Google+ Followers

Selasa, 17 Maret 2015

Meniti Pagi

Aku berjalan seperti biasa. Melewati pagi bersama hiruk pikuknya kabut khas desa di kaki gununh. Diikuti suara anak tetangga yang rewel, menolak dimandikan. Lalu menyapa senyum bapak-bapak yang tengah berangkat kerja. Ada juga yang sedang asyik menyiram bunga, semringah. Mbak-mbak yang tengah membuka toko baju. Hingga daun jambu yang melambai padaku.

Keluar dari jalan desa yang bertanah, aku menginjak aspal yang mulai mempersiapkan diri. Diterpa panas hujan dengan tabah setelah beristirahat malam tadi. Terkadang aku menduga, cekungan-cekungan air di badannya yang berongga bukanlah sebab hujan atau embun. Melainkan tangisannya, melihat bumi yang kian tua namun manusia malah semakin durjana. Jam tidurnya pun kian larut. Mengganggu istirahatnya.

Tengok saja, jaman dulu sebelum ada lampu. Ketika azan magrib berkumandang, hiruk pikuk sudah lengang. Anak kecil bersiap ke peraduan. Sekarang? Masih berkeliaran di sana sini. Atau tiduran sembari menonton telvisi. Sedikit sekali yang menyangklong tas, pergi ke surau dan mengaji.

Sampai di tengah jalan, kulihat awan mulai berarak. Memamerkan keindahan. Sayang, hanya segelintir yang memandang. Agaknya sudah mulai bosan, atau...  terlampau sibuk untuk sejenak mendongak. Lalu bersyukur karena mentari masih di timur.

Mendekati tempat kerja, aku melewati lapangan tua yang dikelilingi rumpun bambu penari. Terkadang berderik di siang hari. Aku ingat, sewaktu kecil tempat ini begitu seram. Tapi sekarang sudah lebih nyaman. Mungkin karena setan penunggunya telah pergi. Ia resah karena kelakuannya banyak diplagiasi manusia. Untung saja ia tak meminta royalti.

Aku keluar dari areal lapangan. Melintasi jembatan di atas sungai. Ia sudah berganti beton. Sebelumnya hanya susunan bambu. Namun bukannya bersyukur, manusia kian angkuh. Lihat saja, pembatas di pinggirnya telah tandas. Kiranya tangan manusia sungguh sama berbakatnya dalam hal membuat dan merusak.

Keluar dari jembatan, aku sampai di pemukiman padat penduduk. Baju-baju berjemur di kawat-kawat yang tertempel di tembok. Andai mereka bertulang, mungkin susah dikenakan. Karena tulangnya kuat, sebab hampir dua hari sekali tersinari mentari pagi dengan kandungan vitamin D-nya.

Setelah melalui jalan tikus yang berkelok-kelok seperti ucapan  munafik. Aku sampai di jalan besar. Dari jauh terlihat beberapa pedagang menggelar lapak dengan berbagai lagak. Bocah-bocah kecil mengerubungi. Menjajakan uang saku yang terkadang harus merengek terlebih dahulu, agar diberi lebih. Tanpa mereka tahu, bagaimana susahnya orang tua memeras tenaga mencarinya. Sampai-sampai salat disingkirkan hingga ke waktu paling ujung. Atau bahkan ditinggalkan. Ah entah.

Aku melangkah memasuki gerbang sambil menunduk. Memastikan kaki kananku yang terlebih dahulu masuk. Sembari mengucap basmalah. Semoga hari ini penuh hikmah dan barakah.

Aamiin.
AM. Hafs
Singosari, 17/03/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI