Google+ Followers

Selasa, 28 April 2015

Ow ... Ow ... Siapa Dia? Episode 12

Hai, Ow Ow Siapa Dia? Hadir kembali setelah sekian lama berendam di sungai belakang rumah ... hihihi

Kali ini LovRinz ingin mengajak para sahabat untuk mengenal lebih dekat sosok penulis yang baru saja melahirkan buku Lembah Air Mata.

Kali ini LovRInz sengaja tidak melakukan wawancara dua arah, melainkan memberikan ruang untuk penulis mengisahkan perjalanannya dalam dunia kepenulisan.

Lembah Air Mata adalah kisah yang ditulis mas Jalaluddin Al-Hasby Lubis sudah lama sekali dibuat. 7 tahun lalu. Kesedihan selama di pondok ia habiskan dengan menuangkannya di dalam lembaran kertas. Sempat sakit yang bisa dibilang parah juga, karena harus minum obat rutin. Badan makin kurus dan lemah. Berbulan-bulan minum obat, akhirnya pulih dan teman-temannya banyak sekali yang menyarankan agar tulisannya dulu dibukukan. Kisah yang sebagian besar adalah kisah nyatanya. Sebelumnya naskah ini hampir enam ratus halaman. Namun dipangkas menjadi dua ratusan. Dipilih yang benar-benar layak untuk dibagikan

Untuk menerbitkannya pun butuh perjuangan. Mas Jalal bukan seperti orang kebanyakan. Dengan bermodal hasrat agar buku yang ia persembahkan untuk adik-adik di Musthafawiah Purba Baru, *pondoknya dahulu, ia mencari ke sana-kemari.


Yuk, kita dengarkan penuturannya yang mengharukan ini ...

Sejak aku sakit, penjiwaanku berubah drastis. Mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah menangis. Bahkan terkadang melihat burung yang terbang sendirian tanpa pasangannya, air mata  langsung mengalir. Melihat semut yang jalan sendirian dengan terseok-seok, air mata langsung tumpah. Dan ketika ceramah -karena setelah sembuh aku terjun ke dunia dakwah- bila menyinggung tentang kesedihan, aku tidak bisa mengontrol diri. Aku sampai menangis terisak-isak, sehingga jamaah pun ikut larut dalam tangisan tersebut. Mungkin mereka menyangka yang kutangiskan adalah yang kuceramahkan itu. Padahal kenyataannya aku menangisi mereka yang kebanyakan sudah tua renta. Terlebih lagi yang kutangiskan adalah tangisanku.

Sampai setahun lebih, aku ceramah dari kampung ke kampung. Namun setelah satu tahun, aku tidak betah tinggal di kampung. Jiwaku terus memberontak. Ingin pergi jauh, menyendiri. Karena saat itu kesendirian lebih kusukai daripada keramaian. Ratap tangis lebih kunikmati dari canda tawa. Aku mudah bosan dengan sesuatu hal, yang tidak pernah membuatku bosan hanyalah membaca karanganku. Kubaca, kubaca, kubaca, dan kubaca tanpa mengenal waktu beriring tangis tanpa air mata, karena air mataku terasa kering sudah. Entah berapa kali aku tamatkan karangan itu, aku tidak tau. yang pastinya sampai tujuh tahun berlalu aku tak pernah bosan membacanya. Dialah teman setiaku, yang tak pernah meninggalkanku walaupun teman yang lain mulai mengucilkanku. Dialah teman karibku, yang menghiburku dalam keterpurukanku, padahal yang lainnya mulai mencemoohku. Dan dialah jiwaku, yang tak pernah bosan menampung cucuran air mataku. Terakhirnya, dialah saksi bisu akan semua duka laraku dan yang memelukku seperti pelukan seorang ibu.

Karena tak tahan di kampung halaman, aku kembali merantau. Awalnya, orang tua dan sanak saudara menghalangiku. Mereka takut aku tak bisa menjaga kesehatan sehingga penyakitku kambuh lagi. namun karena tekatku sudah bulat, akhirnya mereka mengikhlaskan juga. Tapi nyatanya baru 3 bulan di Pekanbaru, sakitku kembali kambuh. Aku terkapar di kamar mesjid tersebut tanpa satu jamaah pun yang tau -waktu itu sebagai imam di salah satu mesjid Pekanbaru. Satu hari satu malam kutak sadarkan diri di dalam kamar tersebut. Para jamaah memang awalnya bertanya-tanya,  Aku di mana. tapi ada satu jamaah yang menjawab bahwa aku kemungkinan pergi ke tempat teman. Besoknya, waktu siuman yang pertama kudengar adalah bacaan ayat-ayat suci. Rupanya waktu itu dibalik tembok kamarku, para jamaah sedang melaksanakan sholat zhuhur.

Yang pastinya sejak itu aku kembali lagi ke kampung. dan kembali lagi merantau ke Dumai-Riau, baru ke Duri-Riau. Berkali-kali jatuh bangun. dan berkali-kali aku bangkit. Cuma satu yang kubanggakan. Walau keadaanku semakin hari semakin terpuruk, tapi Rabb tetap juga mengkuatkanku untuk tetap menjalani kehidupan ini, walaupun merangkak seperti tua renta yang butuh papahan, perhatian, dan kasih sayang.

Hingga satu hari, aku memutuskan untuk benar-benar menerbitkan tulisanku--sebelumnya naskah ini pernah kukirim ke beberapa penerbit, namun ditolak. Penolakan itu sempat membuatku berputus asa, kuanggap sebagai sebuah angan-angan yang dusta. Biarlah naskah itu raib dan tertanam di perut bumi.  Ternyata tak sedikit dari teman-teman yang ingin membaca kisah selama di pondok itu. Dan jadilah, dengan semangat yang kembali hadir, aku berusaha agar naskah ini bisa dibaca dalam bentuk buku, terutama untuk adik-adik tercinta di pondok.

Berbekal menggadaikan kereta, jadilah 1000 buku yang insyaAllah semoga diterima pembaca.

Terima kasih buat sahabat-sahabat yang menantikan kehadiran Lembah Air Mata. Kisah ini tak sesempurna kisah lainnya, banyak kekurangan namun, kenanglah segala hikmah yang tercipta dari barisan kata-kata di dalamnya. Semoga Allah memberkahi kita semua.





untuk pesanan bisa hubungi akun FB penulisnya atau LovRinz Publishing


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI