Google+ Followers

Senin, 30 Maret 2015

Memandang Jendela Kehidupan

Keriuhan anak sekolah menjadi musik pengiring kehidupan kerjaku. Tak ada kata bising, ketika telah mampu menikmatinya. Begitu pula dengan masalah yang hadir. Tak ada kata berat jika bisa menyikapinya. Seperti judul lagu Jason Mras, "The World As I See It."
Aku bersyukur ditakdirkan menggeluti dunia kepenulisan. Melalui aksara-aksara yang tercoret, aku membebaskan pikiran dalam pantauan tanggung jawab, menerapi jiwa, dan meluaskan pikiran.
Pernah kubaca sebuah tulisan yang melarang untuk menulis ketika marah. Alasannya emosi dalam tulisan jadi tidak terkontrol. Tapi menurutku sebaliknya. Tuliskan! Tulis sampai emosi mereda. Tapi jangan dipublikasikan. Setelah tulisan itu rampung, biarkan mengendap bersama emosi yang ada.
Di lain waktu atau lain hari, bacalah kembali tulisan tadi. Maka dari sana, hati akan menemukan hal-hal salah yang sebelumnya teranggap benar.
Ahad kemarin, aku pulang ke rumah. Alhamdulillah, kakak sepupu tengah berkunjung. Dari luar terdengar sebuah obrolan yang nampak seru.
Setelah uluk salam, aku mulai duduk, mengikuti diskusi dan mencermati.
Kakakku yang seorang single parent bercerita. Suatu hari ketika kakakku yang bekerja sambilan sebagai penjual jamu tengah melayani pembeli, seorang ustadzah tiba-tiba mendatanginya dan berkata, "Ra, kamu itu haram berjualan reng usuk. -bambu yang telah dipotong menjadi seukuran tongkat panjang. Biasa digunakan untuk alas genting rumah- Soalnya, yang beli bukan muhri. Lalu, pas ngangkat dari tempat rendaman, baju kamu basah dan lekuk tubuhmu tercetak."
Karena posisinya di hadapan orang banyak, Kakakku bukannya sadar, malah merasa dipermalukan. Tak ayal, ia pun membalas dengan frontal dengan mengatakan kalau dia gak kerja apa si ustadzah yang mau membiayai kehidupannya. Lagian yang namanya mengangkat bambu dari tempat yang basah ya pasti basah. Toh niatnya gak buat ditampangkan. Pakaiannya juga berlengan panjang dan berhijab. Si Ustadzah langsung meninggalkan tempat tanpa bisa menjawab.
Ketika hendak menanggapi, aku terlebih dahulu memisahkannya sebagai dua masalah yang harus disikapi berbeda.
Setelah mengambil napas panjang. Aku mulai menanggapi, "Mbak, di sini ada dua masalah yang perlu dipisah. Yang pertama mengenai ketidak bolehan berinteraksi dengan bukan muhrim itu kalau interaksinya berbuat yang maksiat. Tapi kalau ada keperluan yang dibenarkan syariat, ya gak papa."
Yang kedua, apa yang disampaikan ustadzah tentang keharaman tubuh yang tercetak, itu benar. Tapi, cara penyampaian yang dilakukan di depan banyak orang, itu salah. Seharusnya ustadzah tadi bertandang ke rumah, Mbak dan berbicara empat mata."
"Lha yang namanya masuk ke air, baju apapun ya pasti tetep tercetak! Emang punya caranya biar gak tercetak, gimana?" potongnya dengan sedikit emosi.
"Sebentar, begini. Aku belum punya solusi. Tapi sementara ini hanya saran. Mbak Mira jangan menganggap hal tersebut benar, dan harus diikuti usaha untuk menemukan solusi. Sembari ikhtiar, di tiap selesai salat Mbak memohon ampun kepada Allah. Kata-katanya kira-kira seperti ini, Ya Allah, ampunilah hamba atas kenampakan tubuh tersebut. Engkau tahu hal tersebut tidak hamba lakukan dengan sengaja. Dan hamba memohon, berikanlah jalan terbaik untuk mengatasinya. Dengan begitu, harapannya kekhilafan Mbak bisa dimaafkan oleh Allah SWT."
Dia tampak manggut-manggut. Bersamaan dengan itu, Pakdhe mengetuk pintu. Menjemput Mbak Mira untuk pulang. Tak lupa sebelum berpisah, kami saling bermaafan dan berterima kasih.
AM. Hafs
Malang, 30 Mar 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI