Google+ Followers

Sabtu, 04 April 2015

Payung Teduh

Mencintai, ketika ditujukan kepada sesama manusia, mempunyai efek samping berupa sakit di ulu hati. Hal itu bertujuan sebagai rem, agar kesadaran tetap terjaga sehingga mampu menempatkannya dengan tepat. Tak dilebih-lebihkan juga tak dikurang-kurangi. Sebagaimana tuntunan islam, mencintai itu urutannya adalah Allah, Rasulullah, orang tua, saudara semuslim, saudara se-tanah air, umat manusia dan alam lingkungan.

Sedikit saja menengok diri sendiri, bagaimana seringnya hati ini salah menempatkan cinta. Adakalanya kekasih yang menempati posisi keempat ditaruh di urutan pertama. Lantas, ketika pengharapan terhadap sang kekasih meleset, hati pun menjerit. Padahal jika saja mau diam dan merunut, rasa sakit itu sebenarnya nikmat. Nikmat berupa teguran dari Allah yang cemburu karena tempat-Nya diisi oleh nama lain.

Tak semua orang sadar akan hal itu. Lalu lebih memilih untuk membesarkan luka, daripada mengobatinya. Hingga luka itu berevolusi menjadi benci dan dendam. Jika dendamnya positif, tentu sangat baik. Tapi ketika telah ditunggangi benci, sudah pasti arahnya ke hal-hal yang buruk dan merugikan.

Banyak kasus di media masa, mantan pacar menyiram air keras ke wajah si wanita. Hingga yang paling parah ke arah pelecehan seksual. Sebab itu, cara paling aman dalam hal pacaran, kata Mario teguh adalah dengan tidak pacaran. Menjaga diri dan terus meningkatkan kompetensi. Jika tiba saatnya, jodoh pasti menemukan jalannya.

Saat ini, ketika cinta menghantui, biarkan saja itu menjadi rindu. Lalu alirkan tiap gigilnya menjadi karya, tiap perihnya menjadi sajak cinta. Melalui karya tulis, tiap aksara yang tercetak bisa menjadi payung teduh atas semua gundah dan resah. Di samping itu, aku yakin pada tiap tulisan baik yang terpublikasi, ada doa yang terpanjatkan secara rahasia oleh sahabat-sahabat tercinta.

AM. Hafs
Malang, 040415





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI