Google+ Followers

Senin, 30 Maret 2015

Manzilah Manzilah






Antalogi Puisi

Judul Buku : Manzilah-Manzilah
Penulis : Ida Fitri, Nawaites Pesa, Rinidiyanti Ayahbi
Penulis Tamu: Ananto Sidohutomo, Dimas Joko, Sri Shasmita, Bhak Ti, Nasir Ali
Jumlah halaman: x +144 halaman; 14x21 cm
Terbitan : LovRinz Publishing
ISBN : 978-602-72035-5-6
Harga : Rp. 35.000,-

====

" Saya sudah membacanya. Komentar saya tentang puisi-puisi (tiga penyair) di dalam buku ini cukup menarik, jarang sekali saya membaca puisi lebih dari lima judul secara runtun. Tapi di buku antologi ini saya berhasil menuntaskan sampai pada halaman terakhir. Harapan saya semoga buku ini tidak hanya sampai pada pembaca (penikmat sastra/puisi) saja. Tapi bisa dibaca pelajar sebagai pembelajaran di sekolah sekolah yang dari dulu kalah selalu siswa diperkenalkan puisi puisi yang itu itu saja "
Bambang Sugianto, Sutradara, Deklamator, Pemuisi, Pembuat film puisi.

**

Testimoni Sajak-Sajak Indonesia.

1. Ida Fitri.

Gaya Ida Fitri memang sejak awal, sering memanfaatkan gaya bahasa yang kuat seperti perlambangan-perlambangan dan alur cerita yang menjurus kepada tema sajak-sajaknya. Perlakuan sebegini sangat bagus demi memelihara “kehidupan” bercerita lewat puisi kepada audiens. Kita tidak berasa gusar menikmati isi karyanya kerana walau apapun permainan bahasanya, ia tetap menjurus kepada persoalan-persoalannya.

Warkat Pada Puan Ayu , isinya berbau patriotisme yang digarab dengan lambang-lambang sementara lewat puisi Tsunami Itu dan Wewarna Asa lebih kepada balada. Melalui puisi Bayar Hutangmu Putri ternyata sarat dengan perlambangan menyeluruh di samping kaya dengan permainan gaya bahasa yang terdiri daripada simili ( seperti angin) , personifikasi ( punggung bukit, menyibak dahan-dahan, lambaian pelepah kelapa) , unsur dialog dan metafora ( baris terakhir).

Sukacita ditegaskan bahawa, seseorang pengarang yang “tahu” melanggamkan gaya bahasanya lewat puisinya dengan bagus, akan membolehkan audiens menikmati puisi-puisinya dengan senang dan “berfikir.” Rata-rata puisi-puisi Ida Fitri segar untuk dinikmati.

2. Nawaites Pisa.
Ada unsur Repitasi lewat sajak Ini Tentangmu yang bertujuan memberi penegasan terhadap sesuatu isu. Manakala tema fenomena sosial ditemui melalui sajak Aku melihat Dan Aku Pulang. Sajak mirip-mirip sajak abstrak dan perlu dibaca berulang-ulang kali untuk mendalami maksud yang tersirat seperti dalam sajak Ini Tentangmu dan segores Khilaf. Sementara lewat puisi Kapan Waktuku, penulis lebih bersahaja mengungkapkan temanya sambil diperkayakan dengan permainan bahasa yang lancar dan enak dinikmati.
Apa yang jelas di sini ialah pengarang dengan begitu teliti memilih kata-kata dalam membentuk bait-bait puisi yang indah untuk dipersembahkan kepada audiensnya. Dan itu tidak datang dengan semudahnya. Pasti pengarang sudah banyak membaca atau membuat rujukan untuk memperkayakan kosa kata did alam karya beliau. Dan pasti yang bagusnya tentang karya-karya beliau ialah sajak-sajaknya sedap dideklamasikan.

3. Rinidiyanti Ayahbi.
Kegemaran pengarang ialah bermain dengan kalimat-kalimat pendek. Kebanyakan sajak beliau begitu sifatnya. Unsur ini adakalanya bagus, adakalanya menimbulkan tanda tanya di kalangan pembacanya. Lihat sahaja sajak Pelangi Hilang. Yah, kadangkala kita harus mengakui juga dengan pendirian seseorang itu dalam menggarab puisi. berlainan pula di dalam sajak Berang Dalam Diam di mana kalimat-kalimatnya panjang-panjang dan banyak makna tersirat. Ada waktunya penulis memasukkan unsur perlambangan yang besar di dalam bercerita lewat sajak-sajaknya seperti di dalam Puisi Cintaku Sederhana.
Pengarang juga gemar berbalada seperti yang diungkapkan lewat sajak-sajak Di Bawah Payung Kenangan dan sajak Hingga Kereta Terakhir, serta unsur Religi , seperti di dalam sajak Semesta Penuh Tasbih.
Ternyata pengarang boleh melontarkan ide-ide menarik melalui sajak-sajak yang berbagai tema. Dan ada daripadanya yang senang untuk dideklamasikan.

Nasir Ali, Ketua perhimpunan penulis perlis dan penerima anugerah : PJB – 1996 Al-Marhum DYMM Tuanku Syed Putra, Raja Perlis.

**
Sebuah Untaian Pengantar
----------------------

“Bagaimana caramu menulis?”
Pertanyaan yang paling sering hinggap di telinga. Tentu saja. Tak sedikit orang bertanya. Mengingat saya adalah seorang ibu rumah tangga yang punya dua balita dengan segudang aktivitas dan tetek bengek urusan rumah.
Saya menulis di sela-sela kerjaan lain. Menulis di benak terlebih dahulu. Dan ketika santai seperti siang ini, saat anak-anak tidur, baru mulai otak-atik hape atau lepie.
“Gimana ya, saya hanya bisa menulis saat galau. Tapi kalau lagi riang malah gak bisa nulis.”
Jujur saja, saya menulis dalam kondisi hati apa pun. Saat galau, saat senang. Tinggal bagaimana menenangkan hati agar bisa menulis dengan emosi yang tepat. Misal gundah, tak ingin membabi buta. Tulisan gundah gulana bisa apik bila kita menuliskannya dengan emosi yang baik. Dulu tulisan saya emosional tapi gak jelas muaranya. Kini walau tulisan yang saya ciptakan penuh emosi, jelas akhirnya bagaimana. Ada sebuah pesan dan moral yang bisa diambil.
So, walau marah sekali pun, dengan ketenangan hati tulisan bisa lebih elegan dan manis. Walau di dalamnya tidak menggunakan bahasa langit atau nyastra.
Itulah yang saya temukan di Manzilah-manzilah. Sebuah kumpulan puisi yang terlahir dari tiga penyair--kalaupun mereka tak ingin disebut begitu, tetaplah saya sebut penyair-- di dalam buku ini benar-benar terlihat jelas ketenangan hati saat mereka menuliskan apa yang ingin mereka sampaikan lewat bait-bait puisinya.
Bila saja saya tak mengenal keseharian mereka, terutama seorang Ida Fitri yang amat ringan dalam bertutur, saya ragu puisi-puisi yang namanya tertulis di bawah judul adalah buat karya indahnya. Siapa yang menyangka seorang yang ceplas-ceplos dalam berkata mampu merangkai bait-bait yang dalam--semula saya pikir ia hanya berbakat di cerpen. Ida Fitri mampu menyihir saya untuk mengalahkannya kelak di jalur puisi--meskipun saya ragu akan melewatinya satu hari nanti.
Lain halnya dengan Ida Fitri, umy Rinidiyanti Ayahbi, dalam namanya terpancar sebuah kedalaman hati yang tenang bagai di pinggir danau dan pepohonan hijau yang menyegarkan. Dan keindahan dirinya lahir dari syair-syair memukau. Semacam refleksi diri seorang hamba. Berbagai kontemplasi hati bisa didapat dengan membaca untaian kata yang diciptanya. Selalu saja aku menemukan keteduhan dari balik puisinya.
Nawaites Pesa. Sosok lelaki sederhana yang dapat kukenal dari barisan kata-katanya. Tidak muluk-muluk. Hanya sebuah kerinduan yang tak berkesudahan. Barangkali pada nasib, atau takdir. Yang kutangkap, ia tak ingin hanya segini. Ia ingin merengguk lebih banyak bentuk kebahagiaan. Semua terangkum dalam puisi-puisinya.
Selain tiga penyair istimewa yang saya sebut, juga ada sastrawan lain yang ikut tergabung di sini. Terima kasih Bpk. Ananto Sidohutomo untuk rangkaian indah bagi perenungan kami. Juga kangmas Dimas Joko yang menyempurnakan Manzilah-manzilah dengan syairnya. Mbak Sri Shasmita dengan kesederhanaannya yang memukau, terim kasih telah mengajarkan kami makna sebuah tulisan. Mas BhakTi yang berhasil memikat hati Manzilah-manzilah dengan desain sampul buku ini dan juga beberapa rangkaian yang tercipta di dalamnya, terima kasih. Tak lupa pula sahabat nun jauh di sana, Bpk. Nasir Ali dari negeri Perlis. Semoga persaudaraan yang tercipta lewat aksara terus terikat erat penuh nuansa bahagia.
Akhir kata, saya hanya mampu berucap bangga, sebab Manzilah-manzilah terlahir lewat LovRinz Publishing. Sebuah kumpulan puisi yang layak dinikmati siapa saja.
Selamat menikmati.
~Rina Rinz, bukan seorang pemuisi, apalagi penyair~
LovRinz Publishing

===

Pemesanan dapat dilakukan melalui akun penulisnya, atau tim LovRinz Publishing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI