Google+ Followers

Selasa, 14 April 2015

Say Yes! Part 1 ... Coming Soon


Bab 1
 
LovRinz Publishing
Thank To My Sista and Hubby, Novi & Jo
            Mataku tak henti menatap layar hape. Pesan yang kuterima pagi tadi seolah menjadi penyemangat. Akhirnya aku berhasil, lagi.
            Selamat ya Alana, naskahmu masuk daftar cerpen terbaik sayembara kemarin.”
            Aku tersenyum membaca pesan darinya. Ini yang kesekian kali namaku masuk dalam deretan naskah terbaik. Walau tak pernah berada di urutan teratas, aku tetap merasa bangga. Aku kembali membuka akun fesbuk dan langsung membuka ikon notifikasi. Kebanyakan pemberitahuan dari grup Pintar Menulis. Kupilih notif pengumuman pemenang lomba. Lagi-lagi Aadetya Kejora. Lelaki yang baru saja mengirimkan ucapan selamat itu selalu saja juara pertama. Ya, bagaimanapun juga yang namanya Bintang selalu di atas.
            “Selamat juga, ya. Hebat. Ah, kapan aku bisa menyusul ketinggalanku? Rasa-rasanya kau seperti bintang berekor. Aku ekornya.”
Aku sedikit tertawa membaca pesan yang baru saja terkirim. Ini bukan kebetulan. Hampir semua lomba yang kuikuti, tidak pernah pindah posisi. Selalu ada Aadetya sebelum Alana.
~00~
            Sayinna Alana, itu namaku. Kerjaanku sehari-hari sebagai guru sekolah dasar di dusun Wonosari, Desa Toyomarto. SD Toyomarto 03 berada dalam lingkungan Kebun Teh Wonosari. Perkebunan yang telah dibuka sejak tahun 1875 oleh Belanda ini awalnya ditanami teh dan kina selama tiga puluh dua tahun. Ketika Jepang menguasai Indonesia, sebagian teh diganti dengan  tanaman pangan. Lalu pada masa nasionalisasi di tahun 1950, perusahaan asing diambil alih oleh pemerintah. Sejak itulah tanaman kina diganti dengan tanaman teh. Sekarang perkebunan ini menjadi taman wisata agro.
Selain mengajar, aku suka sekali menulis. Sudah hampir setahun ini aku bergabung dengan komunitas yang isinya orang-orang hebat dalam dunia tulis-menulis. Di sela-sela istirahat mengajar, kuluangkan sejenak untuk menulis atau membaca karya teman-teman di grup. Aku tak pernah lepas dari Samsy, si hape jadul yang selalu menemani hari-hariku. Tanpa Samsy, jemariku gatal. Murid-murid memberiku julukan ‘Miss Samsy’ karena selalu nempel sama benda kesayanganku itu.
            “Bu, Bu ... Bu Alana!”
            Aku menoleh ke belakang. Tiga anak berseragam merah putih itu berlari-lari kecil menuju ke arahku. Beberapa lembar kertas ada di tangan salah satu siswa.
            “Ini, Bu.” Seorang murid yang bernama Dinda menyerahkan kertas-kertas tulisan tangan padaku, “diperiksa dulu ya, Bu.”
Aku membolak-balik satu per satu sambil tersenyum.
            “Ini yang buat lomba itu ya?” Anggukkan tiga murid menjawab pertanyaanku.
            “Ya itu, tapi kami gak pede, Bu. Hehehe. Tolong ya, Bu ...” Dinda merayu manja. Aku mengiyakan.
            “Ya, tapi gak bisa sekarang. Sudah waktunya pulang. Biar Ibu periksa di rumah ya.”
            Aku memalingkan badan dan berjalan pulang. Rumahku tidak terlalu jauh dari sekolah. Hawa sejuk pegunungan membuat perjalanan kakiku terasa menyenangkan. Meskipun ini hal biasa, tapi tetap saja aku menyukai kesegaran angin yang berembus dan menyapa wajah.
~00~
            Senja memerah. Aku memilih duduk di teras sambil menikmati keindahan langit. Suasana ini sangat kusuka. Kubuka Neby, netbook putih sahabat Samsy. Waktu-waktu seperti ini, inspirasi datang tanpa kupinta. Saat yang baik untuk menuangkan dalam tulisan.
            Tung Tung Tung!
            Bunyi notifikasi masuk bertubi-tubi begitu aku membuka layar beranda akun fesbuk. Kubuka satu-satu. Ucapan selamat atas keberhasilanku menjadi juara kedua, menumpuk di grup. 
            “Ayo, kapan kamu bisa menggantikanku, Alana?”
            Jendela chat Aadetya muncul tiba-tiba. Pria itu.
            “Pertanyaan yang aneh. Mana mungkin Bulan jadi Bintang?” Aku tertawa sendiri membaca balasan chat yang kutulis untuknya.
            “Yee, maksudku, apa kamu tak ingin menjadi yang pertama? Perasaan belum pernah kamu mengalahkanku ...”
            Aku tersenyum membaca pesannya. Tentu saja aku tak pernah berniat mengalahkannya. Seorang Aadetya Kejora yang telah lebih dulu melanglang buana di dunia menulis.
            Aku mengenalnya setelah sebulan bergabung di komunitas. Minggu-minggu pertama, aku hanya bolak-balik masuk grup untuk membaca tulisan dan sesekali meninggalkan komentar. Lalu aku beranikan diri mengirim tulisan di beranda grup. Aadetya orang pertama yang merespon tulisanku.
            Tulisan kamu bagus. Idenya menarik, konfliknya pas dengan alur yang mulus. Hanya saja kamu harus lebih memerhatikan EYD dan tanda baca. Aku yakin, bila kamu sering berlatih membiasakan diri menulis dengan baik dan benar, kelak kamu akan menjadi penulis sejati.
            Itu komentarnya setelah membaca cerita pendek yang kubuat. Jujur saja, tanggapan positif itu bagai suntikan semangat yang memacu hasratku menjadi seorang penulis. Sejak saat itu, tiap kali aku mengirimkan tulisan, Aadetya selalu menjadi orang pertama yang memberi kritik dan saran untuk perkembangan menulisku.
            “Hei, masih di situ? Lagi cari ilham ya?”
            Suara pemberitahuan mengagetkan lamunanku. Ah, iya, aku lupa menjawab pertanyaannya.
            “Jadi yang pertama? Tidaklah. Masih jauh langkahku ke sana.”
            “Jauh? Kamu tinggal selangkah lagi. Kenapa aku membaca keputusasaan di sini ya?”
           Lagi-lagi aku tersenyum. Itulah keistimewaan Aadetya. Ia nyaris selalu bisa membaca keadaan hatiku. Tidak, bukan putus asa. Mungkin lebih tepatnya, aku masih harus belajar lagi untuk meraih nomor satu. Tapi akan aneh rasanya kalau harus mengalahkan guruku sendiri.
            “Kamu pasti bisa. Tak heran kalau nantinya kamu lebih bersinar dibanding aku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI