Google+ Followers

Senin, 30 Maret 2015

The Secret of Happy Children #1

Ada yang pernah membaca buku itu?
Kali ini saya akan mengulas poin-poin penting yang ditulis Steve Biddulph di buku terbitan Gramedia itu.

1. Yang tertanam dalam benak anak.
    -Setiap hari Anda menghipnotis anak-anak Anda-

Ungkapan yang dilontarkan begitu saja oleh orang tua menjadi semacam pola pembentukan yang dialami oleh banyak anak dalam proses pertumbuhan mereka.
Anak-anak, dengan kemampuan mereka ang luar biasa serta mudah mencerna banyak hal, biasanya akan berkembang menjadi seperti yang kita "harapkan".
Kebanyakan pola pembentukan itu cenderung negatif dan terjadi secara halus atau lebih tak kentara.
misalnya ...
Saat anak-anak sedang bermain sambil manjat pohon, si ibu berteriak, "Hei, nanti jatuh! Awas! Nanti kamu terpeleset!"

Atau seorang ayah habis berantem sama istrinya sambil setengah mabuk ia mengomel pada anaknya.
"Begitulah, Nak, jangan pernah percaya perempuan. Mereka cuma mau enaknya saja." Si anak lelakinya yang masih kecil mengangguk dan berkata, "Ya, Ayah."

Atau ungkapan-ungkapan seperti di bawah ini ...
"Ya ampun, malas betul kamu!"
"Dasar geblek, hentikan itu!"
"Bodoh!"

dan tentunya masih panjang lagi daftar yang tanpa kita sadari pernah atau bahkan sering terlontar.

Omongan semacam itu tidak sekadar membuat seorang anak merasa dirinya buruk hanya oada saat itu saja. Cemoohan, atau berbagai ungkapan yang merendahkan orang, bahkan punya pengaruh hipnotis dan bekerja secara tidak disadari--seperti benih yang tertanam di dalam benak, benih yang kelak akan tumbuh dan membentuk gambaran diri seorang anak yang akhirnya akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Lalu bagaimana kita menghipnotis anak-anak?
Sejak lama hipnotis dan sugesti sangat menarik minat manusia.
Kenyataannya hipnotis dan sugesti diterima baik secara ilmiah. Sudah banyak orang menyaksikan bentuk nyata dari dua teknik tersebut. Misalnya sebagai pertunjukan dipanggung, atau sebagai cara untuk menghentikan kebiasaan merokok, atau dalam bentuk kaset reakamn sebagai panduan cara hidup yang rileks.



Yang tidak kita sadari adalah kenyataan bahwa hipnotis berlangsung sehari-hari. Setiap kali kita menggunakan serta melontarkan pola-pola bicara tertentu, sebetulnya kita masuk ke dalam dunia bawah sadar anak-anak kita sehingga membentuk mereka, sekalipun kita sama sekali tidak bermaksud demikian.

Orang tua pada umumnya--tanpa menyadarinya sedikit pun-- menanamkan pesan ke dalam benak anak-anak mereka, dan semua pesan yang tertanam itu akan hidup dan bergema sepanjang hidup kecuali ada perlawanan atau tangkisan yang hebat terhadap pesan-pesan tersebut.

Benak seorang anak penuh dengan pertanyaan. Di antara semua pertanyaan itu, yang paling penting adalah: ""Siapa aku?", "Orang seperti apakah aku ini?", "Aku cocok dengan siapa?".

Pertanyaan yang mengarah pada definisi-diri atau pembentukan diri atau identitas.



Tak peduli apakah isi pesan yang tersampaikan adalah "Kamu anak malas" atau "Kamu anak hebat", pernyataan semacam itu yang disampaikan orang "besar" punya arti penting bagi si anak akan tertaman dalam-dalam dan kuat di dalam alam bawah sadar anak.

Maka tak jarang kita mendengar orang dewasa yang mengalami krisis dalam hidupnya, mengucapkan kata-kata yang pernah mereka terima saat mereka masih anak-anak: "Aku memang orang tak berguna, begitulah aku".




YANG JANGAN DILAKUKAN
Bila hendak menerapkan disiplin, jagan guankan kata-kata yang menekan atau menghina kalau satu perintah yang biasa saja sudah cukup untuk itu.
==>"Kembalikan itu, dasar kampret kecil mau menang sendiri!"

Juga jagan gunakan kata-kata yagn menekan atau menghina sekalipun itu dilontarkan dengan baik dan dengan maksud baik pula
==>"Hei, pentol korek api! Ayo makan!"

Jangan membanding-bandingkan!
==>"Kamu brengsek seperti ayahmu. Kenapa sih kamu tidak bisa bersikap manis dan baik seperti adikmu itu?"

Memberi contoh.
==>"Bisa diam gak sih kamu ini? Kamu pukul dia lagi, ibu BUNUH kamu!"


Jangan pernah bicarakan kepada orang lain tentang kesalahan anak kalau ia bisa mendengarkannya.
==>"Dia pemalus ekali. Nggak tahujadi apa dia nantinya!"


Jangan tunjukkan rasa bangga yang nantinya jsutru akan merugikan.

==>"Dia betul-betuk menghajarnya. Benar-benar Tommy kecil dia itu."

Jangan gunakan rasa bersalah untuk mengatur anak-anak.
==>"Minta ampun, kamu bikin Ibu capai sekali! Ibu benar-benar gak tahan lagi, sampai rasanya ingin mati saja. Tuh lihat akibat perbuatanmu terhadap ibumu!"


Pernyataan-pernyataan berikut itu seharusnya dibuang saja selamanya dari gaya pengasuhan Anda sebagai orangtua, sebab semua pihak akan merasa lebih baik jadinya.




Bersambung ...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI