Google+ Followers

Rabu, 01 April 2015

Demam Batu pun Singgah di Pelataran Rumahku

Di depan komplek, ada dua ruko, bersebelahan pula, dan sama-sama penuh batu. Hampir tiap hari, pagi, siang, sore, malam, tak sepi. Selalu saja ada yang datang untuk sekadar melihat-lihat dan bila naksir langsung deh dipoles dan dibawa pulang.

Si Kahpie, anak lelakiku yang belum ada lima tahun usianya itu suka sekali ikutan melihat keramaian menimang-nimang batu bersama teman sepermainannya. Tentulah si Bianca pun ikutan.

Beberapa hari lalu, suami tercinta pulang membawa bebatuan. Ya, karena aku tak begitu suka, jadi tanggapanku biasa saja. Eh tapi, begitu mendengar suami ingin memberiku satu buah yang terbaik pula (konon harganya mahal, aku jadi mikir lebih baik buat beli camilan AHAHAHAH), aku jadi antusias dan mulai gugling, batu seperti apa sih yang ingin dibelikan kekasih hatiku itu.

Tapi ... bukan itu sebenarnya yang ingin kuceritakan malam ini.

Jadi ceritanya, sore tadi ada suara-suara heboh persis di samping rumah. Aku lagi sibuk pesbukan. Agak terganggu sebenarnya. *sok sibuk dan sok butuh keheningan* Suara Kahpie terdengar menggelegar. Aku penasaran, apa yang sedang ia lakukan dengan teman-temannya.

Pintu samping kubuka. Nihil. Ke mana anak-anak?
Sayup-sayup kudengar pindah ke teras depan. Berkelilinglah aku.

Dan Taraaaa ... Masing-masing anak memegang bongkahan batu--yang entah nemu di mana-- lalu dengan riang gembira diletakkan persis di depan teras.

"Bunda, nanti ambilin air seember ya ..."
"Buat?" Keningku berkernyit.
"Ngerendem batu!"

Aku melongo.

"Buat apaan?"
"Ini batu cocok dibuat cincin. Harus direndam dengan air, semakin lama semakin bagus. Kinclong, Bun!"

O ....

from tabloidaspirasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI