Google+ Followers

Minggu, 29 Maret 2015

Penulis Macam Apakah Aku?

Sejak semalam aku berpikir. Ini semua gara-gara aku gagal mengambil hati seorang tutor yang membimbingku menulis sebuah novel.

"Masih jauh dari ekspektasiku, Rin! Bacaan terakhirmu apa?"

Kau tahu, saat itu aku menggigit kabel mouse. Baru Bab 1, sodara-sodara. Hampir satu bulan. Ini luar biasa merosot. Beruntungnya aku punya alasan jelas. Menulis untuk novel yang diminta hanya sepersekian waktu dalam 24 jam. Berhubung aku sibuk mengurus naskah yang antre di meja redaksi LovRinz.

"Bacaan terakhirku, Cantik itu Luka."

Hening, tutor yang galak tapi baik itu tak merespon. Tapi ...

"Coba cari buku ini ... (sensor-Red)"

Aku manggut-manggut. Dijelaskan, kenapa aku harus membaca buku itu. Aku harus mendapatkannya.

Kembali ke pikiranku semalam. Penulis macam apa aku ini? Baru mau menulis saat dilecut? Atau memang menulis itu napasku, seperti yang dulu kugaung-gaungkan?

Pagi ini aku membuka beberapa file berisi catatan penyemangat diri--catatan diri sendiri maksudku. Betapa dulu mudah sekali menuangkan tulisan apa saja. Mengapa saat ini seret?

"Kamu terlalu banyak baca naskah yang biasa." Begitu kata seorang sahabat.

Benarkah begitu?

"Coba ambil waktu setiap hari membaca yang berbobot. Sebab itu mampu merangsang otakmu untuk menulis lebih bagus. otak juga butuh nutrisi aksara loh." Sahabatku itu benar-benar bisa aja ya.

Ya, baiklah ... sepertinya memang harus dilecut lagi. Adakalanya kita butuh seseorang/sesuatu untuk menghidupkan kembali gairah menulis dalam diri.

Waktu untuk setor novel tinggal dua bulan. Sanggupkah?

#Sepertinya aku harus cuti dari redaksi LovRinz.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI