Google+ Followers

Minggu, 12 April 2015

Rahasia Kecil

By Rina Rinz
Kak, sibukkah kau?

Aku ingin bertanya satu hal. Bila berkenan, sediakanlah waktu untukku sejenak. Sebentar, aku ambilkan kipas angin terlebih dahulu. Biasanya keringatmu akan bercucuran walau kau hanya duduk saja. Sungguh aktifnya pikiranmu, hingga duduk pun kau masih bisa bekerja. Sebentar-sebentar matamu menyala-nyala lalu jemarimu menekan tuts-tuts keyboard smartphonemu. Aku sebenarnya jadi tidak enak memaksamu duduk di sini.

Duh, Kak, senyummu sungguh meneduhkan hatiku. Ah iya saking terpesonanya aku sampai lupa tujuanku menahanmu. Satu hal, satu hal saja.

Minum dulu es tehnya. Cirebon memang panas, Kak. Sungguh luar biasa Kakak mau pindah ke sini dari pegunungan Malang yang sejuk. Ah, maaf-maaf. Jangan melotot. Baiklah, satu hal tadi ...

Kak, benarkah menikah itu dapat mengubah kita menjadi lebih baik? Mengapa aku tidak merasakan apa-apa setelah menikah dengannya? Mengapa yang kurasa dunia seolah sedang mengajakku bermain-main?

Duh, Kak, kernyit di keningmu membuatku malu. Bukan satu hal rupanya. Banyak hal yang ingin kuketahui darimu. Jangan marah. Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa berbagi denganku.

Hampir empat tahun kami menikah. Jangan sedih, waktu itu aku mengundangmu, Kak. Tapi Kakak tak bisa datang sebab sedang berjuang melahirkan si kecil Bianca yang lucu. Bukankah pertemuan kita saat ini lebih luar biasa? Oke, aku takkan membuang-buang waktumu. Dengarkanlah aku lagi.

Suamiku terlalu sibuk dengan dunianya. Sama dengan duniamu, Kak. Menulis. Aku iri pada aksara yang ia rangkai dan cumbui setiap malam. Tak jarang aku melihatnya bercengkrama di kasur, di meja makan, di mobil, bahkan di kamar mandi dengan tulisan-tulisannya. Nola, Lusi, Indah, Dini, Yesa, entah berapa perempuan lagi yang menjadi tokoh tulisannya. Kau tahu, Kak, kadang mereka tampak hidup dan ikut bersama-sama memejamkan mata di balik selimutku.

Dulu, sebelum ia mengucapkan janji sehidup semati, dalam setiap kisah yang ia tulis, hanya Luvia, Luvia dan Luvia. Ya, Kak ... hanya aku yang menjadi wanita dalam ribuan ceritanya, berjuta puisi, dan ah ... aku tak tahu sejak kapan tepatnya ia tak menghadirkanku lagi dalam imajinasinya.

Kalau tak salah, Kakak pernah bilang, menikah akan mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Mengapa kehidupanku jalan di tempat? Aku telah mencoba yang Kakak katakan. Mencintai suami, berarti juga mencintai apa yang ia lakukan, ikhlas sepenuh hati dan percaya bahwa saat malam, suami akan memetik satu bintang untuk kita, bahkan saat di langit mendung. Apa caraku salah?

Mungkin aku terlalu egois membiarkan dirinya terbang bebas sementara aku memilih hinggap di pucuk pohon lain. Oh, tidak Kak. Tidak, aku tak seperti yang Kakak pikirkan. Tak ada laki-laki lain. Hanya saja aku memilih kembali ke kota ini dan meneruskan sekolah, sementara ia di kota sana. Bukankah ia terbiasa mengurus diri sendiri--bersama tokoh-tokoh wanita dalam ceritanya? Membuat teh hangat, menyetrika baju, mencuci piring dan apalah yang seharusnya kulakukan, semua ia bisa lakukan sendiri. Bahkan lebih baik dariku.

Ah, Kak, apa sebenarnya yang terjadi pada keluargaku? Ah, Kakak. Jangan tersenyum terus. Aku beneran bimbang dan resah.

Apa? Kakak ingin berbisik apa? Kenapa harus bisik-bisik? Tak bisakah kau bersuara, Kak. Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada aku.

Ya, aku yakin. Bersuaralah. Aku akan mendengarkan.

Ha? Apa?

Oooh .... Benarkah itu?



Apakah yang diucapkan si Kakak?

6 komentar:

  1. Masuklah keduunianya, maka kalian akan selalu bersama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah kenapa aku selalu setuju dengan pendapat umy Neny Suswati

      Hapus
  2. Masuklah ke dunianya, kagumi tulisan-tulisannya, jadilah pembaca pertama, berikan pujian, kritikan dan komentar. Kalau perlu jadilah fans beratnya. Kalau dirimu tidak tahu dunianya, maka selamilah, carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang dunianya, jika selama ini tak suka membaca, carilah bacaan yang bermutu, bergabunglah dengan grup2 sastra di fb, sempatkan ke toko buku atau perpus, lalu taraaa... tiba-tiba bisa menjadi teman diskusi yang menyenangkan bagi suami.
    Dukunglah impiannya jadi penulis terkenal, berikan ide-ide segar, atau sekedar cerita tentang seseorang yang mungkin bisa jadi ide tulisannya.
    Saat suami merasa didengarkan, didukung bahkan dikagumi maka dia akan balik mengagumi, mendukung dan mencintaimu lebih dari segalanya.

    BalasHapus
  3. bacalah setiap karyanya, telitilah pada tokoh yang diimajinasikannya. kemungkinan dia mengidamkan tokoh yang diusungnya dalam karyanya. Fahami dia. Jadilah satu kesatuan dengannya, yaitu mengerti dia dengan segala apa yang menjadi dunianya.

    BalasHapus
  4. Pssttt! Ngomong-ngomong, kau sudah telat datang bulan berapa lama? Bisa jadi kau sedang mengandung bayi yang sudah kalian nantikan selama 4 tahun ini. Eh, jangan memandangku heran. Dulu, saat hamil pertama kali, aku juga mengalami dan merasakan hal yang sama denganmu: sensitif, sangat pencemburu, ingin menjauhi dan membenci suami sendiri. ;)

    He, :)

    BalasHapus
  5. Kau tahu ... Suamimu itu pecinta perempuan. Makanya tokoh dalam cerita-ceritanya adalah perempuan. Tapi ada satu yang kau luput. Harusnya kau tahu. Suamimu sebelumnya adalah penulis artikel. Bila ia menulis cerita, hanya tentangmu saja. Tapi kini ia beralih menjadi penulis cerita anak. Kau tahu apa yang ia rindukan? Ia merindukan Nola, Yesa, Lusi , Dini dan beribu lagi. Ia ingin seorang anak perempuan hadir di tengah-tengah keluargamu.

    Bagaimana bisa terjadi bila kalian berpisah jauh-jauhan, kembalilah. Ia merindukanmu, jauh lebih besar dari kerinduan isak dan canda anak-anak.

    Poinnya ada di "Anak"

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI