bersapa dengannya, aku nyaris lupa waktu. Sampai lupa esok pagi harus mengajar. Namun anehnya, tak pernah aku lalui pagi dengan kantuk setelah malam sebelumnya larut dalam percakapan seru dengan Aadetya.
            Pria misterius itu selalu sanggup menciptakan tawa dan semangat di hari-hariku. Dan kini, aku merasa kehilangannya. Seminggu sudah dia tak muncul. Pesan pun tak dibalas. Aku tak berani menekan tombol panggilan untuk sekadar mendengar suaranya. Apa ini rasanya merindu karena cinta telah merasukiku? Ah, cinta ... tidak, ini bukan cinta.
            “Heh, malah bengong dianya ...” Salwa mengibas-ngibaskan tangannya ke wajahku. Membuyarkan lamunan panjang akan Aadetya. Aku memandang kesal pada Salwa yang menertawakan sikapku.
            “Jadi, bagaimana dia?”
            “Dia?”
            Salwa melotot geram, “Ya dia? Si Bintangmu itu, kan?”
Aku tersipu malu. Salwa, gadis bermata belo dengan bulu mata yang lentik itu sungguh lucu kalau sedang diliputi penasaran.
            “Nah, tampaknya kamu beneran sudah jatuh cinta sama lelaki itu.”
            “Ngaco deh kamu. Sok tahu ...”
            “Ngaco gimana? Coba Ngaca tuh ... wajahmu kayak kepiting rebus. Itu tandanya ada yang lain di hatimu. Sesuatu yang kamu simpan. Hayo, cerita!” Salwa merengek manja. Sahabatku ini orangnya selalu ingin tahu. Tapi tunggu ... Apa mungkin iya aku sungguh jatuh hati pada Aadetya? Kulirik bayangan wajahku di cermin. Astaga, Salwa benar. Mukaku merah tak keruan. Sungguh memalukan.
            Dreet ... dreet ... Samsy bergetar panjang di atas meja. Pertanda sebuah panggilan masuk. Aku beranjak mengambilnya.
            Aadetya!
            Seketika jantungku berdegup kencang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI