Google+ Followers

Kamis, 16 April 2015

Aksi No Rokok Sejak Dini

Aku baru menyadari betapa beruntungnya pernah merasakan 'kerasnya' larangan segala yang berbau rokok sedari kecil.

Cerita sedikit, di rumahku --rumah orang tuaku, tidak pernah menyediakan asbak. Bagi yang pernah bertamu dan kebetulan merokok, sudah paham banget. No Smoking! Tanpa tulisan itu di dalam ruang tamu atau seisi rumah, mereka sudah paham dan tak berani mencoba mengeluarkan sebatang saja dan membakarnya.

Papa bukan lelaki perokok, mungkin dulu sewaktu belum menikah, bisa jadi. Tapi selama hidupku tinggal bersamanya, tak satu menit pun kulihat ia menghisap barang itu. Alhamdulillah, itu yang membuatnya tampak awet muda di usia sudah lebih dari enam puluh tahun itu.

Aksi menolak rokok dan segala tentangnya membuatku juga ikut-ikutan say no. Sampai terpatri dalam hati dan pikiranku, bahwa kelak pendampingku pun haruslah pria yang bebas rokok dan turunannya.

Ternyata ... Allah mengabulkan permintaan kecilku yang tak sengaja itu. Ketika bertemu lelaki yang menjadi suamiku kini, ia bersih dari rokok. Sempat merasa aneh saja. Melihat teman-temannya yang rata-rata perokok berat, ia malah memilih menyehatkan diri dengan menghindari itu. Luar biasa toh ... Mengingat kebanyakan teman justru menganggap lelaki tak jantan.

Cuma ... saat ini aku sedang galau. Si jagoan, Kahpie, sudah mulai 'penasaran' dengan barang menyebalkan itu. *tetangga memang menjadi contoh. Pernah satu waktu aku mencuri lihat ia sedang menghisap sisa puntung rokok. Sedih rasanya.

Dengan penuh hati-hati kukatakan, bahwa itu tak baik, pernahkah melihat ayah seperti itu?
Ia hanya terdiam sambil senyum-senyum tak jelas. Mungkin takut, atau malu ketahuan. Tapi kok pak anu begitu? Enak aja berarti kan?

Nah loh ... rasanya ingin menutup rumah rapat-rapat dan tak membolehkan anak-anak bermain di luar. Tapi tak bijak juga kan, mengingat mereka butuh bersosialisasi dengan dunia luar. 

Andai saja tak ada rokok di Indonesia ... pastilah anak-anak tak melihat 'indahnya' asap yang keluar dari mulut mereka-mereka yang merokok.

Satu-satunya cara yang bisa kulakukan saat ini hanyalah, mengawasi terus. Semoga tak ada lengah, hingga kecolongan seperti anak-anak yang gambarnya kutemui di bawah ini ... dan masih banyak lagi rekam jejak anak-anak yang tampak begitu lihai dan menikmati kepulan asapnya ...
anak kecil merokok
anak-kecil-merokok -mtf-online


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI