Google+ Followers

Sabtu, 25 April 2015

Dalam Igauanku Sejak Ribuan Hari Lalu

Kau takkan pernah tahu betapa jelaga telah seluruh aku. Kemarin-kemarin aku masih bisa tertawa, tapi hari ini sepenuhnya air mata meronta ingin keluar.

Katanya aku berjantung hitam. Walau ia melihat biru hatiku. Dan sedikit putih berseri di wajahku yang ayu. Jujur, kau pun mengakuinya, kan. Tentang cerah yang tiba-tiba menyapu bersih mendung di rautku yang berhidung mancung dan berbibir tipis. Lalu anak-anak hujan menari-nari di atas kepalaku.

Tentang jelaga yang semua kukatakan, kau takkan menyangka bahwa ia mengikutiku sejak lahir. Lahir dari kaki bumi. Melesat terbang ke angkasa. Berusaha membuang jelaga yang menempel pada tiap bagian tubuhku. Tapi mereka berteriak sambil memegang erat pada rambut-rambut halus di kulitku yang kuning langsat.

Tentang air mata yang meronta, sejak dulu pula mereka terpenjara. Bukan apa-apa, ada sebuah kekuatan yang entah bagaimana bisa diam di dalam aku dan menahan mereka semua. Bisik-bisik yang kudengar dari dalam gendang telingaku mengatakan aku perempuan yang tak pernah bisa dicintai oleh siapa pun, dan memilih menyembunyikan kepedihan itu lantas berpura-pura cinta menyelimuti malam-malam yang dingin.

Hujan bahkan enggan singgah, kecuali anak-anaknya yang menari di atas kepalaku. Hujan terlalu takut kusekap seperti air mata sejak bertahun-tahun lalu. Kemarau, itulah tubuhku. Walau banyak air dari dalam kepedihan, mereka tak bisa membuat tubuhku tumbuh subur selain berat badanku yang terus bertambah. Padahal detik-detik telah berteriak agar aku berhenti mengunyah.

Segala makanan yang kulahap tak pernah mengenyangkanku. Tak pernah sekenyang kepahitan yang tinggal diam dalam diriku. Aku telah berusaha memanggil tabib walau harus lewat pintu belakang agar tak membuat suami dan anak-anakku risau atas senyum yang makin lama tampak kepura-puraan.

Namun rupanya segala upaya tiada daya. Hari-hari mencekikku terang-terangan. Membawaku pada kaki bukit. Dan bersiap melemparkanku ke jurang.

Nyatanya, aku tak dilemparkan. Aku melemparkan diri sendiri. Membawa jelaga, sementara air mata berlepasan dari kedua kelopakku. Bebas. Seperti menemukan kehidupan ketika aku menyentuh kaki bumi. Ke tempat aku dilahirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI