Google+ Followers

Minggu, 12 April 2015

Petarung yang Terluka

Oleh : Syifa Radhiya
Penulis
google
Aku hanya sekecil atom, yang tiada apa-apanya di dunia ini
Bahkan hingga detik ini ..
Aku hanya terlahir , untuk sebuah takdir yang menyakitkan !
Hanya akan ada sandiwara yang nyata .
Tetapi , aku selalu percaya ..
Mau bagaimanapun ,
Tuhan berkehendak atas segalanya .
I just can hope … , more !
# # # # #
Lagi – lagi aku hanya bisa tertunduk bisu , saat kedua mata itu menatapku untuk ke sekian kalinya selama ini . Aku tidak pernah tahu kenapa . Bahkan hingga detik ini . Kadang aku bertanya-tanya , kenapa harus selalu begini ? Bukankah tatapan itu , sama dengan tatapannya pada yang lain ? Entahlah . Aku terlalu bijak untuk semua yang pernah terjadi di hidupku ini . Bahkan semuanya hanya akan ada kasat mata yang tak terduga .
Kualihkan pandanganku dari kedua mata itu . Menatap riuhnya suasana di luar jendela . Hanya ada hujan yang turun dengan perlahan . Membasahi dedaunan yang kehausan , untuk beberapa saat . Melihatnya jatuh , setidaknya membuatku sedikit berdamai dengan raksa waktu . Membiarkan kedua mataku menatapnya jatuh dari langit . Hujan selalu membuatku begini .Tetapi ,aku sadar . Aku sadar kalau hujan yang jatuh kini , sama dengan hujan yang jatuh sebelumnya .Rinainya tak pernah berbeda . Dan ketika hujan itu juga , aku juga menyadari , bahwa sebuah masa lalu itu , ternyata sulit untuk dilupakan .
Mungkin benar kata orang-orang . Sekali kita pernah menyerah , maka percayalah , itu adalah hal terburuk yang pernah dilakukan selama kita masih diberi waktu untuk bernafas . Setidaknya , hanya kata-kata itu yang bisa membuatku untuk tetap bisa bertahan . Melecut semangatku dari waktu ke waktu . Aku hanya ingin tidak menyesal lagi .
Kini , aku bukanlah seperti dulu lagi . Aku hanya seorang gadis berusia 17 tahun , yang baru saja lari dari sebuah masa lalu . Kau tahu kenapa aku harus lari ? Karena aku tahu , aku tidak bisa bertahan . Dan , aku juga lari dari kota yang melukis kasar masa lalu itu . Terlalu naïf untuk seorang gadis sepertiku .Tetapi , itulah yang terjadi . Pengembaraan kehidupan ini , terkadang memang membutuhkan sebuah keterpaksaan .
Aku tahu semua ini hanyalah sebuah kesalahan .Tetapi , siapa sangka , aku tidak bisa berdaya , walau kesalahan itu memang telah sirna . Aku hanya bisa menunduk , memohon doa pada Tuhan .Walaupun doa itu tidak pernah kunjung di kabulkan . Setidaknya , saat ini , menyenangkan hatiku saja sudah cukup dengan berdoa padaNya .
Hujan yang jatuh satu persatu , mengembun di kaca jendela kelasku . Semakin lama , pandanganku menatap hujan semakin samar . Tetapi , aku tidak bisa beranjak dari tempat duduk ini . Walaupun pelajaran telah usai beberapa detik yang lalu . Aku hanya ingin mendiamkan waktuku untuk sementara . Walau sejatinya aku telah berlari dari masa lalu itu , tetapi , siang ini aku tidak bisa berlari lagi .
Semuanya telah kembali .
Aku hanya bisa terhenyak utuk beberapa saat , saat pemilik wajah itu memanggilku kemarin sore . Tepat di depan apartemenku , semuanya kembali hadir .
Masa lalu itu . Dan penyesalan itu .
Apakah aku salah , untuk bersandiwara seperti ini di kehidupanku ?
Kurasa tidak .
Hahhh , sudahlah . Aku tidak mau berpikir panjang tentang semua itu . Aku sudah berjanji . Dan janji itu tak akan ku ingkari lagi . Apapun yang terjadi .
“Audrey … ! “ Seseorang memanggilku . Seketika itu juga lamunanku buyar . Membuat jantungku sedikit berdesir .
Tanpa pikir panjang , segera ku alihkan pandanganku dari rinai hujan yang jatuh menampar dedaunan dan tanah itu . Ku balikkan sedikit punggungku .
Kini , aku tahu siapa yang baru saja menyebut namaku tadi . Dia tersenyum tipis saat kedua mataku tepat bertatapan dengan kedua matanya . Untuk beberapa detik , aku membeku . Lidahku kelu untuk mengucapkan satu kata .
Dia .
Dia pemilik kedua mata itu . Kedua mata yang penuh sihir . Yang selalu membuatku tertunduk bisu .
Namanya , Nathan Havka . Dia hanya seorang anak baru di kelas ini . Beberapa minggu yang lalu . Dan sejak itulah , aku mempunyai tingkah baru yang tidak dapat ku artikan sebagai apa . Mungkin terdengar lucu .Tetapi , aku selalu tertarik menatap kedua matanya itu . Walaupun terkadang ia tidak menyadarinya .
Dan kini , aku hanya bisa terdiam . Menatapnya bisu . Dia melangkah mendekati jendela yang tepat di sampingku . Entah apa yang akan ia lakukan .
“Apa kau baik-baik saja ?” Anak rambutnya menari . Dibawa angin yang semilir bertiup . Dari tempatku duduk , aku bisa melihat raut wajahnya dengan jelas . Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket hijau daunnya . Tampak seperti seorang yang menyimpan penuh rahasia . Dan memang nyatanya , ia belum tampak hadir di kelas ini .
Dahiku berkerut saat pertanyaan aneh itu dilayangkannya padaku .Berpikir ,apakah ia baik-baik saja ?
Nathan memainkan jari telunjuknya di kaca .Perlahan , sedikit demi sedikit embun yang menutupi , berubah menjadi arah jari telunjuknya . Entah akan membentuk apa .
“Kenapa kau belum pulang ? “ Dia bertanya lagi . Kembali membuyarkan lamunanku yang mengikuti arah jari telunjuknya .
“Ada perlu apa ? Apa pedulimu ?!“ Aku tertawa di dalam hati . Ternyata , aku berhasil menjawab pertanyaannya . Ku usahakan untuk tetap santai . Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti .
Nathan tertawa pelan . Kembali ia menatapku .Lama . Sangat lama . Dan tentu , aku hanya bisa tertunduk bisu . Aku tidak pernah bisa membalas tatapannya itu .Ada apa dengan kedua matanya itu ?!
“Kau tidak perlu cemas . Kedua mataku baik-baik saja .“ Seakan dia bisa membaca pikiranku yang berkelabat tentangnya . Dan dia kembali tersenyum . Bisa kulihat dari sudut mataku yang terus mengawasinya .Kupikir , dalam sehari ia akan tersenyum berjuta-juta kalinya .Entahlah.
Aku hanya mengangkat bahu pelan . Menghela nafas . Melirik suasana di luar jendela untuk beberapa detik . Hujan sudah reda . Walaupun langit masih tampak gelap berkelabut . Aku harus segera kembali ke apartemen . Waktuku tidak banyak .
“Aku tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama disini . Dan aku harus segera kembali . ” Tanpa perlu jawabannya , aku segera bangkit dari tempat dudukku . Berniat segera meninggalkan kelas ini .
“Audrey !” Lagi-lagi ia memanggilku . Langkahku terhenti . Menunggunya kembali bersuara . Dia menyamai posisinya denganku . Dan aku sadar , ternyata dia cukup tinggi . Mungkin memang tidak terlalu jauh dari tinggiku . Sekitar dua jengkal dariku .
“Maaf jika membuatmu cemas . Tentu aku tahu itu ! Begitu terlihat dari raut wajahmu sedari tadi .” Dia menghela nafas pelan . Seperti akan mengatakan sebuah kalimat yang sangat menegangkan .
“ Tetapi , jaga dirimu baik-baik . Aku tahu masa lalumu masih mengejarmu .Aku tahu itu .. . “ Aku terhenyak untuk beberapa detik , saat mendengar kata-kata di akhir kalimatnya . Benar-benar terdiam seribu bahasa . Tiba-tiba aku kembali menunduk . Mengatur nafasku yang saling berkejaran satu persatu .
Tuhan .. , aku masih takut …
Kau tidak perlu menangis sekarang . Aku bisa membantumu . Walau nyawaku akan jadi taruhannya . Dan .. , kau tidak perlu bertanya . Kenapa aku bisa tahu semua ini , dan kenapa aku bersedia membantumu . Anggap saja , aku adalah salah satu teman mu di masa lalu itu . Walau sebenarnya tidak .” Dia melirikku yang tertunduk bisu . Aku tahu , ini sungguh memalukan . Untuk apa aku menunduk ? Tetapi , aku tidak bisa menahannya . Aku takut , jika aku tidak menunduk , dia akan tahu , kalau air mataku , sudah mengalir .
Audrey … , ” dia kembali memanggilku . Membuat air mataku semakin mengalir dengan perlahan . Aku tidak tahu kenapa . Dan aku tidak peduli lagi , bagaimana tatapannya saat ini padaku .
Sudahlah .., kau tidak perlu mengeluarkan air matamu . Biar kau simpan saja air matamu itu saat kau benar-benar kehilangan semuanya . Percayalah , semuanya akan baik-baik saja . ” Nathan menyodorkan sebuah sapu tangan yang sewarna dengan jaketnya padaku . Aku hanya menggeleng pelan . Tidak bisa berkata apa-apa . Aku hanya ingin mengatakan padanya , aku baik-baik saja . Tapi , terlalu sulit . Air mataku terlalu buas untuk membasahi wajah ini . Yang ada , aku tetap menunduk . Ku tutup kedua mataku . Tidak ingin melihat apa yang sedang dilakukannya .
Tetapi , tak berapa lama , ia memegang daguku . Membuatku jantungku kembali berdesir . Sama seperti saat ia memanggilku tadi , dan untuk pertama kalinya ia memanggilku selama ini . Nathan mengangkat wajahku yang tertunduk . Walau aku tidak bisa melihatnya , tetapi , aku tahu , dia ingin segera menghapus air mata ini . Dan aku sadar , dia tidak bisa membiarkan seorang gadis menangis di hadapannya .
Dengan damai , ia menghapus air mataku perlahan . Segera ku buka kedua mataku . Tangannya terhenti begitu mataku benar-benar sudah terbuka . Menjauhkan tangannya yang menggenggam sapu tangan itu dari wajahku . Ku tatap wajahnya yang kini tersenyum tulus .
Akhirnya aku tahu , kenapa aku selalu tertunduk saat menatap kedua matanya . Dia mempunyai mata bulat sipit yang indah , dengan senyum di bibirnya yang tulus . Dan aku , akan selalu salah tingkah jika ia tersenyum . Walau , aku tidak menatap senyumnya . Tetapi , hanya matanya . Dan matanya , tidak sama dengan kedua mata di masa lalu itu .
“Baiklah . Seperti yang kau katakan tadi , kau tidak mempunyai banyak waktu saat ini . Oleh karna itu , kembalilah segera ! Dan .. , simpan air matamu itu . “ Dia memasukkan sapu tangan itu ke sela-sela jariku . Beranjak meninggalkanku , yang hanya membisu .
Ku hapus air mata yang membasahi wajahku tadi . Beranjak meninggalkan kelas dan ingin segera tiba di apartemen . Aku telah kehilangan beberapa menit . Tetapi , tak apa . Akhirnya aku tahu siapa dia . Walau hanya setipis debu .
Angin terasa begitu dingin . Aura hujan yang baru berhenti , masih bermain di udara . Aku benar-benar kedinginan . Hanya butuh beberapa menit saja aku berjalan untuk kembali pulang ke apartemen . Memang tidak terlalu jauh . Tetapi , jalanan menujunya begitu sepi .
Ku lempar bag kecilku ke atas bed , begitu aku telah tiba di kamar apartemen . Tak peduli dimana ia akan terjatuh . Ku baringkan punggung yang begitu lemah ini di atas bed . Menghela nafasku dengan pelan . Ku tatap langit-langit kamar yang di hiasi gantungan menara-menara di seluruh dunia . Salah satunya , menara yang ada di negri impianku , Rusia . I wish it always …
Nitt …
Satu pesan baru saja masuk ke inbox ponsel ku . Tanpa menunggu , segera ku buka inbox . Satu pesan dari nomor yang tidak di ketahui .
Kau masih bisa membalas senyumku . Walaupun , kau tidak bisa membalasnya .
Tetapi , aku hanya ingin itu .
Detik saat kau membalas senyumku .
Aku tahu , kau sulit tersenyum . Hanya karena sebuah masa lalu yang tak bisa di lupakan .
Tetapi , percayalah Audrey !
Seperti yang kubilang tadi , aku bisa membantumu …
                                                                                                              Nathan_The Autumn
Aku terdiam . Ternyata sebuah pesan dari pemilik mata indah itu . Ku hela nafasku berulang kali . Berusaha untuk percaya , kalau masih ada orang yang ingin membantuku , setelah semuanya terjadi . Tetapi , ku harap , aku tidak akan menyesal lagi . Walaupun akan menjadi penyesalan yang berbeda .
Aku hanya ingin melupakannya . Masa lalu itu . Tetapi , ternyata begitu sulit . Apakah dia memang benar-benar bisa membantuku ?! Entahlah . Ku pastikan , aku tidak akan menyesal lagi .
Ku tutup kedua mataku perlahan . Pikiranku melayang . Membawaku ke masa lalu itu .
# # # # #
Beberapa bulan yang lalu , di kota penuh masa lalu itu .
“Tidak ! Aku berjanji .. , aku berjanji akan menyelesaikannya .. , aku berjanji … !” Air mataku jatuh membasahi wajahku yang letih ini . Pertengkaran dengannya , benar-benar membuatku tidak bisa mengendalikan emosi . Aku tahu , dia bisa saja meninggalkanku . Pergi untuk selamanya . Tapi , aku masih selalu berharap , dia ( tidak ) melakukannya . Walaupun hanya sebuah kemungkinan yang sangat kecil .
Matanya terus menatapku sedari tadi dengan tegas . Aku selalu takut pada kedua mata itu . Kedua mata yang selalu ingin mengawasiku . Tapi , hanya seperti membinasakanku .
Ia melempar remukan kertas yang ada di tangannya ke hadapanku . Aku yang jatuh terduduk , hanya bisa menangis dalam bisu .
“Kau tahu ,  ku kira aku akan melihat langit yang indah . Ternyata , aku salah sangka ! “ Nafasnya memburu . Keringatnya bercucuran satu persatu . Ini pertengkaran , yang entah untuk ke berapa kalinya .
Aku dan dia , hanya teman . Bahkan tidak lebih , tidak kurang . Tapi , bukan berarti aku dan dia hanya teman yang tak ada artinya . Aku dan dia , adalah teman yang selalu berusaha mencari arti kehidupan . Berusaha untuk mendapatkan impian , walau akan satu-persatu di genggam . Aku , begitu juga dia , mempunyai mimpi , sama seperti manusia lainnya . Tetapi , aku dan dia , selalu tampak berbeda .
Aku , dulu , hanya mempunyai sebuah mimpi . Hanya mimpi konyol yang mungkin tak ada gunanya . Tapi , aku selalu berharap , aku bisa menggenggamnya segera . Walau akan ada sebuah elegi yang menyakitkan . Aku tahu itu . Termasuk dia . Dia yang juga membanting mimpiku habis-habisan . Tapi aku selalu berkata kepadanya , aku berjanji untuk menggenggamnya segera . Berjanji , tak akan bermain-main dengan mimpi itu . Oleh karna itu , ia akhirnya mengikuti janjiku . Membantuku , untuk mencapainya .
“ Daniel ! ” Aku setengah berteriak memanggilnya . Dia yang baru beberapa langkah meninggalkanku , berhenti seketika . Berbalik , dan menatap punggungku .
“ Kau akan mengatakan apa lagi ?! ” Dengan sinisnya ia bertanya padaku . Lagi-lagi , aku harus berusaha bertahan sendiri . Agar tak jatuh terkapar begitu saja , karna emosiku yang semakin tak karuan . Tensi ku akan semakin rendah .
Aku takut itu , Tuhan …
“Apa kau tidak merasa di rugikan ? Jika kau , hanya bisa mengatakan kepadaku , kalau aku penyebab ini semua !? Apa kau tidak rugi ? ” Dengan sepenuh ketegaran , ku keluarkan suaraku yang tersimpan dalam peti mati pita suaraku . Aku harus bisa berlagak seperti orang yang pernah ia katakan . Thomas Alpha Edison . Dia selalu menyemangatiku , dengan nama orang itu yang selalu ada di setiap lecutan penyemangatnya utukku . Aku sadar , dia sangat berharga bagiku . Sama hal nya dengan sebuah mahkota . Walaupun sejatinya , ia tampak begitu kusam .
“ Merasa di rugikan ?! Kupikir tidak . Tidak sama sekali . Aku hanya mengisi waktu luangku yang tersisa . Bukankah , itu yang selalu kau katakan padaku ? Mengisi waktu luang yang tersisa .” Aku tahu bagaimana tatapan kedua matanya padaku . Walaupun aku tidak menatapnya . Waktu , seakan bisa membuatku memahaminya .Dan, itu hanyalah hal terpahit yang pernah terjadi.
Ku tutup kedua mataku . Menahan air mata yang tak kunjung berhenti .
Tuhan .. , apakah aku salah selama ini ?
“Kau tidak perlu mencemaskanku . Tidak perlu sama sekali . Anggap saja , kita tidak saling kenal . Hanya manusia yang tiada apa-apanya di dunia ini . “ Ku dengar helaan nafasnya yang juga memburu . Dan aku tahu , dia juga tidak pernah mengharapkan , semua ini akan terjadi . Tapi , mau bagaiman lagi ?! Karna , aku hanya sekecil atom . Di waktu ini , dan waktu yang tak tentu .
“Baiklah ! Aku tahu itu ! … Aku melanggar semuanya ! Akan aku lupakan semuanya ! Dari awal , hingga akhir . Sesuai permintaanmu , akan aku lakukan semua yang kau mau . ” Akhirnya , hanya kata-kata itu yang bisa ku ucapkan untuk terakhir kalinya padanya . Untuk terakhir kalinya . Dan , Daniel , pergi dari ruanganku begitu saja , ketika kalimatku sudah ada di ujung pembicaraan . Aku hanya bisa tertunduk .
Selamat tinggal … , Daniel . Aku berjanji , tak akan ku ulangi kesalahan ini lagi . Ya , aku berjanji .
# # # # #
Terkadang , setiap orang di dunia ini mempunyai kesalahan yang tak pernah di inginkannya . Dan terkadang , setiap orang di dunia ini , mendapatkan takdir yang menyakitkan . Tetapi , kurasa , takdir ini hanya ada pada ku . Hanya ada pada kehidupanku . Aku menyadarinya dari dulu . Sejak aku lahir ke dunia ini .
Kau tahu ?
Aku bukanlah seorang gadis yang bisa seperti Thomas Alpha Edison . Terbanting , dan selalu bangkit lagi . Aku hanyalah seorang gadis , yang hanya mempunyai sebuah mimpi , yang tak ada gunanya . Bahkan , mati-matian pun aku berusaha , aku hanya akan mendapatkan secuil debu yang akan berterbangan .
# # # # #
Tuhan , aku lelah dengan semua ini …
Ku raih Mp3 yang ada di laci meja sebelah ranjangku . Saat ini , aku ingin mendamaikan hati yang berkecamuk ini , dan jiwa yang tak karuan ini .
-Because I’am Weary .
On !
Lagu ini yang selalu menemaniku , saat aku kehilangan arah . Saat aku , benar-benar tidak tahu harus berbuat apa . Detik-detik ini , sangat berharga bagiku . Waktuku hanya sedikit .
Tanpa menunggu lama , ku lupakan masa lalu yang mengganggu pikiranku tadi . Segera ku hidupkan laptop berwarna biru langit itu . Saatnya bagiku , untuk berusaha .
# # # # #
“ Bagaimana kabarmu ? ” Dia menghampiriku . Aku hanya bisa terkejut dengan kedatangannya kemarin sore itu .
Aku hanya mengangguk pelan . Tidak tahu harus menjawab apa .
“Aku , kesini , hanya ingin memberikan naskah yang ada di tanganku kepadamu . ”  Dia langsung memberikan naskah itu padaku . Dan pergi begitu saja . Untuk beberapa saat , aku hanya bisa terdiam .
Apakah itu benar-benar dia ? Daniel ?
# # # # #
“ Hahh ! .. , bagaimana aku akan serius ? Jika sedari tadi , hanya masa lalu yang ada di benakku ! ”  Aku menjauh dari laptop yang sudah menyala itu . Dengan kesal , Mp3 aku matikan dengan paksa . Ku dekati bingkai jendela . Siluet sore ini , begitu sendu .
Hanya tinggal beberapa kalimat lagi , aku akan menyelesaikannya . Aku akan menepati janji yang pernah ku ingkari itu . Akan ku tepati semuanya .
Ku hirup udara yang masuk ke ruanganku . Mencoba untuk mencari inspirasi . Aku teringat dengan naskah yang Daniel berikan padaku kemarin sore . Segera ku ambil naskah pemberiannya itu .
Audrey ,
Aku bersumpah , akan mengutuki diriku setelah bertemu denganmu sore ini .
Aku benar-benar tidak bisa melupakanmu .
Janji-janji itu , seakan masih ada di tanganku .
Aku selalu menunggu mimpimu itu menjadi nyata . Walaupun aku takut , untuk membantumu lagi .
( Daniel # Just a trouble maker for you ! L )
Ku remas selembar kertas yang terselip di antara kertas-kertas naskah itu . Aku tertawa pelan .
Aku tahu , kau akan merugikan dirimu sendiri . Tetapi , kini aku sadar , kau bukanlah seorang teman . Melainkan , hanya orang biasa , yang bernafas dengan watakmu , di dunia ini . Biarlah bulir waktu ini yang berbicara tentang bisunya watakmu .
# # # # #
Setahun lamanya telah terlewati . Semuanya telah terjadi . Kini , aku akan membuka waktu yang baru .
Tetapi , aku masih ada di takdir yang salah . Tentu saja . Akan ku salahkan semua takdirku ! Tapi , untuk saat ini , tidak lagi . Tidak lagi seperti takdir yang dulu .
Daniel dan Nathan .
Mau bagaimanapun , mereka berdua sama . Hanya alfa pada kedua mata mereka yang berbeda .
Lima hari setelah ku kurung diriku di apartemen karena pertemuan dengan Daniel itu , Nathan datang dengan kedua matanya yang semakin membuatku tertarik , untuk terus menatapnya . Dia membawa janjinya . Membantuku . Mengedit naskah-naskahku . Bahkan , menemaniku untuk memberikan naskah-naskah itu ke penerbit , empat bulan yang lalu . Dia bukan seperti Daniel .
Dan akhirnya , hari ini semuanya telah berakhir . Aku tidak peduli lagi dengan Daniel yang selalu muncul tiap sore di depan apartemenku . Entah apa yang ia lakukan . Ia hanya duduk di taman sembari mendengarkan musik . Setiap sore . Aku tidak pernah peduli . Walaupun aku tahu , dia selalu menatapku dari kejauhan . Entah apa yang ada di pikirannya .
Naskah-naskah itu telah ada di toko-toko buku terkenal . Tercetak beribu eksemplar . Aku hanya bisa tersenyum sendiri , saat mengingat masa lalu ku .
Semuanya memang di tangan Tuhan …
Kemarin sore , Nathan kembali menyemangatiku . Dan aku akhirnya bisa bernafas dengan lega , ternyata , dia bisa menepati janjinya . Tapi , satu yang masih ada di pikiranku . Darimana dia mengetahui elegi masa laluku itu  ? Dan , siapakah dia sejatinya ? Aku selalu lupa menanyakan hal itu padanya . Biarlah .
Hari ini , aku harus menghadiri sebuah acara . Pertama kalinya , aku di undang menjadi pembicara , di kota tak terduga , dan negara yang tidak bisa di percaya . Aku akan berangkat ke Rusia , enam jam lagi .
Ku keluarkan sapu tangan berwarna hijau daun itu . Pemberian Nathan untuk pertama kalinya . Aku kembali tersenyum . Akhirnya , aku bisa merasakan kebahagiaan .
Audrey ,
Nathan ada di rumah sakit …
Satu pesan baru saja masuk ke inbox ku . Dari Kefza .
Aku terdiam dengan pesan itu . Nathan ? Dia sakit apa ? Jantungku berdegup kencang . Tiba-tiba saja tanganku mulai bergetar . Sapu tangan pemberian Nathan , terlepas dari genggamanku . Ku raih sapu tangan itu dengan jari-jariku yang tiba-tiba tak berdaya . Segera ku tanyakan pada Kefza .
Nathan ada di rumah sakit mana ?
Kefza memberitahuku lokasi rumah sakit itu . Tanpa pikir panjang , aku segera berlari . Berlari entah kemana . Jantungku semakin berdegup kencang . Aku tidak tahu kenapa .
Nathan , izinkan aku untuk menangis saat ini . Aku takut .. , aku takut , kehilanganmu . Aku takut … , aku takut … Air mataku satu persatu jatuh .
Nathan … , kau sakit apa ?
Tiba-tiba , hujan begitu saja jatuh . Aku tidak mungkin mencari tempat berlindung . Aku harus segera ke rumah sakit , tempat Nathan terbaring . Hujan mengguyurku dengan kasar . Lariku semakin tak tahu arah . Tangisku benar-benar pecah . Aku tidak tahu , kenapa aku bisa seperti ini saat ini . Aku tidak tahu . Pakaianku sudah basah kuyup . Ku tatap langit yang menjatuhkan air hujan ini dengan perlahan . Hanya ada aku , di bawah langit yang hujan ini . Hanya ada aku , di antara keramaian yang bisu ini .
Apakah aku masih ada waktu , Tuhan ?
Belum sempat aku berlari jauh , ponselku kembali berbunyi . Tanpa pikir panjang , segera ku buka pesan itu dengan tanganku yang mendingin . Aku benar-benar takut , Tuhan …
 Audrey ,
Dia.. ,
Telah pergi ….
Maafkan aku yang tidak memberi tahumu sebelumnya .
Dia yang memintaku , untuk merahasiakannya darimu .
Maafkan aku …
Langkahku terhenti . Nafasku memburu satu-persatu . Aku menangis di antara keramaian kota ini . Aku benar-benar tidak peduli lagi . Aku tidak tahu harus bagaimana lagi . Aku benar-benar seperti manusia terkutuk . Ku banting ponsel ku ke arah yang tak tentu . Aku jatuh terduduk , di bawah langit yang masih saja bersedih . Langit seperti ikut menangis sepertiku . Ku maki diriku sendiri , di antara semua mata yang menatapku heran . Aku tidak peduli dengan tatapan mereka . Aku hanya ingin tatapan ke dua mata itu . Aku hanya ingin tetap selalu menatapnya . Kedua mata bulat sipit yang indah itu , dan bibir yang selalu tersenyum tulus itu .
Aku benci . Aku benci dengan semua keadaan yang ada padaku.
Bahkan ketika bahagia menyergapku , Tuhan masih saja mempermainkan kedamaian itu . Lalu dimana kah letak yang sempurna untuk ku ??!
# # # # #
Nathan , masih ada di memoriku .
Kedua mata itu , dan senyum itu . Tidak akan pernah bisa aku lupakan .
Apakah aku memang dilahirkan untuk menjadi manusia seperti ini ? Hanya tercipta , untuk sebuahtakdir yang menyakitkan?!!
Aku , Audrey Greftda .
 Seorang gadis berusia 17 tahun , yang di ciptakan oleh Tuhan , untuk sebuah takdir yang menyakitkan . 
Padang , 18 Januari 2014 ( at 08.20 p.m ) 
At Valencia class
#Tercipta di bawah langit , yang masih saja mendung sedari tadi
 Ada beberapa karya sahabat lainnya
Juga Buku yang wajib dibaca

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI