Google+ Followers

Selasa, 31 Maret 2015

The Secret of Happy Children #3 Menyembuhkan dengan Mendengarkan

Sebelumnya di sini

-Bagaimana cara membantu anak-anak menghadapi dunia yang tak ramah?-

Kadang kala dunia ini bisa menjadi tempat yang tidak adil dan menyusahkan bagi anak-anak dan sebesar apa pun keinginan kita, para orang tua tidak mampu menghilangkan segala hambatan yang ada di situ. Dalam kenyataannya kita memang tidak perlu menghilangkan hambatan tersebut, sebab justru dengan dihadapkan pada orang-orang dan situasi yang sulitlah anak-anak kita menjadi matang serta berkembang menjadi orang-orang dewasa yang mandiri serta dapat diandalkan.

Apa saja yang sebaiknya tidak kita katakan kepada anak-anak ketika mereka sedang dirundung kesulitan? Omongan-omongan yang hanya akan membentuk dinding tebal di antara Anda dan anak-anak Anda. Cara paling positif untuk membantu anak-anak menghadapi hidup ini adalah "mendengarkan aktif".

Ada tiga jenis reaksi yang biasanya ditunjukkan oleh orang tua, yang memunculkan penghalang.
dalam buku The Secret of Happy Children, Steve Biddulph membaginya dengan ilustrasi sebagai berikut ...

Patronising/merasa paling tahu yang benar
"Apa kabarmu hari ini?"
"Jeblok!"
"Oh, kasihan sekali kamu ini. Sini dan ceritakan pada Ibu apa yang terjadi."
"Kelas kami mendapat guru matematika baru. Dan aku tidak mengerti penjelasannya."
"Wah, berabe juga ya. Kamu mau Ibu bantu mengerjakan tugas matematikamu sore nanti?"
"Aku tidak membawanya pulang."
"Atau besok Ibu menelepon ke sekolah dan membicarakan masalah ini dengan kepala sekolah?"
"Gimana ya; aku tak tahulah ..."
"Menurut Ibu, yang lain baik adalah masuk langsung ke inti persoalannya sebelum jadi semakin sulit, begitu bukan?"
"Gimana ya, eem ..."
"Ibu ngaak mau pelajaranmu jadi berantakan."
"He-eh."

Lecturing/menggurui




"Apa kabarmu hari ini?"
"Payah!"
"Kamu memang selalu mengeluh. Ibu sendiri kepengen bisa menghabiskan waktu seharian untuk belajar, punya waktu yang menyenangkan dan santai."
"Aku dan teman-teman sekelasku sedang jengkel. Kami mendapat guru matematika baru yang menyebalkan ..."
"Hei, jangan omong seperti itu tentang gurumu. Kalau kamu mau lebih memperhatikan pelajaran pastilah tak akan ada masalah, Nak. Kamu memang selalu ingins emuanya mudah didapat."
"Emmm ...."

Distracting/mengalihkan

"Apa kabarmu hari ini?"
"Payah!"
"Ah, jangan begitu, tidak payah-payah betul, kan? Mau combro?"
"Terima kasih. Aku agak khawatir soal matematika ..."
"Ya, gimana ya. YAng jelas kamu bukan Einstein, Ibu dan ayahmu juga bukan Einstein. Sana, nonton TV saja, tak usahlah terlalu dipikirkan soal matematika itu ..."
"Eh-heh ..."

Nah gaya bereaksi mana yang biasa Anda tunjukkan? Di tiga gaya di atas orang tualah yang lebih banyak bicara, bukannya anak. Pembicaraan berlangsung singkat saja. Anak tida bisa sampai tuntas membicarakan persoalan yang sebetulnya sedang ia hadapi.

Sekarang coba perhatikan sebuah pendekatan yang lain ...

Mendengarkan aktif

"Apa kabarmu hari ini?"
"Jeblok!"
"Kamu kelihatan kesal sekali. Ada masalah apa?"
"Huh, kelas kami mendapat duru matematika baru. Caranya menjelaskan pelajaran cepat sekali."
"Kamu khawatir tak mampu mengikuti pelajarannya?"
"Ya, aku memintanya untuk menjelaskan lagi sebagian dari apa yang ia terangkan, dan ia cuma menjawab seharusnya aku lebih memperhatikannya lagi."
"Oo. Bagaimana perasaanmu terhadap jawaban gurumu itu?"
"Sebal--semua teman sekelas menoleh ke arahku... tapi sebetulnya mereka pun tidak mengerti, sama seperti aku!"
"JAdi kamu sebal karena jadi punya masalah gara-gara kau satu-satunya murid yagn mengajukan pertanyaan?"
"Ya, aku tak suka jadi pusat perhatian seperti itu."
"Jadi apa yang ignin kamu lakukan?"
"Tak tahulah, mungkin aku akan bertanya lagi kepada guru itu saat pelajaran selesai."
"MEnurutmu itu akan lebih baik?"
"Ya, karena aku takkan merasa malu. Lagipula, menurutku guru itu pun sebetulnya gelisan juga. Mungkin itulah sebabnya ia menerangkan dengan buru-buru."
"Kamu bisa memahami itu kalau kamu berada di posisinya?"
"Iyalah, menurutku ia gelisah juga menghadapi murid-murid baru."
"Tak heranlah, mengajar anak-anak pintar sepertimu, mana ada guru yang tak gelisah!"
"Ya ..."

Diperlukan latihan agar kita memiliki kecakapan dalam mendengarkan aktif. BAnyak orang tua telah membuktikan bahwa mendengarkan aktif sangat membantu mereka. Dengan mendengarkan aktif, para orang tua bisa membantu anak-anak mereka dengan menyerahkan tanggung jawab dan kepuasan memecahkan persoalan kepada anak-anak itu sendiri. Kuncinya adalah bertanya kepada diri sendiri, "Bisakah anakku dalam jangka panjang memperoleh manfaat dengan memecahkan masalahnya sendiri?"

Pengen lebih banyak tahu tentang bagaimana cara membantu anak-anak menghadapi dunia yang tak ramah? Baca bukunya biar lebih lega :D

bersambung ....
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI