Google+ Followers

Sabtu, 25 April 2015

Aku dan Ibu di Suatu Malam


Isak ibu terdengar dalam jerangan air yang mendidih. Sudah pukul satu, dan kaki ayah masih bercengkrama dengan pekatnya malam. Chanel TV bergonta-ganti. Lagu memori menjadi pilihan ibu. Mengganti isaknya, yang kini sudah tertuang dalam cangkir kopi-kesekian.

Yang, hujan turun lagi ... di bawah payung hitam kita berlindung.

Ibu meledak bersama lirik lagu kenangan. Kini, jangankan hujan, saat terang benderang pun waktu melipat ayah dalam kertas bertuliskan angka-angka. Melupakan ibu, melupakan pula aku. Aku pun lupa waktu membuat aku ada. Sedang ibu, tenggelam bersama tagihan hutang.

"Beras tinggal secangkir."

"Lupakan makan, semakin panas perutmu, rezeki akan datang sendiri."

Dan gelas kopi kembali terisi. Isak ibu mengepul. Tawanya meledak. Lagu kenangan mengalun hingga dini hari. Kaki ayah tak juga mengetuk pintu.

"Lelaki suka lupa jalan pulang, bila menemukan cahaya kerlap-kerlip."

"Tapi aku selalu pulang, Bu."

"Kau hanya bocah. Belum lelaki, Nak."

Isak ibu sudah menguap. Tak ingin kutambah pedihnya. Kutahan bibir yang sedari tadi ingin berujar.
"Bu, aku bertemu bintang di rumah sebelah. Lengkap dengan ayah. Aku selalu bermain di sana. Tapi aku ingat pulang dan menyusu padamu." Kata-kata itu hanya menggema di benakku.

"Bisa buatkan segelas lagi untuk Ibu?"

Isak ibu kembali merintih bersama jerangan air panas.


#‎suromoter‬
#sebuah igauan di dalam kepala Rin
Shutterstock

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI