Google+ Followers

Rabu, 29 April 2015

Faity, Si Burung Juara Penuh Inspirasi

Faity Today
 

Ada yang ingat kisah si Faity gak? Kisah burung juara yang selalu dihina dina *bukan cuma sama manusia, barangkali sesama burung ikut mengejek saat melihatnya.

Si Burung Juara yang amat sangat membanggakan itu kini sudah mulai cantik. Setelah berbulan-bulan gak ikut kontes, Faity yang memiliki paruh petot itu sudah jarang mengigiti bulunya sendiri.

Ia mulai pulih. Lihatlah, dadanya tak lagi gundul. Walau masih belum tumbuh dengan sempurna, ini satu pencapaian luar biasa buat Faity.

Mungkin kalau faity bisa bicara bahasa manusia, ia pasti bilang, "Lihatlah, aku berhasil mengalahkan egoku sendiri. Aku tak lagi menyakiti diriku dengan mencabuti bulu-bulu di badanku. Karena aku mau sembuh, kukalahkan diriku."

Ah, Faity sungguh menginspirasiku.

Sadarkah teman, kita sering berlaku tidak adil pada diri sendiri? 

Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, kita justru terpuruk, meratapi kelemahan, tak jarang menyakiti diri. Faity, ketika bulan-bulan pertama hadir dalam keluargaku pun mungkin bersikap demikian. Ia minder, karena ketika dibawa ke gantangan, barangkali burung-burung lain mencibir. Awalnya ia mengeluarkan suara ajaibnya. Juara terus. Tapi barangkali pula omongan dari luar membuatnya patah.

Dia jadi malas mengembangkan dirinya. Suaraku bagus tapi tubuhku tak menunjang. Buat apa aku hidup, Huaaa *ini dramatisasiku saja heheh

Nah, untuk itu orang-orang seperti Faity butuh perhatian khusus. Faity ditaruh dalam kandang koloni. Tadinya aku ragu. Apa bisa dia kuat? Apa kata teman-temannya nanti? Apa dia semakin minder bila dilepas dalam koloni?

Ternyata, teman-temannya di dalam kandang koloni sungguh baik. Faity tak dikucilkan. Faity ditemani. Oh iya, Faity ini sulit terbang, tak seperti teman-teman lainnya. Di dalam kandang luas itu dia hanya merambat di kayu-kayu. Tak pernah dia terbang menjauh. Bila ingin makan, ia berjalan pelan-pelan ke kotak makanan. Tak jarang kulihat teman lain datang berbagi makanan untuknya. Ajaibnya ya mereka.

Teman-teman Faity di dalam koloni tahu bagaimana menguatkan hati Faity. Ini bukan sembarang kisah, ini benar-benar ada. Kenapa aku bisa bercerita tentang ini seolah aku sangat mengerti bahasa mereka? Ya karena aku mengawasi mereka tiap hari. Aku memposisikan diri menjadi mereka. 

Faity merasa diterima, apapun keadaannya. Bayangkan, menjadi burung gundul di antara burung normal lainnya, pasti minder banget. Tapi di koloni, Faity mulai bangkit. Tubuhnya pun mulai pulih. Ia mengobati dirinya karena perasaan bahagia. Bahagia diterima. Lambat laun, ia pun tak lagi mencabuti bulu. 

Hari ini Faity sengaja dikeluarkan dari koloni. Ia rupanya sudah siap bila bertarung kembali di kontes. Beberapa hari belakangan ia bersuara indah lagi seperti dulu.

Ketika Faity dikeluarkan dari koloni, ia seperti berucap, "Terima kasih, Sahabat-sahabatku. Aku takkan mengecewakan kalian. Aku akan menjadi juara lagi."

===
Dan aku sendiri, sangat berterima kasih pada diriku. Beruntung Faity tetap kupertahankan. Walau ada yang menawar dengan harga cukup lumayan, tak ingin kulepas ia. Aku belajar banyak hal dari Faity. Semangatnya, dan keinginan untuk tetap bersinar ... 

Tetaplah jadi juara, Faity. Kami mencintaimu....
Faity Before


2 komentar:

  1. Wahh...fadahal lihat beforenya Faity udah cantik lho menurut saya... warnanya cantiiikk.. memang lebih cantikan lagi afternya (karna hijaunya jadi lebih dominan).

    Jadi Faity mau dijual berapa?#Eh.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh belum ingin dijual hihihi. Dia memang cantik, walau kata orang, ngapain burung petot bin gundul begitu dipelihara heheh

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI