Google+ Followers

Faity Today
 

Ada yang ingat kisah si Faity gak? Kisah burung juara yang selalu dihina dina *bukan cuma sama manusia, barangkali sesama burung ikut mengejek saat melihatnya.

Si Burung Juara yang amat sangat membanggakan itu kini sudah mulai cantik. Setelah berbulan-bulan gak ikut kontes, Faity yang memiliki paruh petot itu sudah jarang mengigiti bulunya sendiri.

Ia mulai pulih. Lihatlah, dadanya tak lagi gundul. Walau masih belum tumbuh dengan sempurna, ini satu pencapaian luar biasa buat Faity.

Mungkin kalau faity bisa bicara bahasa manusia, ia pasti bilang, "Lihatlah, aku berhasil mengalahkan egoku sendiri. Aku tak lagi menyakiti diriku dengan mencabuti bulu-bulu di badanku. Karena aku mau sembuh, kukalahkan diriku."

Ah, Faity sungguh menginspirasiku.

Sadarkah teman, kita sering berlaku tidak adil pada diri sendiri? 

Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, kita justru terpuruk, meratapi kelemahan, tak jarang menyakiti diri. Faity, ketika bulan-bulan pertama hadir dalam keluargaku pun mungkin bersikap demikian. Ia minder, karena ketika dibawa ke gantangan, barangkali burung-burung lain mencibir. Awalnya ia mengeluarkan suara ajaibnya. Juara terus. Tapi barangkali pula omongan dari luar membuatnya patah.

Dia jadi malas mengembangkan dirinya. Suaraku bagus tapi tubuhku tak menunjang. Buat apa aku hidup, Huaaa *ini dramatisasiku saja heheh

Nah, untuk itu orang-orang seperti Faity butuh perhatian khusus. Faity ditaruh dalam kandang koloni. Tadinya aku ragu. Apa bisa dia kuat? Apa kata teman-temannya nanti? Apa dia semakin minder bila dilepas dalam koloni?

Ternyata, teman-temannya di dalam kandang koloni sungguh baik. Faity tak dikucilkan. Faity ditemani. Oh iya, Faity ini sulit terbang, tak seperti teman-teman lainnya. Di dalam kandang luas itu dia hanya merambat di kayu-kayu. Tak pernah dia terbang menjauh. Bila ingin makan, ia berjalan pelan-pelan ke kotak makanan. Tak jarang kulihat teman lain datang berbagi makanan untuknya. Ajaibnya ya mereka.

Teman-teman Faity di dalam koloni tahu bagaimana menguatkan hati Faity. Ini bukan sembarang kisah, ini benar-benar ada. Kenapa aku bisa bercerita tentang ini seolah aku sangat mengerti bahasa mereka? Ya karena aku mengawasi mereka tiap hari. Aku memposisikan diri menjadi mereka. 

Faity merasa diterima, apapun keadaannya. Bayangkan, menjadi burung gundul di antara burung normal lainnya, pasti minder banget. Tapi di koloni, Faity mulai bangkit. Tubuhnya pun mulai pulih. Ia mengobati dirinya karena perasaan bahagia. Bahagia diterima. Lambat laun, ia pun tak lagi mencabuti bulu. 

Hari ini Faity sengaja dikeluarkan dari koloni. Ia rupanya sudah siap bila bertarung kembali di kontes. Beberapa hari belakangan ia bersuara indah lagi seperti dulu.

Ketika Faity dikeluarkan dari koloni, ia seperti berucap, "Terima kasih, Sahabat-sahabatku. Aku takkan mengecewakan kalian. Aku akan menjadi juara lagi."

===
Dan aku sendiri, sangat berterima kasih pada diriku. Beruntung Faity tetap kupertahankan. Walau ada yang menawar dengan harga cukup lumayan, tak ingin kulepas ia. Aku belajar banyak hal dari Faity. Semangatnya, dan keinginan untuk tetap bersinar ... 

Tetaplah jadi juara, Faity. Kami mencintaimu....
Faity Before




KUMPULAN  TESTIMONI  BUKU-BUKU  FAVORIT  LOVRINZ

Anggarani Ahliah Citra
“Aku suka GENDING PEMBAWA KABAR. Kenapa? Karena buku itu menambah wawasan tentang kebudayaan negara kita. Suguhan yang menarik, sekaligus membuat pembaca menjadi pintar.”

Annisa Azzahra
“JARAK CINTA, karena tiap lembar yang tertulis di sana terselip pemahaman baik tentang kehidupan dan kisah-kisah yang membangkitkan semangat buat para pelaku LDR baik dengan suami, istri, maupun keluarga yang lain, bahwa jarak tidak akan menjeda rasa sayang di antara mereka. Ah, buku ini sudah sampai di Korea juga, dan insha Allah menjadi penguat untuk sahabat saya di sana, Rila Umaya yang sedang LDR dengan keluarganya dan dengan saya tentunya. *Pukpukpuk* Sukses selalu, LovRinz Publishing dan sahabat LRF  terima kasih untuk tiap pelajaran berharganya.”

Eva Sholiha
“Wah, aku suka ANIMUS. Novel bagus, alurnya asik plus twist ending yang ngagetin. Double TOP!”

Siti Chafidhoh
“ANIMUS By Ajeng Maharani ... Membacanya seperti tidak ingin ada jeda. Maunya baca, baca, dan baca sampai habis. Setiap katanya seperti menyihir mataku untuk enggan berpaling. Poko'e keren bingits ...”

Ajeng Maharani
“Buku yang saya suka bukan dari genre apa tetapi yang mampu menghanyutkan, memberikan feel, entah apakah itu sedih, tegang, berdebar-debar mengikuti alur ceritanya, pokoknya bisa membuat saya ikut merasakan dan masuk ke dalam cerita. Sebagus apapun buku itu, sepenting apapun informasi atau pengetahuan yang disampaikan buku itu kalau nggak bisa menyentuh hati, maka itu bukan buku yang saya sukai ... Di RAHASIA HATI SUAMI saya temukan itu, baru membaca 80 halaman tapi buku itu sudah merubah semua perasaan saya, mengaduk-aduk, mengingatkan betapa sudah banyak dosa saya pada suami, betapa masih kurang menjadi seorang istri .... Subhanalloh, buku RHS benar-benar indah.”

Nur Jannah Al-Islamiyah
“Saya juga DWILOGI MATAHARI karena selain ada nama Re Tiapian juga ada 40 nama lain hasil menang event di KBM bertema matahari, berisi 20 cerpen dan 20 puisi yang pastinya sangat bagus-bagus karena merupakan hasil saringan dari 127 naskah yang masuk. (76 naskah cerpen, 51 naskah puisi)”

Ratry
“SEPASANG CANGKIR KOPI, karena ceritanya romantis, manis dan bikin mata berkaca-kaca, seakan dibawa ke kisah yang nyata. Heuheu hiks hiks ...”

Rosi Ochiemuh
“Boleh 2? Yang saya sangat suka ... ANIMUS & MELUKIS KA’BAH ... dua itu yang sampe sekarang kesannya sampai ke hati dan pikiran ...   yang lain buku-buku LRF masih saya tunggu kehadirannya di tangan saya. Ingin punya buku terbitan LovRinz, kulialitas isi dan covernya jempol.”

Andika Riski
“JARAK CINTA, karena setiap karya yang ditulis di sana adalah kisah nyata, dan karena ada tulisan saya di sana (abaikan yang satu ini) satu lagi, jarak cinta membuat para pelaku LDR lebih tabah dalam menjalani kisah cintanya.”

Agus Supriyadi
“Saya paling suka ma buku NASIB ORANG BAIK punya Fitrah Ilhami, penghilang suntuk dikala letih melanda dan dari buku itu saya tahu ternyata seorang Fitrah Ihami ternyata orang ‘gila’ ... Sukses yahh.”

Admin Penerbit LovRinz
“Neng suka RAHASIA HATI SUAMI. Terlahir dalam keluarga broken home membuat Neng harus belajar banyak agar tak mengulang kisah orang tua yang terpisah karena entah apa. Karena Neng waktu itu masih kecil, hanya tau hari ini sampe itu ikut Mimi, hari ini sampe itu ikut Abah. Buku Rahasia Hati Suami Neng hadiahkan buat Mimi. Mimi menangis membacanya. Sekarang kalau Abah datang silahturahmi, Mimi tak pernah marah-marah lagi. Secangkir kopi tersedia. Dan mereka berdua duduk bersama di ruang tamu sambil bercerita. Neng gak berharap mereka bersatu lagi, tapi doa Neng semoga Mimi dan Abah tetap hidup damai.”

Lila Sulis
“Dari sekian buku terbitan LovRins, saya baru punya 2 yaitu Animus dan Jarak Cinta. Pengennya beli lagi. But, ntar dulu dech. Saya suka ANIMUS. Dari awal baca, sudah buat penasaran, gaya penulisan yang loncat-loncat membuatku berpikir. Ternyata, sampai ending, benar-benar Woww. Wah, pengen buat novel kayak Mbak Ajeng. Mantap!”

SuEff Idris
“Untuk sementara ini, buku terbitan LovRinz yang jadi pavoritku adalah SEKENARIO MAHACINTA karya Mas Safar Ubaknomminakbai, kebetulan buku itu satusatunya yang sampai kepadaku. Dan insya Allah sesuai permintaan beliau (penulis) sebelum pulang aku bawa umroh dulu dan selfi di sana hehehhe.”

Patrianur Patria
“Kumpulan FF SUBUH YANG PALING SUNYI. Penulisnya keren-keren, dan ide ceritanya pada cetarrr  Saya baca berulang kali sampek bukunya jadi lecek.”

Naura Yani
“ANIMUS karya Ajeng Maharani ... Aku pengagum novel, dan sudah banyak novel yang aku baca. Genre apapun itu. Tapi Animus yang paling berkesan looh ... Waaahh buku terkeren yang pernah aku baca. Ceritanya menarik, bahasanya yang lugas. Konfliknya bikin jantung deg deg plas ... Dan endingnya mbaakkkk ... Aku gak terimooo. Cuwa kok jahat bangett ... hiks.”

Anggun Cahyani
“Semua terbitan LovRinz yang aku punya bagus-bagus sih, tapi aku paling suka baca SEPASANG CANGKIR KOPI, karena bahasanya indah, ceritanya pendek-pendek nggak bosenin, cover nya juga ok.”

Laila ILa
“Buku MELUKIS KA’BAH. Bukan karena cerpen aku ada di dalamnya, tapi karena keluasan seluruh pengisi cerita dalam bercerita. Religi tidak lagi harus monoton seperti film-film ftv dan dari buku itu aku berkeinginan umrah. Belum lagi dengan cerita mba Rina yg ingin umrah. Sayangnya, cerita itu nggak masuk dalam buku. Btw, selamat ya LovRinz. Makasih sudah menjadi wadah tempat kita belajar juga. Peluk cium. Oh ya, cover buku terbitan LovRinz pun ciamik!”

Damar Hening Sunyiaji
“Belum baca semua, baru MANZILA MANZILA dan SAUJANA HATI, tapi secara fisik, buku-buku terbitan LovRinz bagus kualitas cetaknya. Warna dan bahan sampul, isinya yang pakai book paper sampai tinta cetakannya, tidak bikin mata cepat lelah. Manzilah-manzilah baru saya baca separuh, tapi saya antusias karena puisi-puisinya sederhana dan enak untuk dinikmati, tidak terjebak pada usaha untuk berbelit-belit maupun penggunaan rima yang maksa. Terlihat sekali para penulisnya bersahaja untuk menghadirkan puisi-puisi yang bisa dinikmati kapan pun dan oleh siapapun, tanpa batasan usia maupun referensi. Pokoke mantaplah. *ulasan lengkapnya nanti saya posting di blog pribadi :p*”

Jayadi Oemar Bakrie
“ANIMUS Seven Days_Ajeng Maharani. Novel yang ditulis hanya dengan tempo waktu satu bulan.”

Maisaroh Mai
“SEPASANG CANGKIR KOPI ... Bahasa yang disampaikan sangat menyentuh ...”

Elfi Ratna Sari
“Ssttt ... KARENA AKU SAYANG KAMU. Hehehe satu-satunya buku yang sudah saya baca sebelum terbit. Kumpulan cerpen bergenre romance comedy dan romance religi. Yang lain belum baca. Kan saya anak baru, Kak? Di Buku bersampul pink itu ada sebuah cerpen Doa Sania, cerpen menyentuh yang terinspirasi dari kisah penulis sendiri. Hahaha pomosi. Kabuurr.”

Ademia Nurul Fuadah
“Buku terbitan LovRinz kualitasnya selalu ciamik. Covernya selalu cantik, manis dan lembut. Kertasnya pun oke. Hmmm ... sejauh ini buku terbitan LovRinz yang aku suka adalah SAUJANA HATI. Alasannya karena buku itu adalah karya suami saya ... hihihi dan satu-satunya kado pertama selama usia pernikahan.”

Hana Daffi
“MELUKIS KA’BAH dan JARAK CINTA. Keduanya kusuka. Pengalaman dan kisah dalam kedua buku ini memberi banyak pelajaran. Terutama mensyukuri betapa banyak nikmat yang Allah berikan padaku.”

Asih Wardhani
“JARAK CINTA dan MELUKIS KA’BAH aku suka bersama para penulisnya, hingga tak gamang saya investasi untuk mencetak Melukis Ka'bah sebanyak 1200 exemplar dan Jarak Cinta sebanyak 600 exemplar. Ceritanya indah dan true story untuk Jarak Cinta, sedang Melukis Ka'bah adalah sebuah harapan suci unruk melangkah kesana. Tak lupa teroma kasih saya pada semua kontributors yang telah mendedikasikan karya terbaiknya dalam satu buku.”

Monita Alvia
“Saya punya beberapa buku terbitan LovRinz, yang di favoritkan yaitu JARAK CINTA. Di mana pertama kalinya itulah buku yang saya punya, buku yang mengajak saya memandang akan hubungan terpisah jarak dalam beberapa versi. Ditambah sampul yang menggemaskan, warna yang begitu lembut. Bahan kertasnya bagus, sehingga saya tak pusing dan merasa begitu nyaman ketika membacanya. Juga terselip puisi-puisi, tak hanya cerpen saja.”

Durroh Fuadin Kurniati Runi
“Aku punya RENGKUH AKU KEKASIH, SEKENARIO MAHACINTA, JARAK CINTA, MELUKIS KA’BAH, SUBUH YANG PALING SUNYI, MANZILA MANZILA, SEPASANG CANGKIR KOPI, RAHASIA HATI SUAMI, ANIMUS. Semuanya menarik dari sudut pandang berbeda, dari gaya bahasa, teknik bercerita, sekaligus hikmahnya. Jadi kalo mau dibilang mana yang saya paling suka sih bingung karena harus sebutin satu  padahal semuanya saya suka.”

ITA (identitas minta dirahasiakan, bukan nama sebenarnya)
“Novel yang aku suka adalah ANIMUS. Di situ aku dapat banyak pelajaran tentang diri yang dikuasai kebencian. Karena sampai detik ini kebencian itu masih membelenguku. Pas baca Animus, aku sadar gak ada gunanya hidup dengan kebencian. Soalnya kisahku hampir mirip Cuwa.  Hikmah dari novel ini: jika kita terus menyimpan rasa benci, gak akan membuat semuanya lebih baik.”

Yannah Akhras
“Paling suka RAHASIA HATI SUAMI karya mas Safar Ubaknomminakbai. Membaca buku ini membuatku berkaca kembali, tentang rahasia terdalam hati suamiku. Jadi makin cinta ma suami. Inspiratif banget, subhanallah. Eh, aku juga suka NASIB ORANG BAIK-nya mas Fitrah Ilhami. Baca buku ini bikin stresku ilang. Suami sampai heran, karena untuk pertama kalinya aku ngakak sejak halaman pertama.”

Rahadiani Pratami
“ANIMUS ... kenapa suka? Karena bikin merinding disko ... sempet agak parno kalo sendirian di rumah ...”

Rima Miftachul Hidayah
“Alhamdulillah beberapa buku LRF udah nongkrong di rak bukuku dan dibaca. Beberapa buku ada cerita saya juga hihii ... Pilihannya jatuh ke ANIMUS. Kenapa? 1. Karena bukan saya yg nulis  jadi fair dalam penilaian. 2. Buku itu sebagai pembuktian bahwa menulis novel dlm sebulan, itu bisa. Dan kalo ga salah itu program awal terbentuk LRF. 3. Ceritanya menarik dan saya tuntas membacanya. Hihii 4. Sukses buat semua.”

Gina Rochima
“Sejauh ini buku LRF semua bagus aku pikir. Tapi aku terkesan dengan sebuah nopel. Aku habiskan dalam sekali duduk karena begitu hanyut dengan bahasa dan penyampaian yang lugas. Ndak harus mengerutkan kening untuk mengerti bahasanya. Dan benar, aku sangat menikmati kisah dalam nopel ini. Apalagi setelah tahu perjuangan penulisnya. Tetap aku acungin jempol buat penulis SAUJANA HATI.”

Rinidiyanti Ayahbi
“Aku nangis baca RAHASIA HATI SUAMI  ... ada satu kalimat yang membuatku nangis terusterusan. "Duhai Cinta ..., engkau menikahi lelaki akhir zaman yang tak sempurna." Ya Allah, aku masih merasa belum sepenuhnya jadi istri yang baik dan benar.”

Nona Reni
“Ketahuan aku baru punya 1 buah buku dari LRF, itu juga hadiah dari Bunda Asih. Untuk LRF Salut. Komentar kali ini ga berharap rejeki nomplok dari mbak Rina dan pengurus, tapi buku FF SUBUH YANG PALING SUNYI, bikin aku berdecak kagum. Wow buangeet. Pengen ada karyaku juga, sayang masuk dan gabung LRF sangat-sangat terlambat.”

Endang Suprapti Soegino
“Berhubung aku baru baca dua buku, selanjutnya menyusul buku yang lain. Aku suka sama ANIMUS, alasannya : diksinya bagus, bikin deg deg ser bacanya, penasaran pengen terus baca, biasanya aku gak terlalu suka baca novel, lebih seneng yang based true story, tp baca novel Animus rasanya kaya aku baca Assalamualaikum Beijing ...”

Ratna Hana Matsura
“WHITE WINGS, aku suka tuh ada pembatas bukunya. kisahnya kayak baca manga. karena aku demen manga jadi enjoy aja. cukup menghibur dengan imajinasi yang ada di sana.”

Triya Zuniati Damaidihati
“Semua buku LRF yang pernah aku bagus-bagus, pokoknya TOP buanget!!! Berhubung hanya harus nyebutin satu judul buku, saya memilih ANIMUS. Saat membaca Animus, aku merasa berada di dunia legenda. Alur cerita yang disajikan beraneka ragam, seperti makan nasi goreng. Ada rasa pedas, manis, asin semua jadi satu. Hem, sedaap.”


-oOo-

Sudah lebih dari 35 Buku terbitan LovRinz, semoga akan terus berkibar

Beberapa waktu belakangan, saya sedikit tersiksa dengan emosi yang meledak-ledak. Senggol sedikit, urat leher tegang. Anak-anak memandang saya dengan perasaan takut. Tampaknya bunda sudah berubah jadi makhluk mengerikan, begitu mungkin pikir mereka.

Banyak pikiran, jenuh dan mungkin juga pengaruh hormonal membuat saya uring-uringan. Tak jarang menangis sendiri sambil mendekam di pojok kasur. Perut mules dan bolak-balik ke toilet juga bikin saya tambah sensi. Wajah yang tak pernah berjerawat malah keluar lebih dari sepuluh bintik-bintik menyebalkan. Sudah, ini cukup membuat saya jadi tidak pede bahkan untuk duduk di depan monitor mengawasi bisnis yang dijalankan lewat dunia maya.

Ditambah suami yang jarang menemani lagi di rumah, karena harus standby di percetakan yang baru dirintis, membuat saya tambah kurang kasih sayang. HAhaha *ketawa sedih* Saya kan paling gak bisa kalau ditinggal lama-lama sama suami. Bisa meriang. Hiks.

Di saat saya meringkuk dalam kesedihan, banyak pesan masuk baik ke FB, WA, BBm atau SMS bahkan telepon beda operator yang bisa jadi mahal kan ... saking lamanya menasehati ini itu.
Rata-rata pesannya sangat membuat hati adem. Dan tentu saja saya merasa malu. Malu karena banyak cinta buat saya yang menyebalkan ini.

Terima kasih, Sahabat. Pesan-pesan darimu sungguh mengubah hidup saya. Setidaknya emosi lambat laun mulai terkikis karena petuah-petuah pembangun semangat yang menyala-nyala di hatiku.

Dan yang paling indah dari semua itu, terima kasih, Suamiku tercinta.

Pesan-pesan yang Yayah kirimkan sungguh membuat Bunda malu.

"Bunda yang baik, ya ..."

Satu Pesan Berjuta Makna.

InsyaAllah, saya akan baik-baik saja ...

2011 adalah saat yang paling mendebarkan buatku. Pertama tentu saja itu adalah awal aku menjalani Ramadhan pertama bersama keluarga kecilku, suami dan dua anak yang lucu, juga janin yang baru seumur jagung di dalam kandunganku. Ya, tentu saja itu mendebarkan. Sebab dalam dua puluh sembilan tahun, itu pertama kali aku merasakan indahnya bulan menuju kemenangan.

Sebagai muslimah baru, saat itu aku benar-benar merasa galau. Sebab solat saja masih patah-patah. Al-fatehah dan surat-surat pendek sudah mampu kuhafalkan, namun dalam hati berkata, apa Allah bosan ya doaku itu-itu saja heheh.

Bicara soal mukena, aku memakai mukena yang ada di lemari. Mukena milik bundanya anak-anak. Ada sedikit sobek di depannya, tapi kata suami, pakailah dulu, nanti bila ada rezeki dibelikan yang baru. Walau hati sedikit sesak dan protes, kenapa harus dapat yang bekas, tapi aku tetap menggunakannya, masa' iya sholat gak pake mukena?

Selama bulan ramadhan itu walau aku sedang hamil muda, aku rutin berpuasa. Biar bagaimana juga itu pertama buatku. Ada perasaan haru karena ternyata aku juga bisa berpuasa seperti yang lainnya.

Menjelang hari-hari terakhir di bulan Ramadhan, suami pulang membawa sebuah bungkusan. Sebuah mukena putih berenda dengan bahan yang halus dan lembut juga dingin dikenakan.

"Maaf, telat memberikannya pada Bunda. Semoga Bunda jadi tambah rajin sholatnya. Jadi istri yang sholehah dan ibu yang baik buat anak-anak," ujar suamiku sambil mengelus perut yang belum membesar.

Sekarang sudah 2015, dan sebentar lagi kembali menjalani bulan Ramadhan. Aku masih setia dengan mukena cantik sederhana pemberian suami empat tahun lalu.

"Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Menyambut Ramadhan"
Sejak dulu, saya suka sekali mendengar gemericik air dan melihat ikan-ikan yang berenang di dalam kolam. Perasaan hati menjadi tenang.

Sebelum berumah tangga, saya punya banyak aquarium kecil-kecil *sebenarnya botol bekas heheh dan saya isi dengan berbagai macam ikan hias, terutama cupang dan beberapa ikan lain dalam aquarium yang agak besar. Saya ingat ketika itu ide dalam otak lancar banget tertuang menjadi sebuah tulisan.

Sejak kepindahan saya ke Cirebon, saya memutuskan untuk memiliki lagi sebuah aquarium mini. Sebab panasnya Cirebon sempat membuat saya stress duluan. Heheh.

Suara gemericik airnya membuat saya betah berlama-lama di depan monitor, karena kebetulan aquarium itu sengaja saya letakkan di samping kursi yang saya tempati.

Eh ternyata, memiliki aquarium dengan ikan hias di dalamnya itu sangat mempengaruhi psikis seseorang loh. Mau tahu?

Adanya aquarium dan aktivitasnya bisa menjernihkan pikiran dan menetralkan perasaan galau seseorang. Coba deh bila sedang bete, suntuk atau kesal dengan satu hal *atau banyak hal heheh* berdirilah atau duduk di depan aquarium. Lihatlah ikan warna-warni yang berenang ke sana-kemari. Berkejaran dengan teman-temannya, bermain di bawah gelembung air, bersembunyi di balik tumbuhan hias, atau bebatuan, dan masih banyak lagi. Kalau saya, melihat itu semua bisa menghibur hati yang gundah. Saya semakin ingin menambah isi aquarium saya dengan berbagai jenis ikan hias *tapi aquarium saya mini banget, hanya bisa muat beberapa saja. Ya, melihat ikan-ikan di aquarium bisa jadi hiburan yang menyenangkan dan murah meriah.

Melihat aquarium dan ikan-ikan di dalamnya juga bisa menumbuhkan rasa cinta dan kasih. Loh kok? heheh ya tentu saja, memiliki aquarium kita belajar bertanggung jawab akan keindahannya. Mengganti airnya setiap beberapa hari sekali agar ikan tetap hidup dan sehat. Juga hasrat untuk memperindah aquarium menjadi lebih hidup. Menambah aksesori dan sebagainya. Selain itu, bila kita sabar dalam merawat isi aquarium, kita semakin bertumbuh dengan hati yang tulus. Bukankah membersihkan aquarium itu sebenarnya pekerjaan yang paling menyebalkan? Heheheh Tapi akan menyenangkan bila kita melakukannya dengan riang gembira, penuh cinta dan kasih kepada ciptaan Tuhan bernama ikan dan sebangsanya.

Nah, yang paling penting buat saya adalah .... melihat aquarium menjadikan saya kaya akan inspirasi.Sebagai seseorang yang mengaku "penulis" inspirasi itu sangat perlu, dan sangat diharapkan hadir. Kalau sedang buntu, memandang aquarium dan mengajak ikan-ikan kecil itu bercanda ria, tiba-tiba saja saya kepengen nulis ini. Bukankah ini baik? Hehehe, terima kasih, Ikan ... mungkin besok atau lusa saya akan membuat sebuah cerita tentangmu dan duniamu.

Selain itu, memiliki aquarium juga bisa menjadi ladang bisnis. Hahah saya ingat bertahun-tahun lalu ketika memelihara puluhan ikan cupang. Hobi sih, tapi bisa menghasilkan duit. Lumayan, teman-teman yang berkunjung tertarik dengan keindahan ikan cupang lantas berniat untuk memilikinya. Bermanfaat banget buat menambah isi dompet heheh.

Nah masih banyak lagi sebenarnya manfaat aquarium dan segala isinya.
Poin paling penting buat saya sekarang adalah mencari inspirasi dan kesempatan menulis lebih lancar sambil memandang aquarium mini di samping saya. Ah tampaknya saya harus membeli sebuah aquarium yang lebih besar dan penghuninya lebih banyak, agar makin berloncatan ide-ide di kepala ini ...

*siap-siap merayu suami buat ke pasar ikan.
lovrinz
aquarium miniku
Hai, Ow Ow Siapa Dia? Hadir kembali setelah sekian lama berendam di sungai belakang rumah ... hihihi

Kali ini LovRinz ingin mengajak para sahabat untuk mengenal lebih dekat sosok penulis yang baru saja melahirkan buku Lembah Air Mata.

Kali ini LovRInz sengaja tidak melakukan wawancara dua arah, melainkan memberikan ruang untuk penulis mengisahkan perjalanannya dalam dunia kepenulisan.

Lembah Air Mata adalah kisah yang ditulis mas Jalaluddin Al-Hasby Lubis sudah lama sekali dibuat. 7 tahun lalu. Kesedihan selama di pondok ia habiskan dengan menuangkannya di dalam lembaran kertas. Sempat sakit yang bisa dibilang parah juga, karena harus minum obat rutin. Badan makin kurus dan lemah. Berbulan-bulan minum obat, akhirnya pulih dan teman-temannya banyak sekali yang menyarankan agar tulisannya dulu dibukukan. Kisah yang sebagian besar adalah kisah nyatanya. Sebelumnya naskah ini hampir enam ratus halaman. Namun dipangkas menjadi dua ratusan. Dipilih yang benar-benar layak untuk dibagikan

Untuk menerbitkannya pun butuh perjuangan. Mas Jalal bukan seperti orang kebanyakan. Dengan bermodal hasrat agar buku yang ia persembahkan untuk adik-adik di Musthafawiah Purba Baru, *pondoknya dahulu, ia mencari ke sana-kemari.


Yuk, kita dengarkan penuturannya yang mengharukan ini ...

Sejak aku sakit, penjiwaanku berubah drastis. Mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah menangis. Bahkan terkadang melihat burung yang terbang sendirian tanpa pasangannya, air mata  langsung mengalir. Melihat semut yang jalan sendirian dengan terseok-seok, air mata langsung tumpah. Dan ketika ceramah -karena setelah sembuh aku terjun ke dunia dakwah- bila menyinggung tentang kesedihan, aku tidak bisa mengontrol diri. Aku sampai menangis terisak-isak, sehingga jamaah pun ikut larut dalam tangisan tersebut. Mungkin mereka menyangka yang kutangiskan adalah yang kuceramahkan itu. Padahal kenyataannya aku menangisi mereka yang kebanyakan sudah tua renta. Terlebih lagi yang kutangiskan adalah tangisanku.

Sampai setahun lebih, aku ceramah dari kampung ke kampung. Namun setelah satu tahun, aku tidak betah tinggal di kampung. Jiwaku terus memberontak. Ingin pergi jauh, menyendiri. Karena saat itu kesendirian lebih kusukai daripada keramaian. Ratap tangis lebih kunikmati dari canda tawa. Aku mudah bosan dengan sesuatu hal, yang tidak pernah membuatku bosan hanyalah membaca karanganku. Kubaca, kubaca, kubaca, dan kubaca tanpa mengenal waktu beriring tangis tanpa air mata, karena air mataku terasa kering sudah. Entah berapa kali aku tamatkan karangan itu, aku tidak tau. yang pastinya sampai tujuh tahun berlalu aku tak pernah bosan membacanya. Dialah teman setiaku, yang tak pernah meninggalkanku walaupun teman yang lain mulai mengucilkanku. Dialah teman karibku, yang menghiburku dalam keterpurukanku, padahal yang lainnya mulai mencemoohku. Dan dialah jiwaku, yang tak pernah bosan menampung cucuran air mataku. Terakhirnya, dialah saksi bisu akan semua duka laraku dan yang memelukku seperti pelukan seorang ibu.

Karena tak tahan di kampung halaman, aku kembali merantau. Awalnya, orang tua dan sanak saudara menghalangiku. Mereka takut aku tak bisa menjaga kesehatan sehingga penyakitku kambuh lagi. namun karena tekatku sudah bulat, akhirnya mereka mengikhlaskan juga. Tapi nyatanya baru 3 bulan di Pekanbaru, sakitku kembali kambuh. Aku terkapar di kamar mesjid tersebut tanpa satu jamaah pun yang tau -waktu itu sebagai imam di salah satu mesjid Pekanbaru. Satu hari satu malam kutak sadarkan diri di dalam kamar tersebut. Para jamaah memang awalnya bertanya-tanya,  Aku di mana. tapi ada satu jamaah yang menjawab bahwa aku kemungkinan pergi ke tempat teman. Besoknya, waktu siuman yang pertama kudengar adalah bacaan ayat-ayat suci. Rupanya waktu itu dibalik tembok kamarku, para jamaah sedang melaksanakan sholat zhuhur.

Yang pastinya sejak itu aku kembali lagi ke kampung. dan kembali lagi merantau ke Dumai-Riau, baru ke Duri-Riau. Berkali-kali jatuh bangun. dan berkali-kali aku bangkit. Cuma satu yang kubanggakan. Walau keadaanku semakin hari semakin terpuruk, tapi Rabb tetap juga mengkuatkanku untuk tetap menjalani kehidupan ini, walaupun merangkak seperti tua renta yang butuh papahan, perhatian, dan kasih sayang.

Hingga satu hari, aku memutuskan untuk benar-benar menerbitkan tulisanku--sebelumnya naskah ini pernah kukirim ke beberapa penerbit, namun ditolak. Penolakan itu sempat membuatku berputus asa, kuanggap sebagai sebuah angan-angan yang dusta. Biarlah naskah itu raib dan tertanam di perut bumi.  Ternyata tak sedikit dari teman-teman yang ingin membaca kisah selama di pondok itu. Dan jadilah, dengan semangat yang kembali hadir, aku berusaha agar naskah ini bisa dibaca dalam bentuk buku, terutama untuk adik-adik tercinta di pondok.

Berbekal menggadaikan kereta, jadilah 1000 buku yang insyaAllah semoga diterima pembaca.

Terima kasih buat sahabat-sahabat yang menantikan kehadiran Lembah Air Mata. Kisah ini tak sesempurna kisah lainnya, banyak kekurangan namun, kenanglah segala hikmah yang tercipta dari barisan kata-kata di dalamnya. Semoga Allah memberkahi kita semua.





untuk pesanan bisa hubungi akun FB penulisnya atau LovRinz Publishing


Oleh : Asih Tri Setianingrum

Rona wajah yang dulu ranum itu, kini menghilang entah ke mana. Lebur di antara ilalang-ilalang yang berdendang. Harus ke mana kucari asa cinta yang pernah menempati relung hatiku, harus ke mana lagi kucari sisa cinta yang dulu sempat bersemi di hatiku.
Aku mengerti. Aku paham. Aku sadar. Aku hanya wanita sederhana, bahkan aku tak memiliki apa-apa seperti mereka. Namun, aku punya cinta yang mampu membuatmu hidup. Tapi mengapa kau seakan diam membisu seperti itu, ku tak tahu apa yang ada di dalam hatimu. Yang pasti aku sangat merindukanmu saat ini.
"Ve, andaikan kau tahu, aku begitu menyayangi dirimu. Entah sudah berapa kali kuucapkan itu padamu. Tapi tak juga mampu membuka sudut hatimu. Aku tahu aku tak bisa selalu menjagamu. Tapi kumohon mengertilah Ve, aku sangat menyayangi dan merindukanmu".
Air mataku tak kuasa lagi tuk menahan buliran air mata, tetes demi tetes membanjiri pipi tirusku. Perih dan sakit jika teringat masa itu. Masa yang dulu pernah buatku tersenyum. Bukan masa yang seperti ini, yang selalu buatku menangis dan merindu.
Embusan angin senja ini, tak mau lagi bersahabat denganku, berulang kali kutepis dingin hati ini, tapi masih saja menggerogotiku. Nyeri sekali rasanya. Menghadapi dunia tanpa hadirmu, Ve.
Bayu, ke mana pun kau pergi tolong sampaikan rasa ini pada purnamaku yang hilang. Aku tertahan gelap dalam ruang yang pengap. Aku mati dalam ragaku. Nirwana, rengkuhlah jemari lentiknya itu. Biarlah aku yang harus di sini, menanti dirinya hingga malaikat Jibril mengajakku pulang.
Ve kini bayang-bayangmu itu tersimpan rapi dalam rindu yang membara. Gerhana itu tak kunjung hilang. Masih bertahan tutupi purnama cintaku yang semu. Kujelaskan lagi, aku selalu menunggu kehadiranmu dalam mimpiku. Entah berapa banyak aku berharap untuk memimpikan dirimu. Yang jelas aku tak lelah untuk menantimu kembali.

from drjuanda.com


PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI